📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGEMBANGAN BASIS DATA BATAS LAUT NKRI BERBASIS WEB
Basis Data Batas Laut NKRI berbasis web merupakan sistem informasi yang dikembangkan untuk mengintegrasikan data batas laut nasional, baik spasial maupun nonspasial, guna mendukung pengelolaan, pemutakhiran, dan diseminasi informasi batas laut secara efektif. Produk yang dihasilkan meliputi basis data batas laut sebagai sarana pengelolaan data serta platform WebGIS SEA-BANDL sebagai media visualisasi dan akses informasi. Pengembangan sistem mengadopsi model data IHO S-121 Maritime Limits and Boundaries, standar metadata ISO 19115, serta PostgreSQL/PostGIS sebagai sistem manajemen basis data spasial. Platform WebGIS dibangun menggunakan React dan MapLibre GL JS pada sisi frontend, serta Node.js dan Express.js pada sisi backend. Sistem kemudian diimplementasikan pada infrastruktur cloud yang mencakup Google Cloud Run, Cloud SQL, dan Firebase Hosting. Pengujian dilakukan berdasarkan karakteristik kualitas perangkat lunak ISO/IEC 25010 dan aspek kualitas data S121. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa sistem mampu menyediakan pengelolaan data batas laut yang terstandarisasi, terintegrasi, dan mudah diakses. Sistem ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan informasi batas laut nasional serta kebijakan deposit koordinat batas laut kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa sesuai ketentuan UNCLOS 1982.
MORFOLOGI KAWAH DI BULAN DENGAN DIAMETER 15-20 KM
Kawah tumbukan di Bulan terbentuk akibat tumbukan benda langit kecil dengan permukaan Bulan. Ukuran dan bentuk kawah dipengaruhi oleh karakteristik penumbuk, yaitu diameter, kecepatan, material, sudut tumbukan, dan kondisi geologi permukaan Bulan. Dua wilayah utama di Bulan yaitu Mare dan Highland, memiliki sifat geologi yang berbeda. Mare berupa dataran rendah yang tersusun atas batuan basalt, sedangkan Highland berupa dataran tinggi yang tersusun atas batuan anortosit. Batuan basalt adalah batuan yang terbentuk oleh lava yang membeku, sedangkan batuan anortosit adalah batuan yang terbentuk karena kristalisasi lava. Kawah diklasifikasikan kedalam dua tipe utama, yaitu kawah sederhana yang merupakan kawah tanpa puncak di pusat kawah dan kawah kompleks yang merupakan kawah dengan puncak di pusat kawah. Morfologi kawah dengan ukuran diameter 15–20 km bervariasi antara tipe kawah sederhana dan kawah kompleks, bergantung kondisi permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfologi dan morfometri kawah Bulan berdiameter 15–20 km di Mare dan Highland. Data diperoleh dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) dan dianalisis menggunakan QGIS dan Python. Kawah yang dipilih pada penelitian ini adalah kawah yang tepinya terlihat jelas atau disebut sebagai tipe A, tidak berbentuk elips, dan tepi kawah tidak terpotong. Kawah-kawah ini terletak pada 60?LU–60?LS. Dari kriteria tersebut ditemukan 76 buah kawah, yang terdiri dari 68 buah kawah sederhana dan sisanya berupa kawah kompleks. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ditemukan hubungan signifikan antara kedalaman kawah dan diameter kawah. Berdasarkan data yang dianalisis, pada kawah sederhana di Mare tidak dijumpai kawah dengan kedalaman kurang dari 1, 81 ± 0, 10 km atau d D < 0, 122 ± 0, 008, sedangkan pada Highland tidak dijumpai kawah dengan kedalaman kurang dari 1, 74 ± 0, 08 km atau d D < 0, 099 ± 0, 005. Untuk kawah kompleks di Mare, tidak dijumpai kawah dengan kedalaman kurang dari 1, 75±0, 10 km atau d D < 0, 104±0, 009, sedangkan di Highland tidak dijumpai kawah dengan kedalaman kurang dari 2, 66±0, 09 km atau d D < 0, 155±0, 019. Temuan ini menunjukkan bahwa, dalam data yang digunakan, kawah kompleks di Highland cenderung lebih dalam dibandingkan kawah sederhana di Highland maupun kawah di Mare.
