📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGARUH PERSEPSI RISIKO PERUBAHAN IKLIM DAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP ADOPSI STRATEGI ADAPTASI WATER, SANITATION, AND HYGIENE (WASH) PADA RUMAH TANGGA DI KELURAHAN KEPUTIH, KOTA SURABAYA
Perubahan iklim telah menjadi ancaman signifikan terhadap sektor Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), di Kelurahan Keputih. Gangguan hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan secara langsung merusak infrastruktur WASH rumah tangga, meningkatkan risiko penyakit berbasis air, dan memperburuk masalah kesehatan Masyarakat kota Surabaya, terutama di daerah padat penduduk dan rumah berdekatan. Adaptasi WASH yang tangguh (seperti pembangunan sanitasi anti-banjir dan manajemen air mandiri) sangat krusial, namun keberhasilannya bergantung pada inisiatif dan investasi dari rumah tangga itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara Persepsi Risiko Perubahan Iklim rumah tangga dengan Adopsi Strategi Adaptasi WASH di Kelurahan Keputih. Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kuantitatif melalui survei cross-sectional terhadap sampel rumah tangga yang berisiko. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur persepsi risiko, sosial ekonomi dan tingkat adopsi adaptasi WASH. Analisis data menggunakan Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan Persepsi Risiko berpengaruh positif dengan koefisien 0,169 dan Sosial-Ekonomi juga berpengaruh positif dengan koefisien 0,332, sehingga semakin tinggi persepsi risiko dan sosial-ekonomi rumah tangga, maka semakin tinggi pula kecenderungan rumah tangga dalam melakukan adopsi adaptasi WASH. Nilai R-square sebesar 0,176 menunjukkan bahwa Persepsi Risiko dan Sosial-Ekonomi mampu menjelaskan variasi Adopsi Adaptasi sebesar 17,6%. Dengan demikian penguatan adaptasi WASH perlu didukung oleh literasi risiko, akses informasi, dukungan sosial, dan peningkatan kapasitas sosial-ekonomi rumah tangga.
STUDI AB INITIO SIFAT ELEKTRONIK MATERIAL HETEROBILAYER MOS2 – MOSE2 DENGANKETIDAKMURNIAN KARBON
Penggabungan material transition metal dichalcogenides (TMDs) dua dimensi (2D) menjadi heterobilayer membuka peluang munculnya sifat elektronik yang lebih unggul dibandingkan lapisan tunggalnya. Namun, residu karbon (C) seringkali ditemukan pada material tersebut saat proses sintesisnya. Keberadaan residu karbon ini berpotensi mengubah karakteristik elektronik material TMDs. Penelitian ab initio pun dilakukan untuk menganalisis pengaruh ketidakmurnian karbon terhadap sifat elektronik material TMDs heterobilayer. Heterobilayer MoS2–MoSe2 memiliki rapat keadaan dan struktur pita energi yang unik bergantung pada konfigurasi susunan strukturnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa heterobilayer MoS2–MoSe2 dengan konfigurasi AB’ memiliki energi interaksi paling stabil dengan celah pita langsung sebesar 0,75 eV serta band alignment tipeII, dimana pita valensi maksimum dan pita konduksi minimum berasal dari lapisan yang berbeda. Penambahan atom karbon sebagai adatom mempertahankan karakter celah pita langsung sebesar 0,22 eV, sedangkan karbon sebagai dopan substitusi menghasilkan celah pita tidak langsung sebesar 0,36 eV. Adanya ketidakmurnian karbon menurunkan celah pita energi heterobilayer MoS?–MoSe?, sedangkan band alignment tetap tipe-II dan hanya berubah menjadi tipe-I pada konfigurasi tertentu.
