📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERANCANGAN KERANGKA PEMRIORITASAN USULAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH YANG DIDANAI MELALUI CSR/TJSL MENGGUNAKAN DELPHI–ANP– VIKOR: STUDI KASUS PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT
Keterbatasan pendanaan APBD dan banyaknya usulan program pembangunan daerah mendorong Pemerintah Daerah untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki sumber pendanaan alternatif yaitu dana Corporate Social Responsibility/Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR/TJSL). Penggunaan dana CSR/TJSL yang juga terbatas, menuntut adanya mekanisme pemrioritasan usulan program yang sistematis, transparan, dan berbasis multi-kriteria. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka pengambilan keputusan dengan mengintegrasikan Systematic Literature Review (SLR) berbasis PRISMA, metode Delphi, Analytic Network Process (ANP), dan VIKOR. PRISMA digunakan untuk mengidentifikasi kandidat kriteria dari literatur, Delphi digunakan untuk konsensus kriteria oleh pakar, ANP digunakan untuk menentukan bobot kriteria berdasarkan hubungan antar-kriteria, sedangkan VIKOR digunakan untuk menghasilkan peringkat usulan program. Pada fase awal SLR dihasilkan 58 artikel. Selanjutnya diperoleh 27 artikel final yang menghasilkan 5 kandidat kriteria diantaranya: Kesesuaian dengan tema/prioritas pembangunan daerah, keterkaitan dengan SDGs, kontribusi sosial/penerima manfaat, fleksibilitas waktu pelaksanaan, dan kebutuhan anggaran. Seluruh kriteria diterima melalui Delphi. Hasil ANP menunjukkan kebutuhan anggaran memiliki bobot tertinggi sebesar 0.337. Hasil VIKOR menunjukkan bahwa alternatif peringkat pertama memenuhi syarat acceptable advantage dan acceptable stability, serta hasil analisis sensitivitas menunjukkan peringkat prioritas tergolong stabil. Kerangka PRISMA– Delphi–ANP–VIKOR dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam pemrioritasan program CSR/TJSL secara lebih objektif dan akuntabel.
PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.
PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.
KOMPOSISI DAN POTENSI SOIL SEED BANK PADA BERBAGAI FASE SUKSESI PASCAGANGGUAN DI HUTAN CAGAR ALAM GUNUNG PAPANDAYAN, GARUT
Soil seed bank merupakan cadangan benih yang tersimpan di dalam tanah dan berperan penting dalam proses regenerasi vegetasi serta pemulihan ekosistem setelah terjadi gangguan. Komposisi dan struktur soil seed bank dapat berubah sepanjang proses suksesi dan memengaruhi potensi regenerasi alami suatu ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi dan struktur komunitas soil seed bank komunitas soil seed bank serta hubungan antara soil seed bank dan vegetasi di atas tanah pada berbagai fase suksesi di Cagar Alam Papandayan. Penelitian dilakukan pada tiga tahap suksesi, yaitu belukar muda, belukar tua, dan hutan. Analisis soil seed bank dilakukan menggunakan metode ekstraksi dan germinasi, sedangkan vegetasi di atas tanah dianalisis berdasarkan inventarisasi spesies pada masing-masing zona. Struktur komunitas dianalisis menggunakan densitas biji, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), dan indeks dominansi, sedangkan hubungan antara vegetasi dan soil seed bank dianalisis menggunakan indeks kesamaan Sørensen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soil seed bank terdiri atas 22 spesies, yang didominasi oleh spesies pionir (19 spesies). Kelompok herba-perdu mendominasi soil seed bank baik berdasarkan jumlah spesies maupun densitas biji pada seluruh tahap suksesi. Densitas biji tertinggi ditemukan pada zona belukar muda dan belukar tua, sedangkan zona hutan memiliki densitas biji yang lebih rendah. Komposisi densitas biji didominasi oleh famili Asteraceae pada seluruh tahap suksesi. Nilai indeks keanekaragaman meningkat seiring bertambahnya tahapan suksesi. Dari total 34 spesies vegetasi yang ditemukan, Sebanyak 11 dari total 34 spesies vegetasi juga ditemukan dalam soil seed bank. Nilai indeks Sørensen menunjukkan kesamaan vegetasi dan soil seed bank yang rendah hingga sedang serta cenderung menurun dari belukar muda menuju hutan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa soil seed bank di Cagar Alam Papandayan masih didominasi oleh spesies pionir dan hanya merepresentasikan sebagian kecil komunitas vegetasi di atas tanah.