SACRED STILLNESS: INTEGRASI RUANG PEMAKAMAN DAN TERAPI DALAM MELEWATI MASA DUKA DI BANDUNG BARAT
Berbagai suku di Indonesia memiliki tradisi upacara pemakaman yang beragam; banyak diantaranya memandang kematian sebagai perayaan kehidupan, sehingga mengalihkan fokus dari sekadar perpisahan menjadi penghormatan terhadap perjalanan hidup orang terkasih. Prosesi ini sering kali melibatkan keluarga besar dan kerabat, sehingga ketersediaan ruang yang tenang menjadi aspek yang sangat penting. Tradisi pemakaman di Indonesia sangat bervariasi dalam hal ini; setiap tradisi memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kematian. Mengingat perlunya perubahan perspektif dalam memandang kematian, diperlukan desain rumah duka yang universal sehingga dapat mampu mengakomodasi berbagai jenis upacara pemakaman. Oleh karena itu, penting untuk mendefinisikan ulang konsep rumah duka tradisional dengan mengintegrasikan aspek psikologis dan terapeutik. Upaya ini bertujuan untuk menciptakan suasana rumah duka yang lebih akrab dan hangat, serta menjauhi kesan formal maupun industrial yang kaku. Kematian tak lepas dari rasa duka, terlepas dari bagaimana peristiwa tersebut dipersepsikan. Anak-anak dan remaja sering kali mengalami kesepian secara emosional dan sosial akibat kehilangan anggota keluarga atau sosok yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan mereka. Mereka yang mengalami kedukaan ini menghadapi risiko lebih tinggi terhadap masalah kesehatan mental, rasa kesepian, dan hambatan perkembangan. Demikian pula, orang dewasa juga menghadapi tantangan serupa akibat kehilangan orang yang dicintai. Tanpa penanganan sosial yang tepat dan segera, banyak orang dewasa dilaporkan mengalami kesepian dan rasa duka yang berkepanjangan setelah kehilangan. Pesatnya urbanisasi dan tingginya tingkat migrasi di Bandung Barat menyebabkan lemahnya jaringan dukungan sosial, sehingga muncul kebutuhan untuk memfasilitasi interaksi sosial masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran fasilitas yang dapat mengakomodasi berbagai kelompok usia menjadi sangat krusial. Proyek ini berlokasi di Bandung Barat, tepatnya di kawasan Lembang. Lokasi ini memiliki keunggulan berupa sirkulasi udara alami yang sejuk serta pemandangan pegunungan yang menenangkan. Keunggulan tersebut tidak hanya mendukung aspek pemulihan melalui bangunan, tetapi juga memungkinkan komersialisasi sebagian area bagi masyarakat umum. Mengingat karakteristik lokasi tersebut, diperlukan berbagai pertimbangan matang untuk memastikan proyek ini memiliki dampak lingkungan yang minim dan tidak merugikan kawasan sekitarnya. Hal ini penting untuk menjamin keberlanjutan proyek dalam jangka panjang. Proyek ini berkaitan dengan tiga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Salah satunya adalah SDG ketiga, yaitu good health and well-being. Fokus utama proyek ini adalah pemulihan kesehatan mental bagi mereka yang sedang berduka. Hal ini secara langsung mendukung tujuan tersebut karena berdampak positif terhadap kesejahteraan penduduk Bandung Barat.
USULAN STRATEGI MANAJEMEN JALUR KARIR UNTUK MENGATASI KEBUNTUAN KARIR KARYAWAN : STUDI KASUS DI PT PERTA SAMTAN GAS
PT Perta Samtan Gas (PSGas) adalah perusahaan pengolahan gas patungan yang mapan dalam ekosistem energi milik negara Indonesia. Diatur oleh Perjanjian Pemegang Saham (SHA) yang mensyaratkan konsensus dari Dewan Direksi kedua belah pihak untuk semua keputusan strategis, PSGas menghadapi hambatan struktural dalam karir bagi karyawan yang dipekerjakan langsung, yang mengakibatkan hambatan sistematis terhadap promosi, mobilitas karir, dan pengembangan peran, sehingga menyebabkan kebuntuan karir. Studi ini membahas tiga pertanyaan penelitian: kondisi kebuntuan karir saat ini di PSGas; hubungan antara struktur organisasi, tata kelola sistem karir, dan kebuntuan