STUDI SISTEM WAYFINDING KAMPOENG HERITAGE KAJOETANGAN
Kampoeng Heritage Kajoetangan merupakan destinasi wisata budaya berbasis heritage di Kota Malang yang memiliki tata ruang permukiman padat, jaringan dan gang bercabang. Karakteristik fisik tersebut menimbulkan tantangan navigasi yang signifikan bagi pengunjung, di mana disorientasi spasial kerap terjadi akibat keterbatasan sistem wayfinding eksisting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sistem wayfinding eksisting di Kampoeng Heritage Kajoetangan serta mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung orientasi dan navigasi pengunjung. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain exploratory sequential. Pada tahap kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur terhadap warga lokal dan pengunjung, yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan grounded theory melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Pada tahap kuantitatif, data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 114 responden dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk mengukur pengaruh variabel aksesibilitas, tata letak kawasan, keberadaan penanda, media navigasi, dan aspek grafis visual terhadap pengalaman navigasi pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem wayfinding eksisting telah menjalankan fungsi navigasi dasar, namun belum efektif secara menyeluruh. Elemen penanda arah (signage) memiliki keterbatasan dalam hal keterbacaan, konsistensi visual, distribusi yang belum merata, dan minimnya informasi jarak serta penanda posisi. Konflik sirkulasi antara wisatawan dan aktivitas harian warga turut memperburuk pengalaman navigasi. Temuan kuantitatif mengonfirmasi bahwa variabel tata letak kawasan, media navigasi, dan aspek grafis secara signifikan memengaruhi tingkat navigasi pengunjung Penelitian ini menghasilkan proposisi teoritik bahwa disfungsi wayfinding kawasan heritage bersifat sistemik dan sosio-spasial, bukan semata teknis. Intervensi desain yang efektif harus mengintegrasikan elemen formal dan informal, mempertimbangkan beban sosial yang ditanggung warga lokal, serta memprioritaskan pengalaman kunjungan pertama sebagai tolok ukur utama keberhasilan sistem navigasi.
OPTIMASI TATA LETAK VISCOELASTIC DAMPER (VED) PADA STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG DENGAN KETIDAKBERATURAN TORSI AKIBAT SETBACK MENGGUNAKAN GAUSSIAN PROCESS REGRESSION (GPR)
Penerapan viscoelastic damper (VED) terbukti efektif mereduksi respons seismik struktur. Namun, kompleksitas desain tata letak dan tingginya biaya investasi menjadi kendala utama penerapannya di Indonesia. Penelitian ini mengusulkan metode kecerdasan buatan berbasis Gaussian Process Regression (GPR) terintegrasi fungsi akuisisi Expected Hypervolume Improvement (EHVI) untuk menyelesaikan Multi-Objective Optimization Problem pada penempatan VED. Tujuan utama dari optimasi ini adalah meminimalkan biaya struktur dan gaya geser dasar (base shear) secara simultan, dengan tetap memenuhi tiga batasan Engineering Demand Parameter (EDP) yang ketat: simpangan antar tingkat (drift), deformasi VED, dan rasio ketidakberaturan torsi. Studi kasus diaplikasikan pada struktur Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) beton bertulang 12 lantai dengan dua variasi geometri: 1 bay setback (SRPMK 1) dan 2 bay setback (SRPMK 2). Dataset inisial dikumpulkan menggunakan Fast Nonlinear Analysis (FNA). Hasil optimasi membuktikan bahwa metode GPR-EHVI secara akurat mampu memetakan ruang solusi yang feasible. Pada SRPMK 1, teridentifikasi spektrum trade-off yang elastis antara pengeluaran biaya dan reduksi base shear. Hasil analisis juga membuktikan bahwa penumpukan VED secara terpusat dan berlebihan akan memicu over-stiffening, yang justru merugikan kinerja struktur akibat tarikan gaya inersia gempa yang lebih besar. Sebaliknya pada SRPMK 2, kebutuhan VED yang sedari awal sudah banyak mengakibatkan trade-off multi objektif yang tidak signifikan seperti SRPMK 1. Verifikasi NLTHA mengonfirmasi bahwa konfigurasi VED hasil optimasi dengan metode FNA berhasil memenuhi semua syarat evaluasi NLTHA. Secara keseluruhan, kerangka kerja GPR-EHVI menawarkan solusi desain struktur tahan gempa yang mutakhir, presisi, dan komprehensif dalam menyelaraskan efisiensi mekanika dengan kelayakan finansial.
