📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

STUDI GEOLOGI DAN MINERALISASI TIMAH DAN UNSUR TANAH JARANG PADA ENDAPAN PRIMER DI DAERAH TANJUNG GUNUNG, KABUPATEN BANGKA TENGAH, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pulau Bangka dikenal memiliki potensi endapan timah primer dan unsur tanah jarang (UTJ), namun keterkaitan antara keduanya masih belum diteliti secara mendalam. Penelitian berlokasi pada daerah Tanjung Gunung, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, dalam IUP PT Timah Tbk. dengan luas sekitar 12 km2. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi geologi beserta kontrolnya terhadap proses alterasi dan mineralisasi, menganalisis karakteristik geokimia granitoid, serta mengidentifikasi zona alterasi, karakteristik, dan persebaran mineralisasi timah dan UTJ di daerah penelitian. Data dikumpulkan melalui pemetaan lapangan pada 79 titik observasi, kemudian diintegrasikan dengan analisis petrografi, mineragrafi, X-Ray Fluorescence (XRF), X-Ray Diffraction (XRD), dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Secara geomorfologi, daerah penelitian diklasifikasikan menjadi dua satuan berupa Satuan Perbukitan Struktural Tanjung Gunung dan Satuan Dataran Denudasional Tanjung Gunung. Daerah penelitian tersusun atas empat satuan batuan, yaitu metabatupasir, batupasir, granit, dan endapan aluvial. Berdasarkan data geokimia, granit terbentuk akibat kolisi Blok Sibumasu dengan Sukhothai Arc–Indochina pada Trias Akhir–Jura Awal yang menghasilkan intrusi granitoid tipe-S peraluminous yang dikonfirmasi oleh nilai A/CNK sebesar 1,28 dan posisi sampel pada field syn-collision granites. Karakteristik geokimia granitoid dicirikan oleh pengayaan LREE, anomali negatif Eu, serta deplesi Ba, Sr, P, dan Ti yang mencerminkan evolusi magmatik lanjut. Struktur geologi didominasi oleh sesar mendatar menganan berarah NW-SE yang mengontrol bukaan rekahan tarik NNW-SSE sebagai jalur utama migrasi fluida hidrotermal. Lima zona alterasi teridentifikasi dengan urutan pembentukan dari fase suhu tinggi ke rendah berupa albitisasi, greisenisasi, serisitisasi, argilisasi, dan silisifikasi, dengan zona greisenisasi sebagai target paling prospektif mineralisasi timah. Mineralisasi timah primer hadir dalam empat tipe struktur berupa diseminasi, single vein, sheeted vein, dan lode vein berarah dominan NNW-SSE hingga WNW-ESE yang terbentuk dalam tiga fase paragenesis berupa fase magmatik, hidrotermal, dan supergen. Mineralisasi UTJ bersumber dari mineral aksesori berupa monasit, apatit, dan zirkon, dengan pengayaan maksimum yang terkonsentrasi di dalam zona albitisasi.

2026
👤 Penulis: A. Zaky Aditya
🏷️ Geologi 🏷️ Mineralisasi Timah 🏷️ Hidrologi

TINGKAT KEMUDAHAN TAMBANG BERDASARKAN TIPE BONGKAH, RQD DAN SILIKA BEBAS PADA BLOK A, DAERAH ROUTA, KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA

Dalam pertambangan nikel laterit, tipe bongkah, nilai Rock Quality Designation (RQD), dan kandungan silika bebas merupakan parameter penting dalam kajian geologi teknik untuk menilai kualitas massa batuan, tingkat rekahan, serta kekerasan batuan. Ketiga parameter tersebut berpengaruh terhadap kemudahan penggalian, fragmentasi material, produktivitas alat gali, dan tingkat kemudahan tambang (mineability level). Penelitian ini dilakukan di daerah Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan tujuan menganalisis distribusi tipe bongkah, RQD, dan silika bebas untuk menentukan tingkat kemudahan tambang pada area penelitian. Data yang digunakan meliputi pengamatan geomorfologi lapangan, pengukuran panjang bongkah dan RQD, data assay geokimia dari 408 titik bor, dua sampel petrografi, serta data DEMNAS. Secara umum, profil laterit pada area penelitian terdiri atas zona top soil, limonit, saprolit, dan bedrock. Litologi penyusun daerah penelitian didominasi oleh dunit dan peridotit. Analisis distribusi tipe bongkah, RQD, dan silika bebas pada zona saprolit dilakukan menggunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW), sedangkan distribusi kedalaman sumur bor menuju bedrock dianalisis menggunakan metode Triangulated Irregular Network (TIN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa area penelitian didominasi oleh tipe bongkah WT3 sebesar 65,7% dan nilai RQD buruk hingga sangat buruk (<50%). Kondisi tersebut mengindikasikan intensitas rekahan yang cukup tinggi. Distribusi silika bebas pada zona saprolit didominasi kandungan SiO? sebesar 35-45%, sehingga tidak menunjukkan adanya pengayaan silika bebas >50%. Secara umum, Blok A masih berpotensi untuk dilakukan penambangan nikel dengan tingkat kemudahan tambang yang baik, meskipun tetap diperlukan kajian lanjutan terkait aspek teknis penambangan lainnya.

2026
👤 Penulis: Muhammad Rifandy Rafli
🏷️ Geologi Teknik 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

REE DOWNSTREAM FINANCING STRATEGY THROUGH FUTURE FLOW ASSET SECURITIZATION: A CASE STUDY OF REFINERY AND NDFEB MAGNET FACILITY FINANCING

Indonesia memiliki cadangan Rare Earth Elements (REE) yang signifikan secara global di Bangka-Belitung, namun belum mewujudkan kilang pengolahan terpadu di hilir. Pembiayaan proyek konvensional tidak mampu memperhitungkan tiga risiko yang saling berkaitan — volatilitas harga keranjang REE, kendala sovereign ceiling yang membatasi peringkat kredit BUMN pada batas peringkat kedaulatan Indonesia, dan ketidakpastian tingkat pemulihan pemisahan kimia REE — sehingga menciptakan kesenjangan pembiayaan struktural yang menghalangi kebijakan hilirisasi untuk mengubah pasir mineral berat kaya monasit menjadi rantai pasokan Separated Rare Earth Oxides yang berbasis domestik. Dengan rancangan metode campuran pragmatis (Analisis Tekno-Ekonomi, pemodelan arus kas terdiskonto, analisis sensitivitas dan pengujian stres; serta wawancara ahli semi-terstruktur dengan OJK, BAPETEN, BAPPENAS, praktisi keuangan terstruktur, praktisi hukum, dan manajemen senior Perminas), penelitian ini mengkaji Future Flow Asset Securitization (SA) melalui tiga lini pertanyaan: pengukuran kumpulan aset yang dapat disekuritisasi, perancangan struktur SA yang sesuai regulasi Indonesia, serta pembandingan SA dengan pembiayaan proyek konvensional pada dimensi keuangan dan non-keuangan. Proyek terpadu tiga provinsi (Bangka-Belitung, Sulawesi Barat, Aceh; CAPEX USD 1.048 juta; NPV USD 192,5 juta; IRR 15,6%) layak pada baseline namun tidak memadai secara struktural di bawah pembiayaan konvensional; piutang ko mineral di Blok Tami'ang memberikan peningkat kredit alami pada empat kategori aset yang dapat disekuritisasi (RQ1). SPV luar negeri yang terlindungi dari kebangkrutan dengan True Sale melalui empat jalur regulasi (ESDM, KIK-EBA, DBH, perizinan subnasional) dapat diimplementasikan dalam kerangka POJK (RQ2). SA berpotensi menghasilkan pengurangan Biaya Modal 200–600 basis poin di atas sovereign ceiling, tenor sesuai Life of Mine, DSCR terjaga dalam kondisi stres, dan kapasitas CAPEX penuh melalui tranching — mengungguli pada tiga dari empat dimensi non-keuangan (RQ3). Studi ini membawa Sekuritisasi Aliran Kas Masa Depan ke ranah kumpulan multi aset ko-mineral dalam arsitektur KIK-EBA. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan cetak biru struktural bagi Perminas, jalur operasionalisasi KIK-EBA bagi OJK, serta referensi koordinasi bagi BAPPENAS dalam kerangka RPJMN.