karir; serta perumusan strategi manajemen jalur karir untuk mengatasinya. Desain studi kasus tunggal metode campuran digunakan, yang mengintegrasikan kuesioner terstruktur yang diberikan kepada 126 karyawan yang dipekerjakan langsung (90.6% dari populasi 139 karyawan, melebihi minimum rencana awal yang hanya 105), dianalisis menggunakan PLS-SEM dengan SmartPLS 3.0, dan wawancara mendalam dengan sebelas informan kunci, dianalisis melalui pengkodean tematik terbuka, aksial, dan selektif. Temuan ini menegaskan bahwa kebuntuan karir tersebar luas, dengan rata-rata keseluruhan Career Stuckness (CS) sebesar 4.13 (kategori Tinggi) dan 61.1% karyawan tetap tidak dipromosikan selama lebih dari lima tahun. Analisis PLS- SEM mengungkapkan bahwa Struktur Organisasi (ORS) berdampak positif terhadap Career Stuckness (? = +0.592, p < 0.001) dan Tata Kelola Sistem Karir (GCS) berdampak negatif terhadap Career Stuckness (? = -0.343, p < 0.001), dengan daya penjelas gabungan sebesar R² = 0.595. Analisis kualitatif mengidentifikasi tiga akar penyebab: kendala tata kelola SHA, kekakuan sistem Grup Pertamina, dan perbedaan budaya Indonesia-Korea di antara pemegang saham. Berdasarkan temuan ini, studi ini mengusulkan Kerangka Manajemen Jalur Karir Terintegrasi menggunakan Model Penyelarasan 7S McKinsey. Tujuh strategi intervensi diorganisasikan ke dalam tiga fase implementasi: jangka pendek (Staf, Gaya, Keterampilan), jangka menengah (Sistem, Struktur), dan jangka panjang (Strategi, Nilai Bersama), yang semuanya dirancang untuk beroperasi dalam batasan tata kelola SHA yang ada. Kerangka kerja ini bertujuan untuk mengurangi kebuntuan karir dari 4.13 menjadi di bawah 3.67 (kategori Menengah) melalui peningkatan tata kelola dan infrastruktur karir secara simultan.
POLITIK NEKROPOLIS: DEMISTIFIKASI RUANG SAKRAL MAKAM SUNAN GUNUNG JATI DALAM DISKURSUS PEMBANGUNAN
Dalam diskursus pembangunan, pencarian paradigma alternatives to development kerap menempatkan otonomi kultural dan historisitas sebagai fondasi kemandirian yang ideal. Namun, pendekatan ini sering kali meromantisasi warisan peradaban dan abai terhadap kompleksitas relasi kuasa serta agensi material di tingkat tapak. Mengambil studi kasus Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, tesis ini mendemistifikasi perakitan mikropolitik lokal melalui orkestrasi Actor-Network Theory (ANT) dan Sosiologi Praktik Pierre Bourdieu. Kedua kerangka ini difungsikan untuk melacak bagaimana agensi material (non-manusia) dan kontestasi kapital membentuk tatanan historisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika di tingkat tapak merupakan manifestasi dari fenomena "politik nekropolis", sebuah perakitan ontologis yang menempatkan ruang kematian sebagai pusat gravitasi sosiomaterial yang hidup. Politik nekropolis ini bekerja secara dua arah; ia tidak hanya berfungsi positif sebagai artikulator yang mengikat identitas dan memori tetapi pada saat yang sama beroperasi melalui logika ekstraktif seperti komodifikasi ruang sakral melalui konversi kapital simbolis menjadi ekonomi. Watak ganda ini memunculkan pergeseran ontologis dari melihat makam sekadar sebagai benda mati (matters of fact) menjadi arena disonan (matters of concern). Tatanan di arena ziarah terbukti merupakan hasil stabilisasi jaringan aktor yang dinamis dan timpang. Sebagai implikasi teoretis dan praksis, tesis ini menegaskan pentingnya menempatkan Politik Nekropolis secara utuh sebagai matters of concern melalui taktik "re-apropriasi historisitas" dengan menjadikan wasiat leluhur sebagai titik lintas wajib. Gagasan konseptual ini diharapkan menjadi pijakan bagi perumusan organisasi hibrida di masa mendatang, yang mampu mengarahkan potensi sirkuit kapital lokal dari kecenderungan ekstraktif menuju sirkuit redistributif yang emansipatoris demi pembangunan yang inklusif.