PENGUKURAN LAJU ALIRAN FLUIDA DUA-FASA DALAM PIPA MENGGUNAKAN GELOMBANG ULTRASONIK DAN TOMOGRAFI RESISTANSI ELEKTRIKAL
Pengukuran laju aliran fluida multi-fasa tetap menjadi kebutuhan krusial di berbagai sektor industri, seperti farmasi, petrokimia, serta minyak dan gas. Namun, proses pengukuran ini masih menghadapi berbagai tantangan akibat kompleksitas karakteristik aliran, seperti interaksi antar fasa, distribusi kecepatan yang tidak merata, serta fluktuasi tekanan yang dinamis. Selain itu, pola aliran seperti slug flow, churn flow, anular flow, stratified flow dan bubble flow dapat menimbulkan fluktuasi hidrodinamik yang berpotensi menyebabkan degradasi pada dinding pipa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan kombinasi metode ultrasonik refleksi (UR) dan tomografi resistansi elektrikal (TRE) untuk pengukuran aliran fluida dua-fasa. Pendekatan ini bertujuan mengukur laju aliran sekaligus merekonstruksi distribusi fluida dua-fasa cairan dan udara (water and air) di dalam pipa, serta mengidentifikasi struktur aliran, khususnya pada fasa cair dan gas. Metode TRE bekerja dengan menginjeksikan arus lemah melalui elektroda dan mengukur perubahan resistansi untuk merekonstruksi profil aliran, sedangkan konfigurasi dual-plane TRE digunakan untuk meningkatkan resolusi temporal dan spasial melalui analisis korelasi silang. Metode UR memanfaatkan pantulan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi perbedaan sifat akustik antar fasa, sehingga efektif dalam mengidentifikasi struktur aliran. Sensitivitas metode UR ditingkatkan melalui analisis sinyal pantulan (echo) dan variasi frekuensi. Untuk mendukung akuisisi data berkecepatan tinggi, sistem diimplementasikan menggunakan field programmable gate array (FPGA) yang memungkinkan sampling rate tinggi sesuai dengan karakteristik transduser ultrasonik berfrekuensi tinggi. Validasi eksperimen dilakukan menggunakan pipa akrilik transparan dengan konfigurasi aliran horizontal agar observasi visual dapat dilakukan secara langsung. Selain itu, pendekatan komputasional dinamika fluida (KDF) diterapkan untuk memodelkan dinamika aliran dua-fasa, mengamati mekanisme pembentukan slug flow, serta membandingkan distribusi pola aliran hasil simulasi dengan hasil eksperimen. Dengan demikian, simulasi KDF berperan sebagai pendukung analisis fisis terhadap fenomena aliran dan sebagai pembanding terhadap hasil pengukuran berbasis UR dan TRE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu membedakan karakter sinyal antara aliran slug dan aliran stratifikasi (stratified) yang menjadi objek utama pengamatan, serta mengidentifikasi pola aliran slug yang pada kondisi eksperimen dikategorikan sebagai low-aerated slug flow. Pengukuran menggunakan metode UR menunjukkan bahwa ketebalan aliran slug berada pada kisaran 0,330 hingga 0,355 cm, dengan kecenderungan meningkat seiring bertambahnya kecepatan UR pada rentang 0,6 hingga 1,3 m/s. Hubungan antara kedua parameter menunjukkan kecenderungan nonlinier. Pada tahap kalibrasi, sistem UR menunjukkan kesalahan pengukuran kurang dari 1% terhadap referensi. Hasil simulasi KDF menunjukkan kesesuaian dengan tren eksperimen dalam merepresentasikan pembentukan dan distribusi aliran, walaupun masih terdapat perbedaan akibat penyederhanaan model numerik dan kompleksitas dinamika aliran dua-fasa. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang menggabungkan metode UR, TRE, dan KDF untuk meningkatkan kemampuan pengukuran laju aliran, identifikasi karakteristik aliran, serta analisis perilaku slug flow secara lebih representatif. Pendekatan ini memberikan dasar yang lebih komprehensif bagi pengembangan sistem pemantauan aliran dua-fasa pada aplikasi industri.
PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.
FROM SAFETY TO EMPOWERMENT: FASILITAS PEMBERDAYAAN WANITA PENYINTAS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT DI KABUPATEN BANDUNG BARAT
Berdasarkan laporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan sebagian besar dari kasus kekerasan terhadap perempuan. Perempuan yang tidak memiliki pekerjaan formal rentan mengalami kekerasan akibat ketergantungan ekonomi serta norma sosial yang menghalangi perempuan untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Studi menunjukkan bahwa angka kasus KDRT pada kenyataannya lebih tinggi dibandingkan dengan angka yang dilaporkan akibat keterbatasan sistem pengumpulan data yang bergantung pada pelaporan sukarela serta stigma sosial terhadap perempuan yang bersuara mengenai kekerasan yang dialaminya. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tertinggi di Indonesia. Saat ini, intervensi pemerintah masih berfokus pada pendampingan hukum, sementara fasilitas yang mendukung pemulihan emosional, pemberdayaan, dan reintegrasi sosial masih terbatas. Beberapa rumah aman yang tersedia masih berupa bangunan sewaan yang tidak secara khusus dirancang untuk memberikan keamanan, privasi, maupun ruang pemulihan. Kabupaten Bandung Barat bahkan belum memiliki rumah aman khusus meskipun memiliki wilayah yang luas. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan akan fasilitas khusus yang menyediakan tempat perlindungan bagi perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga serta mendukung proses pemulihan mereka. Tipologi proyek ini adalah pusat edukasi perempuan yang dikombinasikan dengan hunian sementara yang berlokasi di Jalan Ciloa, Kabupaten Bandung Barat. Pusat edukasi ini bertujuan untuk membantu perempuan mencapai kemandirian ekonomi dan memperoleh skills yang dibutuhkan melalui pelatihan vokasional, terutama dalam bidang kuliner, hortikultura, serta beauty and fashion. Hunian sementara menyediakan tempat tinggal yang aman bagi perempuan yang melindungi diri dari pasangan yang melakukan kekerasan. Proyek ini dirancang untuk memprioritaskan kenyamanan, privasi, dan otonomi pengguna melalui strategi healing environment. Strategi tersebut meliputi sirkulasi yang jelas untuk mengurangi stres, akses terhadap alam untuk mendukung pemulihan emosional, pemisahan zona untuk menjaga privasi dan keamanan, serta penggunaan elemen dengan tepian halus dan material alami untuk menciptakan suasana domestik. Respons kontekstual terhadap kondisi kemiringan lahan diwujudkan melalui massa bangunan bertingkat yang mempertahankan kontur alami. Proyek ini bertujuan untuk menyediakan lingkungan transisi yang aman bagi penyintas untuk memulihkan diri, mengembangkan potensi diri, serta membantu proses reintegrasi ke masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap penyintas KDRT.