2026
👤 Penulis: Yusri Amsal
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PEMBANGUNAN SISTEM JARINGAN STASIUN CORS-GNSS UNTUK KEPERLUAN SURVEY PEMETAAN TELITI

Ketersediaan infrastruktur Continuously Operating Reference Station (CORS) yang andal dan mudah diakses merupakan kebutuhan mendasar dalam mendukung survei pemetaan teliti di Indonesia. Meskipun banyak institusi pemerintah dan perguruan tinggi telah memiliki receiver GNSS (Global Navigation Satellite System) geodetik yang mumpuni, sebagian besar perangkat tersebut belum dioperasikan sebagai stasiun CORS aktif yang memberikan layanan kepada publik akibat ketiadaan sistem jaringan layanan yang mandiri. Penelitian ini mengembangkan sistem jaringan stasiun CORS-GNSS berbasis perangkat lunak (service-oriented) yang menyediakan dua layanan utama: layanan koreksi Real-time Kinematic (RTK) berbasis protokol NTRIP dan layanan unduh data pengamatan GNSS dalam format RINEX melalui dashboard berbasis web. Sistem dibangun menggunakan perangkat lunak STRSVR dari paket RTKLIB sebagai komponen NTRIPCaster dan NTRIPServer, mekanisme TCP Tunneling menggunakan Localtonet untuk mengatasi keterbatasan alamat IP dinamis, serta platform dashboard yang dikembangkan dengan Python Flask sebagai backend dan HTML5/Bootstrap 5.3 sebagai frontend. Hasil pengujian lapangan pada variasi panjang baseline 0–30 km menunjukkan sistem mampu mempertahankan status resolusi ambiguitas FIXED dengan nilai Age of Correction stabil pada 1 detik dan ketelitian horizontal RMSE berkisar antara 0,017– 0,030 m. Pada baseline melebihi 30 km, status pengamatan menurun menjadi Float akibat dekorelasi spasial. Sistem yang dihasilkan bersifat generik, skalabel, dan dapat diimplementasikan oleh berbagai institusi yang memiliki receiver GNSS geodetik untuk membangun layanan CORS mandiri tanpa ketergantungan pada penyedia pihak ketiga.

2026
👤 Penulis: Bintang Dwi Gustianto
🏷️ Sistem Jaringan Stasiun Cors-Gnss 🏷️ Geodesi Digital 🏷️ Teknologi Informasi Dalam Geografi

EFEKTIVITAS MULTIMEDIA INTERAKTIF FLAZZLE “YUK SHALAT” BERBASIS AUGMENTED REALITY TERHADAP RETENSI MEMORI ANAK

Rendahnya retensi memori anak terhadap tata cara salat disebabkan oleh metode konvensional yang kurang interaktif dan tidak sesuai dengan karakteristik kognitif anak fase operasional konkret. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas media interaktif komersial Flazzle "Yuk Shalat" berbasis Augmented Reality (AR) dalam meningkatkan retensi memori serta menganalisis hubungan antara pengalaman pengguna (UX) dengan retensi memori anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental pretest- posttest control group design dan delayed test (7 hari). Subjek penelitian terdiri dari 60 siswa kelas 2 Madrasah Ibtidaiyyah yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (menggunakan media Flazzle AR) dan kelompok kontrol (menggunakan buku modul konvensional). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test, Mann-Whitney U, dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Flazzle AR secara signifikan efektif dalam meningkatkan pemahaman langsung siswa (p= 0,000, p<0,05), dimana pemahaman pada aspek visualisasi gerakan dan bacaan memiliki proporsi yang seimbang. Namun, efektivitasnya dalam mempertahankan retensi memori tidak lebih unggul dibandingkan metode konvensional karena adanya faktor pengulangan aktif melalui program pembiasaan keagamaan di sekolah. Lebih lanjut, tidak ditemukan hubungan signifikan antara pengalaman pengguna (UX) dengan retensi memori (r= 0,081, p= 0,675), yang mengindikasikan bahwa aspek kesenangan dan kemudahan dalam desain media tidak cukup untuk menjamin informasi dapat bertahan dalam jangka waktu lama. Kesimpulannya, media AR efektif untuk pemahaman awal, namun untuk memperkuat retensi memori, desain interaktif perlu mengintegrasikan elemen retrieval practice dan pengulangan terjadwal dalam bentuk fitur notifikasi yang mengingatkan anak mengulang materi, kuis mengingat dengan tingkatan level, integrasi fitur dengan praktik nyata seperti “Praktikkan aku” yang nantinya akan mendorong anak mempelajari kembali materi yang sudah didapatkan. Kontribusi penelitian ini menekankan pentingnya integrasi antara prinsip pedagogis dan psikologi kognitif dalam perancangan media interaktif berbasis AR untuk anak.