PENGEMBANGAN MODEL HIDRAULIKA UNTUK DAYA RUSAK AIR DENGAN METODE BEDA HINGGA (FDM) SKEMA EKSPLISIT MACCORMACK
Dampak destruktif bencana tsunami menuntut pemodelan hidraulika yang cepat dan akurat untuk mendukung mitigasi bencana. Meskipun Shallow Water Equation (SWE) 2D efektif digunakan, resolusi spasial tinggi yang dibutuhkan menghasilkan beban komputasi yang sangat besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membangun, menguji performa stabilitas, serta menganalisis akurasi hasil simulasi dari model numerik eksplisit SWE 2D berbasis skema MacCormack dalam mensimulasikan berbagai fenomena aliran air yang berdaya rusak. Model dibangun menggunakan Metode Beda Hingga (FDM) eksplisit MacCormack dua tahap (prediktor-korektor), yang ditunjang algoritma ambang batas basah-kering (wet-dry threshold) serta Hansen Filter sebagai peredam osilasi numerik pada gelombang kejut. Evaluasi keandalan model dilakukan melalui skenario dam-break (linear dan sirkular), propagasi gelombang soliter pada kedalaman konstan, run-up gelombang soliter (non-breaking dan breaking) pada pantai kanonik, serta simulasi tsunami run-up pada pulau kerucut (Conical Island) dengan validasi berbasis Root-Mean-Square-Error (RMSE) terhadap data analitik dan eksperimen laboratorium. Hasil simulasi menunjukkan model mampu menangani kasus dam-break dengan RMSE sebesar 0,075 m (linear) dan 0,084 m (sirkular), serta mempertahankan bentuk gelombang soliter pada kedalaman konstan secara stabil (rata-rata RMSE 0,0715%–0,150%). Pada run-up pantai kanonik, hasil simulasi selaras dengan eksperimen (RMSE rata-rata 0,3804 untuk non-breaking dan 2,92 untuk breaking). Namun, pada kasus kompleks 2D Conical Island, model mengalami penjalaran gelombang ~5% lebih cepat (dilatasi waktu) dan kurang presisi dalam mereplikasi tinggi limpasan maksimum di sisi belakang pulau (lee side run-up) serta fenomena surut (rundown drawback), dengan rata-rata RMSE total sebesar 0,0147 m. Deviasi ini diidentifikasi terjadi akibat difusi numerik filter Hansen serta hambatan artifisial dari parameter wet-dry threshold pada lereng curam. Dapat disimpulkan bahwa skema eksplisit MacCormack yang dikembangkan stabil dan mampu menyajikan fenomena hidrodinamika secara kualitatif, tetapi memiliki keterbatasan fisis dalam memprediksi kuantitas limpasan pada topografi 2D yang kompleks. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan skema numerik orde lebih tinggi serta optimasi parameter batas basah-kering.