PERAMALAN DEBIT SUNGAI BERBASIS MODEL LSTM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR AKTIVITAS MANUSIA
Prediksi debit aliran sungai yang akurat sangat krusial bagi sistem peringatan dini banjir dan manajemen sumber daya air yang berkelanjutan. Penelitian ini menyajikan sebuah pendekatan baru dalam memprediksi debit sungai dengan mengintegrasikan faktor aktivitas manusia di samping variabel hidrometeorologi ke dalam kerangka kerja deep learning melalui arsitektur model LSTM. Variabel hidrometeorologi berupa curah hujan dan debit sungai diperoleh melalui stasiun pengamatan sedangkan variabel temperatur dan faktor aktivitas manusia diekstraksi melalui platform Google Earth Engine. Faktor aktivitas manusia tersebut direpresentasikan melalui indeks spektral satelit multi-temporal selama 11 tahun (2015–2025), yang meliputi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Normalized Difference Built-up Index (NDBI), dan Nighttime Lights (NTL). Dengan menyertakan proksi aktivitas manusia ini, model yang dibangun bertujuan untuk menangkap hubungan kompleks antara transformasi tata guna lahan dan dinamika debit sungai. Model LSTM ini dipilih karena kemampuannya yang unggul dalam menangkap dependensi jangka panjang dan memproses input multivariat yang kompleks. Penelitian ini berfokus pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sebuah wilayah yang rawan terhadap peristiwa banjir. Penelitian ini membangun 3 model yang memiliki perbedaan pada input fitur dengan arsitektur dan hyperparameter model yang sama. Evaluasi performa model dilaksanakan melalui skema 5-fold time series split dan five-time running pada fold terakhir menggunakan metrik evaluasi RMSE, MAE, dan NSE, yang sering kali digunakan dalam pemodelan hidrologi. Selain itu, penelitian ini melakukan permutation feature importance di setiap model untuk mengetahui kontribusi tiap variabel input di dalam model. Temuan utama dari penelitian ini ialah pemilihan variabel aktivitas manusia secara selektif, khususnya indeks lahan terbangun (NDBI), mampu memberikan kontribusi yang moderat bagi performa model dibandingkan model yang hanya menggunakan variabel hidrometeorologi sebagai variabel input. Hal tersebut ditunjukkan melalui peningkatan metrik evaluasi NSE sebesar 7,42% dan penurunan RMSE sebesar 1,78%.
INTEGRASI SEKTOR INFORMAL KE DALAM PEREKONOMIAN PERKOTAAN: URBAN FOOD HUB DI JALAN JAMIKA, BANDUNG
Pertumbuhan Kota Bandung yang pesat sangat bergantung pada sektor ekonomi informal yang menopang keseharian penduduknya. Per Agustus 2024, tercatat 43,45% tenaga kerja (545,1 ribu orang) bekerja di sektor informal, meningkat 78,9 ribu orang dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, pekerja formal menurun 26,8 ribu orang karena banyak keluarga beralih ke sektor informal demi bertahan hidup. Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi representasi nyata dari kebutuhan ini. Meskipun bermodal minim dan bertahan tanpa kepastian tempat atau perlindungan regulasi, keberadaan PKL tetap menghidupkan jalanan kota, sekaligus menyokong sektor pendidikan, pariwisata, dan industri kreatif. Komoditas PKL mencakup pakaian, barang, dan jasa, dengan pedagang makanan sebagai sektor utama yang erat kaitannya dengan wisata kuliner urban. Namun, keterbatasan lahan dan peningkatan kepadatan memicu persaingan ruang yang ketat di trotoar dan koridor jalan. Penerapan kebijakan yang tidak konsisten dan menyeluruh akhirnya menjebak pedagang dalam siklus penggusuran dan negosiasi akibat konflik spasial. Fenomena ini diteliti di Jalan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, kawasan padat penduduk dan lalu lintas yang berdekatan dengan pusat sejarah Bandung. Konflik sirkulasi dengan pemilik toko telah memicu usulan relokasi, padahal koridor ini berpotensi kuat sebagai zona transisi untuk menguji integrasi sektor formal dan informal. Tugas Akhir ini mengusulkan sebuah Urban Food Hub untuk mengonsolidasikan pedagang ke dalam fasilitas yang mudah diakses. Berbeda dari pusat jajanan biasa, hub ini berfungsi sebagai katalis placemaking yang mengubah koridor jalan menjadi jangkar komunitas dan simpul budaya kuliner. Alih-alih memandang informalitas secara negatif, proyek ini memaknainya kembali sebagai identitas kota dengan merancang ruang yang inklusif bagi semua pengguna. Melalui observasi lapangan dan pemetaan perilaku, studi ini menangkap ritme spasial pedagang serta alur pergerakan pengunjung. Analisis tapak mengungkap kesenjangan aktivitas koridor yang sepi di siang hari namun ramai di malam hari, memperjelas jarak antara tata guna lahan formal dan praktik riil. Dengan studi preseden pasar formal, tipologi sirkulasi vertikal, serta wawancara partisipatif bersama warga dan pedagang, proyek ini bertujuan mengembangkan strategi arsitektural yang mampu meregulasi aktivitas informal dalam kerangka kota formal demi menyelesaikan konflik ruang sekaligus mendukung pencapaian SDG 8 dan SDG 11.