2026
👤 Penulis: Nurul Khikmatul A M
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KLASIFIKASI CITRA MEDIS DENGAN PENDEKATAN KERNEL BASED GAUSSIAN COPULA PROCESS : STUDI KASUS KLASIFIKASI CITRA MRI TUMOR DAN NON-TUMOR

Klasifikasi gambar merupakan permasalahan penting dalam Machine Learning (ML) yang bertujuan untuk memetakan citra ke dalam kelas tertentu berdasarkan pola visual. Namun, karakteristik data gambar yang berdimensi tinggi, memiliki distribusi marginal non-Gaussian, serta hubungan non-linear antar fitur menyebabkan metode klasik sering kali kurang optimal. Penelitian ini mengusulkan penggunaan Kernel Based Gaussian Copula Process (KCP) untuk klasifikasi gambar. Metode ini memisahkan pemodelan distribusi marginal dan struktur dependensi, di mana distribusi marginal dimodelkan secara fleksibel, sedangkan dependensi antar data direpresentasikan melalui kernel dalam ruang laten Gaussian. Transformasi copula digunakan untuk memetakan data ke ruang Gaussian sehingga dapat dimodelkan menggunakan Gaussian Process. Data gambar direpresentasikan dalam bentuk fitur numerik, kemudian dilakukan proses pelatihan dan pengujian model. Kinerja model dibandingkan dengan metode klasik, yaitu Logistic Regression, Gaussian Process Classification, dan Mixture of Gaussian. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap variasi jumlah data latih serta terhadap gangguan noise pada citra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model KCP memberikan performa klasifikasi yang lebih baik dibandingkan metode klasik, serta memiliki stabilitas yang tinggi terhadap perubahan data dan noise. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis copula mampu meningkatkan fleksibilitas dan akurasi dalam klasifikasi data gambar.

2026
👤 Penulis: Davina Sybilla Bahrudin
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Gambar 🏷️ Metode Klasifikasi

PEMBANGUNAN SISTEM JARINGAN STASIUN CORS-GNSS UNTUK KEPERLUAN SURVEY PEMETAAN TELITI

Ketersediaan infrastruktur Continuously Operating Reference Station (CORS) yang andal dan mudah diakses merupakan kebutuhan mendasar dalam mendukung survei pemetaan teliti di Indonesia. Meskipun banyak institusi pemerintah dan perguruan tinggi telah memiliki receiver GNSS (Global Navigation Satellite System) geodetik yang mumpuni, sebagian besar perangkat tersebut belum dioperasikan sebagai stasiun CORS aktif yang memberikan layanan kepada publik akibat ketiadaan sistem jaringan layanan yang mandiri. Penelitian ini mengembangkan sistem jaringan stasiun CORS-GNSS berbasis perangkat lunak (service-oriented) yang menyediakan dua layanan utama: layanan koreksi Real-time Kinematic (RTK) berbasis protokol NTRIP dan layanan unduh data pengamatan GNSS dalam format RINEX melalui dashboard berbasis web. Sistem dibangun menggunakan perangkat lunak STRSVR dari paket RTKLIB sebagai komponen NTRIPCaster dan NTRIPServer, mekanisme TCP Tunneling menggunakan Localtonet untuk mengatasi keterbatasan alamat IP dinamis, serta platform dashboard yang dikembangkan dengan Python Flask sebagai backend dan HTML5/Bootstrap 5.3 sebagai frontend. Hasil pengujian lapangan pada variasi panjang baseline 0–30 km menunjukkan sistem mampu mempertahankan status resolusi ambiguitas FIXED dengan nilai Age of Correction stabil pada 1 detik dan ketelitian horizontal RMSE berkisar antara 0,017– 0,030 m. Pada baseline melebihi 30 km, status pengamatan menurun menjadi Float akibat dekorelasi spasial. Sistem yang dihasilkan bersifat generik, skalabel, dan dapat diimplementasikan oleh berbagai institusi yang memiliki receiver GNSS geodetik untuk membangun layanan CORS mandiri tanpa ketergantungan pada penyedia pihak ketiga.