SISTEM PERINGATAN DINI TERHADAP RISIKO LIKUIDITAS UMKM BERBASIS MACHINE LEARNING DENGAN EVALUASI FITUR TEMPORAL DAN MAKROEKONOMI
Likuiditas merupakan faktor vital bagi keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), namun pemantauan manual sering kali menyebabkan krisis terlambat disadari. Penelitian ini mengembangkan sebuah sistem peringatan dini risiko likuiditas berbasis machine learning yang memanfaatkan data transaksi Point-of-Sale (POS) dengan granularitas mingguan. Data historis dari 256 UMKM diintegrasikan dengan indikator makroekonomi nasional untuk memperkaya konteks prediktif pada tiga horizon waktu (4, 12, dan 24 minggu) melalui dua pendekatan klasifikasi: Track A (tiga kelas: High Risk, Moderate, Safe) dan Track B (biner: High Risk vs Not High Risk). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa performa terbaik bervariasi tergantung pada horizon prediksi. Pada Track A, model XGBoost dengan Focal Loss unggul pada horizon H=4 (Macro F1=0,7115) dan H=24 (Macro F1=0,7052), sedangkan Extra Trees memberikan hasil terbaik pada H=12. Pada Track B, XGBoost mencapai Macro F1 tertinggi pada H=4 (0,8590) dan H=24 (0,7946). Analisis ablasi mengungkap bahwa fitur statistik historis (rolling statistics) menjadi pendorong utama akurasi model. Sebaliknya, indikator makroekonomi tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan akurasi akibat ketidaksesuaian antara granularitas data mingguan dengan transmission lag kebijakan makroekonomi yang cenderung panjang. Sistem ini diimplementasikan sebagai Proof-of-Concept (PoC) berupa dashboard web interaktif. Hasil validasi pengguna menunjukkan bahwa sistem mampu menyajikan peringatan dini yang dapat ditindaklanjuti dan mudah dipahami oleh pemilik UMKM. Meskipun belum merupakan produk komersial final, hasil validasi ini membuktikan kelayakan teknis sistem dan potensi tingginya untuk diadopsi sebagai alat bantu keputusan strategis, dengan catatan memerlukan pengembangan infrastruktur integrasi data secara lebih lanjut.
PENGARUH DIGITAL LEADERSHIP DAN DIGITAL INNOVATION NETWORK TERHADAP PEMANFAATAN GENERATIVE AI SERTA DAMPAKNYA PADA PRODUKTIVITAS DAN PERTUMBUHAN UMKM
Kemunculan Generative Artificial Intelligence (GenAI) menghadirkan peluang strategis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengatasi keterbatasan sumber daya melalui efisiensi proses. Namun, faktor struktural yang mendorong UMKM memanfaatkan kapabilitas GenAI serta dampaknya terhadap kinerja organisasi belum banyak dikaji secara terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana digital leadership dan digital innovation network, sebagai faktor struktural UMKM, memengaruhi perilaku pemanfaatan GenAI, dan bagaimana pemanfaatan tersebut berdampak pada produktivitas serta pertumbuhan. Penelitian menggunakan paradigma Structure-Conduct-Performance (SCP) sebagai kerangka teoretis, dengan digital leadership dan digital innovation network diposisikan sebagai struktur, GenAI capability utilization sebagai perilaku organisasi, serta productivity dan growth sebagai dua dimensi kinerja. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan skala Likert 6 poin terhadap 103 responden pegawai UMKM yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital leadership berpengaruh positif dan signifikan terhadap GenAI capability utilization, sementara digital innovation network tidak terbukti memiliki pengaruh langsung yang signifikan, namun mempengaruhi digital leadership. Pengaruh jejaring bisnis terhadap pemanfaatan GenAI bekerja melalui kepemimpinan digital. Dengan kata lain, paparan pimpinan UMKM pada jejaring bisnis membentuk orientasi dan visi digitalnya, dan justru lewat pimpinan ini pemanfaatan GenAI di organisasi terdorong. Selanjutnya, GenAI capability utilization berpengaruh positif dan signifikan terhadap productivity maupun growth, serta memediasi hubungan digital leadership dengan kedua dimensi kinerja. Temuan ini menempatkan kepemimpinan digital sebagai faktor struktural paling menentukan dalam pemanfaatan GenAI di UMKM, sekaligus sebagai saluran utama yang menerjemahkan paparan jejaring bisnis menjadi pemanfaatan teknologi dan kinerja organisasi.