STUDI GEOLOGI DAN APLIKASI PEMBELAJARAN MESIN (UNSUPERVISED MACHINE LEARNING) UNTUK CLUSTERING PROFIL NIKEL LATERIT, DAERAH HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA
Permintaan nikel kian meningkat karena perkembangan teknologi baterai dan kendaraan listrik. Indonesia memegang posisi krusial dalam pasar nikel dunia yang didukung oleh cadangan nikel yang besar. Walaupun demikian, eksplorasi nikel tetap membutuhkan banyak tenaga manusia dan memakan waktu. Salah satu tahap krusial dalam eksplorasi nikel adalah pembuatan domain profil nikel laterit yang bergantung pada data geokimia. Tahap ini rentan terhadap bias, kesalahan manusia, dan inefisiensi. Untuk menanggulangi tantangan ini, pembelajaran mesin dapat diaplikasikan sebagai alat untuk membuat domain nikel laterit. Dalam penelitian ini, studi geologi dan algoritma K-means digunakan untuk membuat tiga domain (limonit, saprolit, dan batuan dasar) pada sebuah endapan nikel laterit di Halmahera Timur dengan 745 data bor. Studi geologi meliputi pengambilan sampel batuan, analisis geomorfologi, interpretasi struktur geologi, dan analisis sayatan tipis. Pra-pemrosesan data meliputi transformasi Yeo-Johnson, scaling, dan Principal Component Analysis (PCA) untuk menormalisasi data dan mengurangi efek outlier. Within-cluster sum of squares, skor silhouette, dan confusion matrix digunakan sebagai indikator performa. Model pembelajaran mesin berhasil mencapai akurasi keseluruhan 81% relatif terhadap logging manual. Akurasi tinggi ditemukan pada zona limonit karena ciri khas geokimia dan pemisahan yang tegas oleh PCA, sedangkan akurasi rendah pada batuan dasar mencerminkan kondisi yang sebaliknya. Hasil pada studi ini mengimplikasikan bahwa pembelajaran mesin bersama studi geologi memiliki potensi kuat untuk membantu geolog dalam melakukan eksplorasi endapan nikel laterit.
MANAJEMEN RISIKO PEMBENGKAKAN BIAYA DALAM PROYEK KONSTRUKSI JALAN TOL: STUDI KASUS JALAN TOL SERBELAWAN– PEMATANG SIANTAR
Pembengkakan biaya (cost overrun) merupakan salah satu tantangan utama dalam proyek konstruksi jalan tol karena berdampak terhadap kinerja proyek, profitabilitas kontraktor, serta pencapaian target pembangunan infrastruktur. Proyek Jalan Tol Serbelawan–Pematang Siantar menghadapi berbagai permasalahan selama pelaksanaannya, antara lain keterlambatan pembebasan lahan, perubahan desain, kenaikan harga material, gangguan logistik, dan ketidakpastian eksternal yang menyebabkan peningkatan biaya dan keterlambatan penyelesaian proyek. Oleh karena itu, penerapan manajemen risiko yang efektif diperlukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi faktor-faktor penyebab pembengkakan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor risiko utama yang menyebabkan pembengkakan biaya pada Proyek Jalan Tol Serbelawan–Pematang Siantar; (2) menganalisis tingkat prioritas, akar penyebab, serta hubungan antar faktor risiko menggunakan Root Cause Analysis (RCA), Analytic Hierarchy Process (AHP), dan Event Tree Analysis (ETA); serta (3) merumuskan strategi mitigasi yang efektif untuk meminimalkan pembengkakan biaya pada proyek jalan tol di masa mendatang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods melalui studi kasus dengan memanfaatkan tinjauan pustaka, dokumentasi proyek, wawancara semi-terstruktur, serta kuesioner penilaian pakar (expert judgment). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan pembebasan lahan merupakan faktor risiko paling dominan yang menyebabkan pembengkakan biaya, diikuti oleh perubahan desain, kenaikan harga material, gangguan logistik, dan ketidakpastian eksternal. Hasil analisis AHP menempatkan keterlambatan pembebasan lahan sebagai risiko dengan prioritas tertinggi. Analisis RCA mengidentifikasi bahwa lemahnya koordinasi antarinstansi, tumpang tindih regulasi, lamanya proses administrasi, serta belum optimalnya sistem verifikasi kepemilikan lahan merupakan akar penyebab utama keterlambatan pembebasan lahan. Selanjutnya, hasil analisis ETA menunjukkan bahwa penerapan strategi mitigasi secara preventif dan korektif mampu menurunkan probabilitas serta dampak pembengkakan biaya melalui peningkatan identifikasi risiko sejak tahap awal dan penguatan mekanisme pengendalian proyek. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, direkomendasikan pembentukan satuan tugas (task force) pembebasan lahan yang terintegrasi, peningkatan kualitas Detailed Engineering Design (DED) sebelum konstruksi dimulai, penerapan strategi pengadaan berbasis risiko, penguatan mekanisme pengelolaan kontrak yang lebih adaptif terhadap risiko proyek, serta implementasi sistem pemantauan proyek berbasis digital. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan, mengurangi ketidakpastian selama pelaksanaan proyek, serta meminimalkan
ISOLASI DAN KARAKTERISASI KANDIDAT GEN DELTA-GUAIENE SYNTHASE DARI TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (GYRINOPS VERSTEEGII)
Gaharu merupakan resin aromatik bernilai ekonomi tinggi yang terakumulasi pada heartwood tumbuhan famili Thymelaeaceae, terutama pada genus Aquilaria dan Gyrinops, sebagai respons pertahanan terhadap infeksi mikroba. Proses pembentukan gaharu alami membutuhkan waktu puluhan tahun, sehingga ketersediaan bahan baku tidak mampu memenuhi permintaan pasar dan turut meningkatkan tekanan eksploitasi terhadap populasi pohon penghasilnya di alam. Salah satu pendekatan alternatif yang berpotensi mendukung produksi senyawa gaharu secara berkelanjutan adalah rekayasa metabolik melalui pemanfaatan informasi gen-gen kunci jalur biosintesis seskuiterpen. Salah satu seskuiterpen utama pada resin gaharu adalah delta-guaiene yang dikatalisis oleh enzim delta-guaiene synthase (dGS). Namun, informasi molekuler mengenai gen pengkode dGS pada Gyrinops versteegii (GvdGS) masih sangat terbatas dan sebagian besar masih berupa anotasi transkriptom yang belum dikarakterisasi secara molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi kandidat gen GvdGS. RNA total diekstraksi dari batang semai G. versteegii yang telah diinokulasi jamur endofit Fusarium solani selama 14 hari dan 28 hari, dilanjutkan dengan sintesis cDNA dan amplifikasi gen target. Amplifikasi berbasis cDNA kurang baik, sehingga isolasi gen dilakukan menggunakan DNA genomik sebagai templat alternatif, dengan set oligonukleotida yang terkonservasi pada tumbuhan penghasil gaharu. Amplifikasi berhasil menghasilkan kontig sepanjang 1825 bp yang dikarakterisasi menggunakan BLAST, prediksi ORF, identifikasi domain protein (InterPro), serta analisis pohon filogenetik (MEGA 12). Kontig yang diperoleh memiliki kemiripan lebih tinggi terhadap gen GvdGS dari whole genome sequencing (WGS) dibandingkan gen alpha humulene syntase pada G. versteegii (GvaHS), dengan query cover 80%, persentase identitas 98.77%, dan e-value 0. ORF terpilih mengkode fragmen protein sepanjang 119 asam amino dengan domain khas TPS berupa domain TPS (N-terminal domain superfamily), TPS (N-terminal), Terpenoid cyclases, dan Isoprenoid synthase domain superfamily. Analisis filogenetik menunjukkan kontig berkerabat lebih dekat dengan referensi GvdGS dengan dukungan bootstrap 99%, dan terpisah dengan klade GvaHS. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sekuens parsial dari kandidat gen GvdGS berhasil didapat melalui strategi amplifikasi silang menggunakan primer GvaHS akibat tingginya homologi sekuens antargen dGS dan aHS. Selain itu, informasi molekuler dasar yang diperoleh dapat menjadi landasan untuk validasi fungsional dan aplikasi rekayasa metabolik dalam produksi senyawa gaharu secara berkelanjutan.