2026
👤 Penulis: Fernando Hasian Bakara
🏷️ Geodesi 🏷️ Sistem Jaringan Stasiun Cors-Gnss 🏷️ Teknologi Informasi Dalam Geodesi

KETENANGAN DALAM ARUS: PERPUSTAKAAN UMUM TERINSPIRASI AIR SEBAGAI RUANG TEDUH SEMENTARA DI GEDEBAGE, BANDUNG

Sifat air yang mengalir dan dapat berubah-ubah, merepresentasikan dualitas kehidupan manusia, baik yang tenang maupun yang penuh hambatan. Dalam proyek ini, air tidak hanya berperan sebagai elemen fisik, tetapi juga sebagai konsep dasar yang membentuk atmosfer, perilaku pengguna, maupun pengalaman ruang. Karakter air yang adaptif diterjemahkan ke dalam bentuk arsitektur untuk menciptakan perpustakaan umum yang memberikan ketenangan dan kenyamanan di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Seperti air yang mengalir, perpustakaan ini didesain sebagai tempat perlindungan sementara dari tekanan kehidupan perkotaan dimana para pengguna dapat berhenti sejenak sebelum melanjutkan kehidupannya masing-masing. Sebagai salah satu pusat kota dan pendidikan yang terus berkembang di Indonesia, Bandung mengalami urbanisasi yang pesat, terutama di kawasan berkembang seperti Gedebage. Pertumbuhan ini membentuk lingkungan kota yang semakin padat dan berpotensi menimbulkan overstimulasi bagi penggunanya. Pada sisi lain, Indonesia juga sedang menghadapi penurunan tingkat literasi, serta fasilitas perpustakaan yang tidak memadai, terutama dalam segi distribusi layanan, dan tingkat kunjungan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya fasilitas pembelajaran umum yang tidak hanya berfungsi tetapi juga dapat membuat pengguna merasa lebih nyaman, tenang dan inklusif di lingkungannya. Untuk proyek ini, tipologi yang dipilih adalah perpustakaan umum karena perpustakaan dapat mengintegrasikan beberapa aktivitas, seperti membaca, belajar, dan berinteraksi antar pengguna. Namun, dalam proyek ini, perpustakaan dirancang bukan hanya sebagai fasilitas literasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang merespons overstimulasi kota melalui pengaturan zona dan pengalaman ruang yang lebih tenang. Perpustakaan ini terletak di Gedebage, Bandung, di kawasan fasilitas publik yang kini sedang berkembang, sehingga memiliki posisi yang strategis untuk menjangkau lingkungan pendidikan, permukiman, serta masyarakat perkotaan di sekitarnya. Kondisi tapak yang berada di dataran rendah dan rawan banjir, menjadi peluang untuk menghadirkan air lebih dari sekedar elemen simbolis, tetapi juga sebagai bagian dari strategi desain yang merespons kondisi lingkungan secara langsung. Pendekatan desain dalam proyek ini mencakup pendekatan perilaku pengguna, zonasi sensorik, dan keberlanjutan. Ruang-ruang di dalam perpustakaan disusun berdasarkan tingkat stimulasi yang berbeda, sehingga pengguna dapat mengalami perpindahan secara bertahap dari suasana kota yang padat dan ramai menuju lingkungan yang lebih tenang, nyaman, dan fokus. Elemen air dihadirkan melalui kolam, courtyard, koneksi visual, bioswale, rain garden, serta evaporative cooling facade untuk membantu menurunkan suhu, mengelola air hujan, dan merespons kondisi pulau panas perkotaan. Dalam proses perancangannya, proyek ini menggunakan beberapa metode, seperti studi literatur mengenai arsitektur yang terinspirasi oleh air, analisis tapak, analisis aktivitas pengguna berdasarkan kelompok usia dan pola penggunaan, studi preseden perpustakaan publik, serta observasi terhadap perpustakaan eksisting di Bandung. Metode-metode ini menjadi dasar untuk merancang perpustakaan yang tidak hanya menjawab kebutuhan literasi, tetapi juga merespons isu sosial dan lingkungan di sekitarnya. Dalam proses perancangannya, proyek ini menggunakan beberapa metode, seperti studi literatur mengenai arsitektur yang terinspirasi oleh air, analisis tapak, analisis aktivitas pengguna berdasarkan kelompok usia dan pola penggunaan, studi preseden perpustakaan publik, serta observasi terhadap perpustakaan eksisting di Bandung. Metode-metode ini menjadi dasar untuk merancang perpustakaan yang tidak hanya menjawab kebutuhan literasi, tetapi juga merespons isu sosial dan lingkungan di sekitarnya.