PENGEMBANGAN BASIS DATA BATAS LAUT NKRI BERBASIS WEB
Basis Data Batas Laut NKRI berbasis web merupakan sistem informasi yang dikembangkan untuk mengintegrasikan data batas laut nasional, baik spasial maupun nonspasial, guna mendukung pengelolaan, pemutakhiran, dan diseminasi informasi batas laut secara efektif. Produk yang dihasilkan meliputi basis data batas laut sebagai sarana pengelolaan data serta platform WebGIS SEA-BANDL sebagai media visualisasi dan akses informasi. Pengembangan sistem mengadopsi model data IHO S-121 Maritime Limits and Boundaries, standar metadata ISO 19115, serta PostgreSQL/PostGIS sebagai sistem manajemen basis data spasial. Platform WebGIS dibangun menggunakan React dan MapLibre GL JS pada sisi frontend, serta Node.js dan Express.js pada sisi backend. Sistem kemudian diimplementasikan pada infrastruktur cloud yang mencakup Google Cloud Run, Cloud SQL, dan Firebase Hosting. Pengujian dilakukan berdasarkan karakteristik kualitas perangkat lunak ISO/IEC 25010 dan aspek kualitas data S121. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa sistem mampu menyediakan pengelolaan data batas laut yang terstandarisasi, terintegrasi, dan mudah diakses. Sistem ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan informasi batas laut nasional serta kebijakan deposit koordinat batas laut kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa sesuai ketentuan UNCLOS 1982.
PENGEMBANGAN BASIS DATA BATAS LAUT NKRI BERBASIS WEB
Basis Data Batas Laut NKRI berbasis web merupakan sistem informasi yang dikembangkan untuk mengintegrasikan data batas laut nasional, baik spasial maupun nonspasial, guna mendukung pengelolaan, pemutakhiran, dan diseminasi informasi batas laut secara efektif. Produk yang dihasilkan meliputi basis data batas laut sebagai sarana pengelolaan data serta platform WebGIS SEA-BANDL sebagai media visualisasi dan akses informasi. Pengembangan sistem mengadopsi model data IHO S-121 Maritime Limits and Boundaries, standar metadata ISO 19115, serta PostgreSQL/PostGIS sebagai sistem manajemen basis data spasial. Platform WebGIS dibangun menggunakan React dan MapLibre GL JS pada sisi frontend, serta Node.js dan Express.js pada sisi backend. Sistem kemudian diimplementasikan pada infrastruktur cloud yang mencakup Google Cloud Run, Cloud SQL, dan Firebase Hosting. Pengujian dilakukan berdasarkan karakteristik kualitas perangkat lunak ISO/IEC 25010 dan aspek kualitas data S121. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa sistem mampu menyediakan pengelolaan data batas laut yang terstandarisasi, terintegrasi, dan mudah diakses. Sistem ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan informasi batas laut nasional serta kebijakan deposit koordinat batas laut kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa sesuai ketentuan UNCLOS 1982.
PENGEMBANGAN MODEL ANALISIS PERANAUGMENTED REALITY TERHADAP USER STICKINESS PADA M-COMMERCE
Teknologi Augmented Reality (AR) dalam mobile commerce semakin banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas pengalaman belanja digital. Namun, bukti empiris mengenai bagaimana karakteristik AR membentuk keterikatan penggunaan berkelanjutan pengguna pada platform masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik AR terhadap user stickiness pada mcommerce melalui kerangka Stimulus–Organism–Response. Pada penelitian ini digunakan pendekatan kuantitatif dengan survei online terhadap 216 pengguna aplikasi m-commerce berbasis AR di Indonesia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vividness, interactivity, reality congruence, dan modality richness berpengaruh positif terhadap customer satisfaction, yang selanjutnya membentuk emotional attachment pengguna. Emotional attachment terbukti menjadi determinan user stickiness, sementara customer satisfaction dan value cocreation behavior tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa customer satisfaction dan value co-creation behavior secara signifikan berkontribusi terhadap user stickiness, namun pengaruh keduanya sepenuhnya dimediasi oleh emotional attachment, mengindikasikan bahwa baik kepuasan fungsional maupun partisipasi aktif pengguna hanya mampu mendorong keterikatan jangka panjang apabila terlebih dahulu bertransformasi menjadi ikatan afektif dengan platformPada penelitian ini diberikan kontribusi teoretis dengan menempatkan emotional attachment sebagai mediator penting antara karakteristik AR dan user stickiness, serta memberikan pemahaman tambahan mengenai peran value co-creation behavior dalam konteks m-commerce berbasis teknologi AR.