PENGUJIAN DENDROCALAMUS ASPER (BAMBU BETUNG) SEBAGAI FITOREMEDIATOR LOGAM BERAT KADMIUM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KLOROFIL DAUN
Perkembangan aktivitas industri yang pesat meningkatkan pencemaran lingkungan melalui pelepasan limbah logam berat. Limbah industri tekstil di Kabupaten Bandung menjadi salah satu sumber pencemar Cd dengan konsentrasi yang melampaui baku mutu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan fitoremediasi bibit Dendrocalamus asper berdasarkan kemampuan translokasi dan bioakumulasi, serta efisiensi prosesnya. Dianalisis pula keberlangsungan hidup serta pertumbuhan bibit dan kandungan klorofil daun selama 90 hari. Penggunaan alat XRF untuk menganalisis Cd yang terserap serta unsur pembentuk klorofil (Mg, Mn, dan Fe). Hasil data kemampuan fitoremediasi diuji dengan korelasi Spearman, keberlangsungan hidup dihitung dengan survival rate, lalu regresi logistik, serta pertumbuhan bibit dan kandungan klorofil daun menggunakan 2-way ANOVA, lalu uji lanjut Tukey. Didapatkan bibit D. asper mampu menyerap Cd sebesar 62,71% dan 83,24% pada masing-masing 1,2 mg/L dan 2,4 mg/L Cd, akumulasi tertinggi pada daun (57,66%) dan akar (50,99%). Nilai TF > 1 dan BCF < 1 mengindikasikan D. asper belum tergolong hiperakumulator, namun baik dalam mereduksi kandungan Cd tanah. Kedua jenis bibit toleran hingga 2,4 mg/L Cd, survival rate bibit kultur jaringan 100% dan kondisi kesehatan lebih baik daripada bibit stek batang, sehingga dianjurkan untuk praktik fitoremediasi selanjutnya. Konsentrasi Cd yang diberikan masih di bawah batas toleran bibit D. asper dengan tidak terganggunya pertumbuhan bibit maupun kandungan klorofil daunnya. Hal ini terlihat pula dari belum adanya hambatan dalam penyerapan unsur pembentuk klorofil, yaitu Mg, Mn, dan Fe. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan sebagai solusi terhadap pencemaran lingkungan oleh logam berat.
PERANCANGAN PERPUSTAKAAN SERBAGUNA SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN BAHASA ASING DI KOTA BANDUNG
Performa literasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah memicu diskusi tentang budaya membaca masyarakat Indonesia. Untuk dapat mendukung berkembangnya budaya membaca, akses pada buku bacaan harus terlebih dahulu memadai. Selain kemampuan literasi, kemampuan berbahasa asing juga menjadi nilai penting di era modern saat ini. Sama halnya dengan kemampuan literasi, sayangnya kemampuan berbahasa asing masyarakat Indonesia juga belum optimal. Lagi-lagi perpustakaan memiliki potensi sebagai solusi pendukung, karena ikatan kuat antara aktivitas membaca dan peningkatan kemampuan berbahasa. Perpustakaan dapat mendukung proses pembelajaran bahasa asing yang berkelanjutan dengan memfasilitasi baik kelas bahasa formal yang terstruktur dan menjadi sumber media baca dan informasi yang otentik. Dengan menghadirkan dua aspek tersebut, perpustakaan diharapkan dapat mendorong kemampuan berbahasa asing baik secara akademis maupun kemampuan percakapan sehari-hari; mengingat komunikasi adalah tujuan terpenting dalam pembelajaran bahasa asing. Penelitian ini mencari tahu masalah ataupun aspek-aspek yang belum ideal pada ruang-ruang literasi di Kota Bandung. Hasil pengumpulan data preferensi penduduk Kota Bandung dan Cimahi melalui observasi lapangan dan penyebaran kuesioner akan menjadi dasar perancangan perpustakaan serbaguna bahasa asing di Kota Bandung.