EVALUASI KESTABILAN LERENG WASTE DUMP PIT XY DAN OPTIMALISASI JARAK AMAN SETTLING POND TERHADAP STABILITAS PIT ZW MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA TAMBANG NIKEL SITE POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
Penambangan terbuka nikel di Site Pomalaa menghasilkan lereng waste dump dan settling pond yang berpotensi mengalami ketidakstabilan, terutama pada kondisi jenuh. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kestabilan lereng Waste Dump Pit XY serta menentukan jarak aman settling pond terhadap lereng Pit ZW. Analisis dilakukan menggunakan Limit Equilibrium Method (LEM) dengan pendekatan Morgenstern–Price pada perangkat lunak Rocscience Slide2 untuk kondisi statis dan dinamis berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Data yang digunakan meliputi geometri lereng, parameter geoteknik, data borehole, kondisi muka air tanah, dan geometri settling pond. Evaluasi dilakukan melalui analisis Faktor Keamanan (FK), Probability of Failure (PF), simulasi sequence benching, redesain lereng, dan variasi jarak settling pond. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng aktual Waste Dump Pit XY memiliki FK statis 1,606 (PF 0,305%) dan FK dinamis 1,253 (PF 13,549%) pada kondisi jenuh. Redesain menggunakan sequence benching tiga jenjang menghasilkan FK statis 1,350 (PF 0,2%) dan FK dinamis 1,186 (PF 4,7%), serta meningkatkan kapasitas waste dump dari 199.375 m³ menjadi 291.159 m³. Redesain lereng Pit ZW menggunakan sequence bench empat jenjang menghasilkan FK deterministik 1,741 (PF 0,500%) pada kondisi statis dan FK deterministik 1,451 (PF 3,200%) pada kondisi dinamis sehingga memenuhi kriteria Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Simulasi variasi jarak settling pond menunjukkan jarak aman minimum 10 m dari kaki lereng dengan FK deterministik 1,592, FK mean 1,603, dan PF 4,954%, sedangkan pada jarak 5 m PF meningkat menjadi 5,500%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sequence benching, redesain lereng Pit ZW, dan optimasi jarak settling pond menghasilkan desain lereng yang memenuhi kriteria kestabilan berdasarkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018.
ARTIKULASI DISKURSIF SEJARAH PADA NARASI VISUAL KOMIK SERANGAN UMUM 1 MARET 1949
Penulisan sejarah (historiografi) perjuangan di Indonesia, khususnya peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, tidak pernah berdiri di ruang hampa. Peristiwa tersebut secara historis senantiasa ditarik ke dalam pusaran kontestasi ideologi, hegemoni, dan kepentingan politik penguasa yang direproduksi secara dinamis melalui berbagai media budaya populer, salah satunya adalah komik. Penelitian disertasi ini bertujuan untuk membongkar, menguraikan, dan memetakan pergeseran artikulasi diskursif mengenai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam tiga komik yang diproduksi dan diedarkan pada tiga era politik yang berbeda di Indonesia: Kisah Pendudukan Jogja (1952) karya Abdulsalam (representasi Era Pasca-Revolusi Fisik/Demokrasi Liberal), Merebut Kota Perjuangan (1985) karya Marsoedi dkk. dan Wid.N.S (representasi Puncak Hegemoni Rezim Orde Baru), dan Komando Rajawali (2015) karya Edna Caroline dan Thomdean (representasi Era Transisi Demokrasi/Reformasi ). Sebagai sebuah kajian kritis terhadap teks visual dan kesejarahan, penelitian kualitatif ini mengandalkan pendekatan teoretis hibrida yang memadukan dua pisau analisis utama secara tandem. Pertama, pendekatan Multimodal Critical Discourse Analysis (MCDA) model David Machin dan Andrea Mayr digunakan untuk membedah secara mikro tanda-tanda semiotik visual dan tekstual di dalam panel komik. Instrumen Machin dan Mayr seperti pilihan kosakata (lexical choices), penonjolan visual (visual