2026
👤 Penulis: Sabrina Hessa Kalila
🏷️ Perpustakaan Umum 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Desain Arsitektur

PEMBANGUNAN SISTEM JARINGAN STASIUN CORS-GNSS UNTUK KEPERLUAN SURVEY PEMETAAN TELITI

Ketersediaan infrastruktur Continuously Operating Reference Station (CORS) yang andal dan mudah diakses merupakan kebutuhan mendasar dalam mendukung survei pemetaan teliti di Indonesia. Meskipun banyak institusi pemerintah dan perguruan tinggi telah memiliki receiver GNSS (Global Navigation Satellite System) geodetik yang mumpuni, sebagian besar perangkat tersebut belum dioperasikan sebagai stasiun CORS aktif yang memberikan layanan kepada publik akibat ketiadaan sistem jaringan layanan yang mandiri. Penelitian ini mengembangkan sistem jaringan stasiun CORS-GNSS berbasis perangkat lunak (service-oriented) yang menyediakan dua layanan utama: layanan koreksi Real-time Kinematic (RTK) berbasis protokol NTRIP dan layanan unduh data pengamatan GNSS dalam format RINEX melalui dashboard berbasis web. Sistem dibangun menggunakan perangkat lunak STRSVR dari paket RTKLIB sebagai komponen NTRIPCaster dan NTRIPServer, mekanisme TCP Tunneling menggunakan Localtonet untuk mengatasi keterbatasan alamat IP dinamis, serta platform dashboard yang dikembangkan dengan Python Flask sebagai backend dan HTML5/Bootstrap 5.3 sebagai frontend. Hasil pengujian lapangan pada variasi panjang baseline 0–30 km menunjukkan sistem mampu mempertahankan status resolusi ambiguitas FIXED dengan nilai Age of Correction stabil pada 1 detik dan ketelitian horizontal RMSE berkisar antara 0,017– 0,030 m. Pada baseline melebihi 30 km, status pengamatan menurun menjadi Float akibat dekorelasi spasial. Sistem yang dihasilkan bersifat generik, skalabel, dan dapat diimplementasikan oleh berbagai institusi yang memiliki receiver GNSS geodetik untuk membangun layanan CORS mandiri tanpa ketergantungan pada penyedia pihak ketiga.