PUSAT REINTEGRASI DAN PEMULIHAN ANAK RENTAN PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERBASIS PERILAKU
Arsitektur memiliki peran penting dalam menciptakan kota dan komunitas yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan, mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Dalam pembangunan kota yang resilien dan membina generasi mudanya, arsitektur dapat menjadi katalis melalui perancangan fasilitas yang mampu mendukung proses pemulihan, pembinaan, dan reintegrasi sosial sebagai penyediaan ruang yang aman bagi anak-anak rentan di kawasan perkotaan. Sayangnya, permasalahan anak rentan, khususnya anak jalanan yang terdorong menjadi pekerja informal akibat kemiskinan, disfungsi keluarga, maupun keterbatasan akses pendidikan, masih menjadi fenomena yang banyak dijumpai di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Sosial (2022), terdapat sekitar 16.290 anak jalanan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung menjadi salah satu daerah perkotaan dengan angka yang cukup tinggi. Menurut data Dinas Sosial (2024), terdapat 1.645 anak jalanan di Kota Bandung dengan tren peningkatan sekitar 400 anak setiap tahunnya. Pada tahun 2023, Dinas Sosial juga menyebutkan bahwa Jalan Pajajaran menjadi salah satu dari sembilan kawasan rawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Kondisi tersebut menunjukkan tingginya kerentanan anak di kawasan perkotaan, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun perkembangan perilaku. Perancangan Pusat Reintegrasi dan Pemulihan Anak Rentan Perkotaan di Jalan Pajajaran, Kota Bandung mengintegrasikan fungsi hunian transisi, pendidikan nonformal, konseling psikososial, pengembangan keterampilan, serta ruang interaksi komunitas sebagai wadah yang mendukung proses reintegrasi anak ke masyarakat. Pendekatan arsitektur berbasis perilaku diterapkan melalui perancangan lingkungan binaan yang mempertimbangkan hubungan antara perilaku pengguna dengan elemen ruang, kualitas visual, serta materialitas yang mampu menciptakan rasa aman, meningkatkan interaksi sosial yang positif, membangun kemandirian, dan mendorong perubahan perilaku secara bertahap. Metode perancangan meliputi studi literatur mengenai anak rentan perkotaan, pusat reintegrasi, dan arsitektur berbasis perilaku; observasi lapangan pada fasilitas pemberdayaan anak di Bandung; analisis kebutuhan pengguna; serta eksplorasi desain melalui zoning, simulasi pencahayaan, analisis perilaku pengguna, dan pemilihan material yang mendukung kenyamanan serta pembentukan perilaku adaptif. Dengan demikian, proyek berfungsi sebagai fasilitas pemulihan, pembelajaran, dan pembentukan karakter yang membantu anak rentan membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, serta kesiapan untuk kembali berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga mendukung terwujudnya SDG 11 melalui peningkatan kualitas hidup anak dan keberlanjutan komunitas perkotaan.
PEMODELAN GEOMEKANIKA 1D DAN ANALISIS KESTABILAN LUBANG BOR UNTUK PENENTUAN JENDELA AMAN BERAT LUMPUR PENGEBORAN PADA LAPANGAN ‘IQ’, SUB-CEKUNGAN BALAM, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Lapangan 'IQ' merupakan salah satu lapangan minyak skala sub-cekungan yang termasuk dalam wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan dan terletak di Sub-Cekungan Balam, Cekungan Sumatra Tengah. Lapangan ini berada dalam tatanan stratigrafi dan tektonik yang kompleks sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam operasi pengeboran. Permasalahan operasi pengeboran, seperti struktur breakout, sloughing hole, dan wellbore enlargement teridentifikasi pada Formasi Telisa dan Formasi Brown Shale di Lapangan 'IQ' berdasarkan laporan pengeboran dan interpretasi data log gambar. Penelitian ini membahas jendela aman berat lumpur pengeboran beserta karakteristik kestabilannya melalui pemodelan geomekanika 1D dan analisis kestabilan lubang bor pada Lapangan 'IQ', terutama pada Formasi Telisa dan Formasi Brown Shale. Pemodelan dilakukan dengan pendekatan empiris berbasis data log tali kawat yang dikalibrasi dengan data uji sumur dan data pengeboran lainnya, seperti laporan pengeboran dan deskripsi batuan inti. Hasil pemodelan berdasarkan analisis kriteria Mohr Coulomb menunjukkan bahwa Formasi Telisa memiliki rentang jendela aman berat lumpur pengeboran 11,54-14,42 ppg pada kedalaman 1358-1710 kaki (414-521 m) dan 11,9-14,42 ppg pada kedalaman 2324-2728 kaki (708-831 m). Sementara itu, Formasi Brown Shale memiliki rentang jendela aman berat lumpur pengeboran 11,54-15,38 ppg pada kedalaman 2642-5038 kaki (805-1536 m) dan 11,54-13,46 ppg pada kedalaman 4674-6647 kaki (1425-2026 m). Kedua formasi sama-sama berada pada rezim tegasan sesar normal dengan orientasi tegasan horizontal maksimum N 35° E. Formasi Telisa memiliki karakteristik geomekanika serpih lunak dengan kerentanan yang lebih tinggi terhadap kegagalan geser, sedangkan Formasi Brown Shale menunjukkan karakter serpih lunak hingga agak kaku. Ketidakstabilan pada Formasi Brown Shale turut dipengaruhi oleh kondisi overpressure pada interval yang lebih dalam serta potensi swelling clay akibat dominasi mineral Smektit pada interval yang lebih dangkal.
PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.