prominence), sudut bidik kamera (camera angles), tatapan mata karakter (gaze), penataan latar belakang (setting), ikonografi, serta tingkatan modalitas warna diaplikasikan untuk melihat bagaimana kekuasaan dikonstruksi secara visual. Kedua, metode ini ditandemkan secara integral dengan Discourse-Historical Approach (DHA) dari Ruth Wodak. Pendekatan DHA digunakan untuk memahami dengan mengaitkan teks-teks komik tersebut ke dalam konteks sosiopolitik dan makro-historis yang melatarbelakangi masa produksinya, sekaligus membongkar teks melalui lima strategi diskursif Wodak, yakni strategi nominasi (nomination), predikasi (predication), argumentasi (argumentation), perspektivisasi (perspectivization), serta intensifikasi dan mitigasi (intensification and mitigation). Hasil penelitian membuktikan secara empiris dan teoretis adanya perubahan dan pergeseran wacana yang radikal dari proses legitimasi menuju delegitimasi antargenerasi melalui komik tersebut. Pada generasi pertama, komik Kisah Pendudukan Jogja (1952) mengartikulasikan Legitimasi Kolektif Berbasis Rakyat karena diproduksi saat memori revolusi masih segar dan belum terkooptasi oleh kepentingan dinasti politik tertentu. Berdasarkan strategi nominasi dan predikasi DHA, komik ini menonjolkan agensi kelompok marginal (subaltern) seperti peran rakyat, pemuda lokal, dan wong cilik sebagai penggerak utama perjuangan, sementara elite militer diletakkan secara setara dalam struktur sosial perlawanan. Pada generasi kedua, terjadi pergeseran ekstrem di mana komik Merebut Kota Perjuangan (1985) mereproduksi Legitimasi Monolitik Rezim Orde Baru. Ditandai oleh sensor negara yang ketat, komik ini memanfaatkan instrumen visual prominence dan ikonografi militeristik untuk menempatkan figur Letkol Soeharto sebagai penggagas tunggal serangan. Secara diskursif (DHA), komik ini menjalankan strategi eksklusi dan mitigasi yang secara sengaja menghilangkan atau mengecilkan peran tokoh kunci lain seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Kolonel Bambang Sugeng, demi melegitimasi posisi politik Soeharto sebagai presiden yang berkuasa pada tahun 1985. Pada generasi ketiga, atmosfer keterbukaan pasca Reformasi melahirkan komik Komando Rajawali #05 The Final Battle (2015) yang mengartikulasikan Delegitimasi Mitos Orde Baru sekaligus Relegitimasi Sejarah Kolektif. Komik ini mendekonstruksi romantisasi perang versi Orde Baru. Melalui strategi perspektivisasi dan intertekstual DHA, sentralitas Soeharto didelegitimasi dengan cara menurunkannya menjadi pelaksana taktis lapangan konvensional yang direduksi perannya sebagai penggagas utama serangan. Sebaliknya, komik ini melakukan relegitimasi dengan mengangkat kembali otoritas formal dari Kolonel Bambang Sugeng sebagai Panglima Divisi III melalui personalisasi sosoknya dalam panel komik. Secara teoritis, disertasi ini menyimpulkan bahwa historiografi populer berbentuk komik di Indonesia bukan sekadar artefak budaya yang pasif, media hiburan anak-anak, atau dokumentasi statis masa lalu. Komik sejarah beroperasi secara aktif sebagai instrumen ideologis dan ruang kontestasi diskursif visual tempat memori kolektif bangsa terus-menerus diproduksi, direproduksi, dipertahankan, atau diruntuhkan sejalan dengan pergeseran dinamika kekuasaan politik yang sedang dominan. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada integrasi metodologis lintas disiplin antara semiotika multimodal dan analisis sejarah- diskursif yang berhasil membongkar bagaimana kuasa politik mampu memengaruhi penggambaran sosok karakter, tata letak panel, hingga pilihan kata dalam merekayasa ingatan masa lalu sebuah bangsa.
PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA
Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.
MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK PRIORITISASI PROYEK INVESTASI JALAN TOL DI SUMATERA MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)
Proyek Jalan Tol Trans-Sumatra (JTTS) merupakan proyek strategis nasional yang bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatra. Namun, proses penentuan prioritas investasi antar ruas masih belum konsisten karena adanya penilaian yang subjektif serta belum tersedianya kerangka evaluasi yang terstruktur. Penelitian ini mengembangkan model pengambilan keputusan untuk prioritisasi investasi jalan tol dengan mengintegrasikan analisis SWOT–TOWS dan Analytic Hierarchy Process (AHP). dan Kerangka SWOT–TOWS digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor strategis yang memengaruhi keputusan investasi, yang mencakup dimensi finansial, teknis, sosial, kebijakan. Faktor-faktor tersebut kemudian dikuantifikasi menggunakan metode AHP melalui perbandingan berpasangan berbasis pendapat ahli dan pengujian konsistensi. Model ini memberikan dasar terstruktur untuk mendukung prioritisasi ruas JTTS secara sistematis berdasarkan kriteria pembobotan. Hasil penelitian mengidentifikasi sepuluh kriteria evaluasi berbobot. Transportation Network Integration and Connectivity menjadi kriteria dengan prioritas tertinggi dengan bobot 0,166, diikuti oleh Technical and Geometric Conditions of the Road Corridor sebesar 0,147, serta Economic Impact and Regional Distribution sebesar 0,116. Analisis AHP menghasilkan Consistency Ratio (CR) sebesar 0,04, yang menunjukkan tingkat konsistensi penilaian ahli yang dapat diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa konektivitas, kondisi teknis, dan dampak ekonomi regional merupakan pertimbangan utama dalam kerangka evaluasi yang dikembangkan. Kerangka SWOT–TOWS–AHP yang diusulkan memberikan dasar yang lebih terstruktur, konsisten, dan transparan untuk mendukung prioritisasi investasi JTTS di masa mendatang.
PENGUATAN BRAND EQUITY MELALUI STRATEGI JARINGAN AGEN LOKAL: STUDI KASUS PADA PT MAULANA ASWAJA BAROKAH DI JAWA BARAT
Tesis ini menganalisis penurunan brand equity pada PT Maulana Aswaja Barokah (MAB), sebuah biro perjalanan Umrah dan Haji yang tengah berkembang di wilayah Jawa Barat, Indonesia. Yang menawarkan layanan ibadah yang sesuai syariah melalui jaringan agen, namun MAB mencatat penurunan jumlah keberangkatan jamaah sebesar 43,3% secara tahunan antara Januari–September 2024 dan periode yang sama pada tahun 2025. Studi ini bertujuan mengidentifikasi determinan utama dari penurunan kinerja tersebut dengan menelaah empat dimensi utama brand equity: brand awareness, perceived quality, brand associations, dan brand loyalty. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang diperkuat oleh survei awal terhadap 12 partisipan, yang terdiri dari calon dan mantan jamaah Umrah. Analisis dilakukan dengan mengacu pada model Customer-Based Brand Equity (CBBE) dari Aaker, serta didukung oleh analisis eksternal melalui kerangka PESTEL dan Porter’s Five Forces. Temuan mengindikasikan bahwa posisi merek MAB melemah akibat rendahnya visibilitas, kurangnya konsistensi pada branding image, serta representasi agen yang tidak seragam. Faktor-faktor ini secara kolektif menghambat pembentukan kepercayaan dan loyalitas pelanggan, meskipun harga dan layanan yang ditawarkan tergolong kompetitif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam sektor jasa yang kental dengan nilai budaya seperti perjalanan ibadah, brand equity tidak semata-mata ditentukan oleh harga atau kualitas fungsional, melainkan dibentuk oleh mekanisme kepercayaan, kredibilitas agen, dan legitimasi sosial. Rekomendasi strategis mencakup standarisasi pelatihan agen dan keselarasan merek, peningkatan visibilitas testimoni jamaah, serta implementasi strategi pemasaran berbasis komunitas. Kontribusi teoretis dari studi ini terletak pada penerapan teori brand equity dalam konteks perjalanan religi, memberikan implikasi manajerial untuk pasar yang berorientasi pada kepercayaan dan pengalaman.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS UNTUK PRODUKSI GASOLINE RENDAH SULFUR DI RU III PLAJU MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA AHP–TOPSIS TERINTEGRASI PADA GERBANG PRA-STUDI KELAYAKAN GUNA MENDUKUNG NET ZERO EMISSIONS INDONESIA TAHUN 2060
PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju (RU III Plaju), kilang dengan kompleksitas rendah (Nelson Complexity Index ? 3,0), memproduksi gasoline dengan kandungan sulfur 170–230 ppm sekitar empat kali lipat dari batas maksimum 50 ppm yang diwajibkan untuk pemenuhan standar Euro IV/V berdasarkan Keputusan Dirjen Migas No. 110.K/MG.01/DJM/2022 sehingga menempatkan aset pada risiko ketidakpatuhan dan menjadi aset terdampar (stranded asset). Penutupan kesenjangan ini merupakan keputusan investasi strategis yang bersifat multidimensional, namun gerbang pra-studi kelayakan (Pre FS) kilang saat ini menyaring investasi hanya berdasarkan satu kriteria finansial (benefit–cost ratio lebih dari satu) yang tidak mampu menimbang pertimbangan regulasi, strategis, teknis, dan keberlanjutan. Penelitian ini mengembangkan kerangka kerja multi-criteria decision-making (MCDM) terintegrasi untuk disematkan pada gerbang Pre-FS dan mendemonstrasikannya pada keputusan pemenuhan gasoline rendah sulfur. Analisis SWOT kualitatif, yang disusun dari tujuh wawancara pakar dan divalidasi melalui focus group discussion, dikuantifikasi melalui matriks IFE (2,2983) dan EFE (2,5133) — dengan bobot faktor yang dielisitasi pada tingkat industri dari panel enam pakar melalui alokasi 100 poin — menempatkan kilang pada Sel V matriks IE dan Kuadran I SWOT serta mengidentifikasi kesenjangan desulfurisasi sebagai masalah prioritas. Pencocokan TOWS menghasilkan empat alternatif strategis yang dievaluasi melalui AHP (delapan sub-kriteria, consistency ratio 0,0028) dan diperingkat menggunakan TOPSIS. Pembangunan unit HDS/GSH (A4) menempati peringkat pertama (closeness coefficient 0,8481), hasil yang terbukti robust pada enam belas skenario perturbasi bobot ±20%. Gerbang MCDM menghasilkan rekomendasi yang transparan, dapat diaudit, dan dapat dipertanggungjawabkan yang tidak dapat dihasilkan oleh gerbang finansial sebelumnya sekaligus tetap mempertahankan kelayakan ekonomi sebagai salah satu kriterianya.
SISTEM REKOMENDASI BUKU UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LAYANAN DAN KETERLIBATAN PEMUSTAKA PADA PERPUSTAKAAN PUBLIK (STUDI KASUS: JAWA BARAT)
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat memiliki tantangan dalam membantu pemustaka menemukan buku yang relevan di tengah jumlah koleksi yang besar dan kebutuhan bacaan yang beragam. Katalog berbasis kata kunci belum sepenuhnya memberikan pencarian yang personal, terutama ketika pemustaka belum mengetahui judul, penulis, atau subjek secara spesifik. Data peminjaman perpustakaan memiliki tingkat data sparsity yang tinggi, sehingga pendekatan rekomendasi tunggal kurang optimal. Penelitian ini mengembangkan Advanced Hybrid Book Recommender System yang mengintegrasikan Collaborative Filtering berbasis ALS, Content-Based Filtering berbasis TF-IDF, Knowledge Graph Semantic Boost, Hybrid Scoring, dan Multi-Objective Re-ranking. Data yang digunakan mencakup 173.510 transaksi peminjaman bersih, 82.833 metadata eksemplar, dan 31.598 judul unik. Model dikembangkan dalam dua skenario, yaitu tanpa sinopsis dan dengan sinopsis. Evaluasi dilakukan secara offline menggunakan metrik relevance/ranking, seperti Precision@K, Recall@K, HitRate@K, NDCG@K, dan MAP@K, serta metrik beyond-accuracy, seperti Diversity@K, Novelty@K, Catalog Coverage, Synopsis Coverage, Explainability, Unexpectedness@K, Relevant Serendipity@K, dan Serendipity@K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model terbaik pada skenario tanpa sinopsis adalah CF = 0,05, CBF = 0,65, KG = 0,25, dan Novelty = 0,05, dengan objective score 0,898882, lalu skenario dengan sinopsis adalah CF = 0,60, CBF = 0,10, KG = 0,20, dan Novelty = 0,10, dengan objective score 0,965614. Temuan menunjukkan model tanpa sinopsis lebih stabil untuk implementasi awal karena metadata lebih merata, sedangkan model dengan sinopsis berpotensi dikembangkan lebih lanjut apabila cakupan sinopsis ditingkatkan. Penelitian ini menegaskan bahwa sistem rekomendasi perlu menyeimbangkan relevance/ranking dan beyond-accuracy agar mampu mendukung personalisasi layanan, eksplorasi koleksi, dan penemuan buku yang tidak terduga namun tetap relevan.