PENGEMBANGAN BASIS DATA BATAS LAUT NKRI BERBASIS WEB
Basis Data Batas Laut NKRI berbasis web merupakan sistem informasi yang dikembangkan untuk mengintegrasikan data batas laut nasional, baik spasial maupun nonspasial, guna mendukung pengelolaan, pemutakhiran, dan diseminasi informasi batas laut secara efektif. Produk yang dihasilkan meliputi basis data batas laut sebagai sarana pengelolaan data serta platform WebGIS SEA-BANDL sebagai media visualisasi dan akses informasi. Pengembangan sistem mengadopsi model data IHO S-121 Maritime Limits and Boundaries, standar metadata ISO 19115, serta PostgreSQL/PostGIS sebagai sistem manajemen basis data spasial. Platform WebGIS dibangun menggunakan React dan MapLibre GL JS pada sisi frontend, serta Node.js dan Express.js pada sisi backend. Sistem kemudian diimplementasikan pada infrastruktur cloud yang mencakup Google Cloud Run, Cloud SQL, dan Firebase Hosting. Pengujian dilakukan berdasarkan karakteristik kualitas perangkat lunak ISO/IEC 25010 dan aspek kualitas data S121. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa sistem mampu menyediakan pengelolaan data batas laut yang terstandarisasi, terintegrasi, dan mudah diakses. Sistem ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan informasi batas laut nasional serta kebijakan deposit koordinat batas laut kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa sesuai ketentuan UNCLOS 1982.
DETERMINAN SOSIO-EKONOMI DAN KONDISI KETENAGAKERJAAN TERHADAP PROBABILITAS BEKERJA DI INSTANSI PEMERINTAH PADA PROVINSI JAWA BARAT
Penelitian ini menganalisis hubungan antara karakteristik sosio-ekonomi dan kondisi ketenagakerjaan dengan probabilitas bekerja di instansi pemerintah pada Provinsi Jawa Barat. Studi ini menggunakan data pooled cross-sectional Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2021-2024, yang mencakup periode dengan dinamika kebijakan rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN) yang signifikan. Estimasi dilakukan melalui pendekatan kuantitatif asosiatif menggunakan model regresi logistik (logit), yang dilengkapi year fixed effects, cluster-robust standard error pada tingkat kabupaten/kota, dan prosedur pairs cluster bootstrap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan merupakan determinan terkuat karena fungsinya sebagai syarat administratif yang melekat pada setiap formasi ASN. Pada aspek generasi, Gen X memiliki probabilitas lebih tinggi dan Gen Z lebih rendah dibandingkan Baby Boomer, sedangkan Milenial tidak berbeda signifikan, pola ini menggambarkan efek keterbatasan dan ketidakpastian penyelenggaraan rekrutmen saat setiap generasi memasuki pasar kerja daripada perbedaan preferensi. Pada aspek pengalaman ketenagakerjaan, individu yang belum pernah bekerja dan memiliki masa transisi dari kelulusan ke pekerjaan yang lebih singkat memiliki probabilitas terserap lebih tinggi, menegaskan bahwa instansi pemerintah cenderung menyerap tenaga kerja pada tahap awal karier. Di tingkat wilayah, dari empat indikator hanya proporsi pekerja informal yang berhubungan positif sebagai indikator terkuat dan UMK yang berhubungan negatif yang signifikan, menunjukkan bahwa instansi pemerintah menjadi penyedia kerja formal utama pada wilayah dengan sektor formal di luar instansi pemerintah yang terbatas, meskipun besaran kontribusinya lebih kecil dibandingkan faktor individu. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keterserapan pekerja ke instansi pemerintah di Provinsi Jawa Barat bukan sekadar hasil pilihan rasional individu atas pekerjaan yang stabil, melainkan bentuk alokasi yang terkendala oleh regulasi dan mekanisme rekrutmen, dengan kualifikasi pendidikan dan tahap awal karier sebagai penyaring yang lebih berperan dibandingkan kondisi makro pasar tenaga kerja.