2026
👤 Penulis: Rizky Ori Yahya
🏷️ Sistem Jaringan Stasiun Cors-Gnss 🏷️ Geodesi Digital 🏷️ Teknologi Informasi Dalam Geografi

ANALISIS KEADILAN SPASIAL DALAM PENYEDIAAN TAMAN TERHADAP MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KOTA BANDUNG

Tingkat kepadatan penduduk Kota Bandung yang sangat tinggi (15.233 jiwa/km²), diiringi dengan dominasi lahan terbangun sebesar 67,76%, telah menyebabkan ruang perkotaan menjadi semakin terbatas dan kompetitif. Tekanan spasial tersebut secara langsung memicu krisis penyediaan taman kota, yang tercermin dari capaian Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik yang baru menyentuh angka 12,15%. Di tengah keterbatasan tersebut, Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) menjadi kelompok yang paling rentan. Keterbatasan daya beli menjebak mereka pada segregasi hunian padat dan menyempitkan akses terhadap ruang rekreasi komersial. Oleh karena itu, keberadaan taman publik aktual yang dekat dan bebas biaya menjadi kebutuhan strategis bagi kelompok ini. Sayangnya, penilaian terhadap taman perkotaan pada studi terdahulu kerap bertumpu pada distribusi spasial dan cakupan radius semata, sehingga mengabaikan realitas kompleks terkait hambatan rute pejalan kaki dan kapasitas layanan taman. Padahal, penyediaan taman bagi kawasan MBR tidak dapat dinilai sekadar dari dokumen perencanaan, melainkan harus dikaitkan dengan pemerataan manfaat layanan aktual yang diterima penduduk. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan menerapkan pendekatan multidimensional untuk mengevaluasi bagaimana taman aktual lintas hierarki benar-benar melayani permukiman MBR. Secara spesifik, penelitian ini menganalisis keadilan spasial penyediaan taman di Kota Bandung melalui pendekatan spasial-kuantitatif yang meliputi: validasi taman aktual, identifikasi permukiman MBR, pemodelan sebaran penduduk mikro, pengukuran dimensi Spatial Proximity, Density, Connectivity, dan Diversity, serta penyusunan Indeks Keadilan Taman (IKT) pada skenario 500 meter dan 1.000 meter. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa dari 455 objek taman yang tercatat di RDTR, hanya 303 objek yang tervalidasi sebagai taman aktual. Ketersediaan taman aktual tersebut kemudian dianalisis tingkat pelayanannya terhadap permukiman MBR yang teridentifikasi ke dalam tipologi formal, swadaya, dan liar. Berdasarkan pengukuran tersebut, nilai rata-rata IKT pada skenario 500 meter hanya mencapai 0,13 dengan median 0, yang mengindikasikan bahwa mayoritas kawasan MBR belum terlayani secara memadai. Ketika batas jangkauan diperluas menjadi 1.000iv meter, rata-rata IKT meningkat menjadi 0,38. Namun, peningkatan ini bersifat bersyarat karena perbaikan layanan baru dapat diakses setelah kelompok MBR menanggung pengorbanan ekstra berupa tambahan waktu tempuh dan kelelahan fisik di luar batas toleransi ideal. Secara spasial, deprivasi layanan tetap persisten pada permukiman organik berkepadatan tinggi (seperti Batununggal) meskipun batas jangkauan telah ditingkatkan. Sebaliknya, keadilan taman yang tinggi justru secara paradoks terkonsentrasi di sekitar kawasan perumahan terpadu skala besar (seperti Gedebage), dengan akses MBR lebih didorong oleh fenomena eksternalitas positif yang terjadi. Kontras antara sebagian kecil kelompok MBR yang diuntungkan secara lokasi dengan mayoritas MBR lain yang masih terisolasi ini mempertegas wujud ketimpangan spasial di Kota Bandung. Berangkat dari fenomena tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa ketidakadilan taman bagi kelompok MBR berakar pada tiga tipologi persoalan: Krisis Ketersediaan Ruang, Beban Kepadatan Berlebih, dan Beban Jarak Aksesibilitas. Secara konseptual dan metodologis, penyusunan IKT menawarkan instrumen yang menggeser tata ruang dari sekadar pemenuhan kuota hijau menjadi evaluasi kerentanan spasial. Pada akhirnya, pendekatan ini menegaskan bahwa arahan penanganan tidak dapat dilakukan melalui satu intervensi tunggal, melainkan harus diarahkan secara spesifik sesuai dengan tipologi persoalan pada kawasan prioritas, agar penyediaan taman dapat memberikan pemerataan manfaat yang berkeadilan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Fauzan Arfanjani
🏷️ Geografis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