KARAKTERISASI DAN DIFERENSIASI LIMONIT EKS SITU SERTA IN SITU DENGAN PENDEKATAN GEOKIMIA SERIUM (CE) DAN UNSUR UTAMA PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT DI DAERAH ROUTA, KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA
Daerah Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara merupakan bagian dari Ofiolit Sulawesi Timur. Batuan ultramafik di daerah ini telah berkembang menjadi endapan nikel laterit akibat aktivitas tektonik serta pelapukan intensif. Morfologi cekungan memungkinkan terjadinya transportasi dan redeposisi material laterit sehingga membentuk zona limonit eks situ dengan karakteristik geokimia yang berbeda dari limonit in situ. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi dan mendiferensiasi kedua zona tersebut melalui pendekatan geokimia serium (Ce) dan unsur utama. Penelitian menggunakan 1653 data assay ICP-MS dan XRF dari 43 titik bor, serta data pengamatan lapangan pada 31 titik. Metode yang digunakan meliputi pemetaan lapangan, analisis data eksploratif, analisis geokimia, analisis petrografi, serta pemodelan laterit implisit tiga dimensi. Daerah penelitian tersusun atas litologi berupa harsburgit, lerzolit, dan dunit yang telah mengalami serpentinisasi dengan struktur geologi interpretatif berarah dominan barat laut–tenggara dan barat–timur. Profil laterit terdiri atas limonit eks situ atau transported limonite (TRL), endapan rawa (SED), limonit in situ (LIM), soft saprolite (SSP), hard saprolite (HSP), dan batuan dasar (BRK). Analisis geokimia menunjukkan bahwa limonit eks situ memiliki tren laterisasi yang menyimpang dari pola laterisasi dominan pada profil laterit. Semakin besar penyimpangan mengindikasikan transportasi dan redeposisi limonit yang semakin jauh. Hal ini ditunjukkan oleh kecenderungan peningkatan Al2O3. Pengayaan Ce pada limonit eks situ bersifat non-selektif, sedangkan limonit in situ menunjukkan pengayaan selektif (Ce/Ce* > 1) akibat oksidasi Ce3+ menjadi Ce4+. Pada limonit eks situ, Ce berkorelasi dengan Al2O3 dan SiO2, sedangkan pada limonit in situ, Ce berkorelasi dengan MnO dan Fe2O3. Secara vertikal, limonit eks situ menunjukkan distribusi heterogen berupa perselingan endapan rawa dan perulangan red–yellow limonite yang merepresentasikan redeposisi bertahap dari berbagai sumber limonit. Secara spasial, perbedaan genesis menyebabkan limonit eks situ hanya berkembang pada area cekungan, sedangkan limonit in situ terbentuk langsung di atas batuan dasar sehingga tersebar hampir di seluruh area penelitian berdasarkan pemodelan implisit tiga dimensi. Perbedaan karakteristik geokimia antara limonit eks situ dan in situ dikontrol oleh geomorfologi, perbedaan kondisi redoks, mobilitas unsur selama laterisasi, sifat valensi unsur, serta proses pembentukan yang berbeda.