IDENTIFIKASI FITUR GEOLOGI DI CALORIS BASIN, MERKURIUS
Merkurius merupakan planet terdekat Matahari yang memiliki permukaan yang didominasi oleh berbagai fitur geologi. Fitur geologi tersebut disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor eksternal yang menghasilkan fitur kawah tumbukan, basin, hollow dan faktor internal yang menghasilkan fitur smooth plains, vent, facula, lobate scarps, wrinkle ridges, graben. Salah satu fitur geologi yang menarik untuk dipelajari adalah Caloris Basin. Caloris Basin merupakan kawah tumbukan terbesar di permukaan Merkurius dengan struktur geologi yang kompleks, mulai dari pembentukan hingga proses modifikasinya. Hal ini menjadikan Caloris Basin cocok digunakan sebagai laboratorium alami untuk memahami keterkaitan antara proses tumbukan, vulkanisme, dan tektonisme dalam perjalanan sejarah geologi Merkurius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi dan distribusi kawah tumbukan berdiameter lebih dari 10 km serta distribusi hollow, fitur vulkanik dan fitur tektonik di wilayah Caloris Basin. Mercury QuickMap digunakan untuk mengidentifikasi dan memetakan fitur-fitur tersebut untuk mengetahui pola distribusi tiap fitur. Dari hasil penelitian, ditemukan sebanyak 150 kawah berdiameter lebih dari 10 km. Sebanyak 13 facula dan 14 vent berhasil ditemukan. Facula dan vent banyak ditemukan di tepi Caloris Basin. Sebanyak 43 titik lokasi hollow berhasil ditemukan. Graben terlihat terkonsentrasi di bagian dalam Caloris Basin dengan distribusi berpola radial dan konsentris. Lobate scarps terlihat terdistribusi di tepi Caloris Basin dengan pola konsentris.
PENGEMBANGAN BASIS DATA BATAS LAUT NKRI BERBASIS WEB
Basis Data Batas Laut NKRI berbasis web merupakan sistem informasi yang dikembangkan untuk mengintegrasikan data batas laut nasional, baik spasial maupun nonspasial, guna mendukung pengelolaan, pemutakhiran, dan diseminasi informasi batas laut secara efektif. Produk yang dihasilkan meliputi basis data batas laut sebagai sarana pengelolaan data serta platform WebGIS SEA-BANDL sebagai media visualisasi dan akses informasi. Pengembangan sistem mengadopsi model data IHO S-121 Maritime Limits and Boundaries, standar metadata ISO 19115, serta PostgreSQL/PostGIS sebagai sistem manajemen basis data spasial. Platform WebGIS dibangun menggunakan React dan MapLibre GL JS pada sisi frontend, serta Node.js dan Express.js pada sisi backend. Sistem kemudian diimplementasikan pada infrastruktur cloud yang mencakup Google Cloud Run, Cloud SQL, dan Firebase Hosting. Pengujian dilakukan berdasarkan karakteristik kualitas perangkat lunak ISO/IEC 25010 dan aspek kualitas data S121. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa sistem mampu menyediakan pengelolaan data batas laut yang terstandarisasi, terintegrasi, dan mudah diakses. Sistem ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan informasi batas laut nasional serta kebijakan deposit koordinat batas laut kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa sesuai ketentuan UNCLOS 1982.
DESAIN BIOPHILIC DI RUANG KERJA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA KOGNITIF, RESPONS FISIOLOGI, DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS
Pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia yang terus meningkat berdampak pada penurunan kualitas lingkungan perkotaan, ditandai dengan berkurangnya vegetasi perkotaan dan meningkatnya kepadatan bangunan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat perkotaan semakin terbatas dalam merasakan elemen alam, khususnya selama jam kerja di dalam ruangan sehingga tidak memiliki cara untuk meredakan kondisi negatif yang muncul selama jam kerja, sehingga kondisi-kondisi tersebut terakumulasi dan berdampak pada penurunan konsentrasi, peningkatan kesalahan kerja, serta menurunnya produktivitas. Desain biophilic merupakan pendekatan yang mengimplementasikan elemen alami ke dalam ruangan dan terbukti memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis, respons fisiologis, maupun kinerja kognitif, namun penelitian eksperimental mengenai desain biophilic di ruang kerja pada negara berkembang seperti Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh desain biophilic dengan atribut greenery, water features, dan multisensory experience terhadap kinerja kognitif, respons fisiologis, dan kesejahteraan psikologis pekerja. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen within-subject dengan melibatkan 30 partisipan yang menjalani dua skenario ruang kerja secara bergantian, yaitu skenario biophilic dan nonbiophilic. Partisipan diminta mengerjakan Visual Search Task (VST) untuk mengukur kinerja kognitif, mengukur detak jantung dan tekanan darah (TDS dan TDD) untuk respons fisiologis, serta mengisi kuesioner Perceived Restorativeness Scale (PRS) dan Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) untuk kesejahteraan psikologis. Terakhir, partisipan mengisi kuesioner Nature Relatedness-6 (NR-6) untuk mengukur tingkat keterhubungan individu dengan alam, yang digunakan untuk menganalisis perannya dalam memoderasi kinerja kognitif, respons fisiologis, dan kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain biophilic tidak secara signifikan meningkatkan kinerja kognitif, meskipun terdapat kecenderungan positif pada reaction time dan akurasi Visual Search Task. Dari sisi respons fisiologis, desain biophilic secara signifikan menurunkan detak jantung (t(26) = ?2,19; p = 0,04), sedangkan tekanan darah sistolik maupun diastolik lebih stabil namun tidak signifikan. Dari sisi kesejahteraan psikologis, skenario biophilic dinilai lebih restoratif berdasarkan skor PRS (t(26) = 9,22; p < 0,01), serta secara signifikan meningkatkan afek positif (Z = ?2,31; p = 0,02) dan menurunkan afek negatif (Z = ?4,20; p < 0,01) dari sebelum ke sesudah eksperimen. Sebaliknya, ruang nonbiophilic tidak menunjukkan perubahan afek yang signifikan. Perbandingan langsung antar skenario menegaskan bahwa afek positif signifikan lebih tinggi pada ruang biophilic (t = 3,90; p < 0,01). Hasil penting lainnya, uji korelasi menunjukkan bahwa individu dengan keterhubungan alam (nature relatedness) yang lebih tinggi merasakan manfaat desain biophilic yang lebih besar pada persepsi restoratif (r = 0,40; p = 0,04) dan penurunan afek negatif (r = ?0,41; p = 0,03), namun justru menunjukkan peningkatan detak jantung yang lebih besar (r = 0,43; p = 0,02), berlawanan dengan arah yang diharapkan. Pola ini sejalan dengan effect size interaksi mixed ANOVA yang tergolong moderate (?²?? 0,09) meskipun tidak signifikan. Peran moderasi nature relatedness lebih konsisten terlihat melalui pendekatan korelasi dibandingkan perbandingan antar kelompok, kemungkinan akibat keterbatasan ukuran sampel kelompok NR rendah (n = 4).