REIMAGINING KERTAJATI AIRPORT TERMINAL: INTEGRASI KANOPI IKLIM SEBAGAI IKON ARSITEKTUR RESPONSIF BAGI GERBANG METROPOLITAN REBANA

Proyek Tugas Akhir ini berfokus pada topik Arsitektur Performatif sebagai Ikon Kontemporer, yang mengeksplorasi bagaimana sebuah infrastruktur dapat menjadi tengara (landmark) bukan melalui metafora bentuk semata, melainkan melalui kinerja terukur dalam merespons konteks iklim, operasional, dan sosio-kultural. Relevansi topik ini terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) tercermin dalam tujuannya untuk merancang infrastruktur tangguh (SDG 9), mempromosikan efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan (SDG 7), serta memberikan solusi adaptif terhadap tantangan perubahan iklim (SDG 11 & 13). Latar belakang perancangan ini adalah adanya tiga isu spesifik pada Bandara Internasional Kertajati. Pertama, diskrepansi antara identitas arsitektural eksisting yang menggunakan metafora generik "Burung Merak" dengan peran strategis barunya sebagai gerbang utama Kawasan Metropolitan Rebana yang berorientasi teknologi dan investasi global. Kedua, tantangan iklim tropis ekstrem di tapak, yang merupakan salah satu lokasi terpanas di Indonesia, menuntut solusi radikal untuk mengatasi tekanan panas (heat stress) dan mengurangi konsumsi energi. Ketiga, potensi konteks lokal Majalengka (material dan kearifan vernakular) yang belum dieksplorasi secara maksimal. Tipologi arsitektur yang dipilih adalah Terminal Bandara Internasional, karena perannya sebagai simpul infrastruktur krusial yang keberhasilan desainnya akan berdampak langsung pada citra dan momentum pembangunan seluruh kawasan strategis nasional. Pendekatan desain yang digunakan adalah "Arsitektur Keseimbangan", sebuah sintesis antara arsitektur berkinerja tinggi (high-performance architecture) dan regionalisme kritis (critical regionalism). Pendekatan ini secara sadar menolak dikotomi antara bentuk dan fungsi, di mana solusi terhadap tantangan iklim dan operasional justru menjadi generator utama bagi ekspresi arsitektur yang baru dan otentik. Metode perancangan yang digunakan meliputi studi literatur regulasi, analisis tapak kritis, studi komparatif preseden internasional, dan validasi desain berbasis data kuantitatif serta target Indikator Kinerja Kunci (KPI). Tujuan utama perancangan adalah meredesain Terminal Bandara Kertajati menjadi sebuah ikon arsitektur performatif yang merepresentasikan visi Metropolitan Rebana. Luaran yang diharapkan adalah sebuah rancangan arsitektur dengan "Kanopi Iklim" sebagai elemen sentral, sebuah sistem terintegrasi yang berfungsi sebagai pengatur iklim pasif-aktif, generator energi, dan sistem panen air. Secara teoretis, proyek ini bertujuan menawarkan model desain bandara tropis yang hemat energi dan berkontribusi pada wacana arsitektur ikonik yang lahir dari kinerja, bukan sekadar simbolisme.

2026
👤 Penulis: Hizkia Rabani Yusuf
🏷️ Arsitektur Performatif 🏷️ Kebijakan Sustainabilitas Sdgs 🏷️ Desain Regionalistik

THE ORCHID DOME: AN ORCHID FOCUSED LEARNING EXPERIENCE MUSEUM AND BOTANICAL ART SPACE AT BOGOR BOTANICAL GARDEN

Kebun Raya Bogor merupakan destinasi wisata botani tertua dan terbesar di Indonesia dengan lebih dari 15.000 spesies tumbuhan tropis, namun perannya sebagai pusat edukasi belum optimal akibar keterbatasan ruang dan metode pembelajaran yang kurang interaktif. Selain itu, komunitas seni botani (botanical art) di kawasan ini belum terfasilitasi secara memadai, padahal berpotensi meningkatkan pengalaman belajar dan keterlibatan pengunjung. Proyek ini merancang, The Orchid Dome, sebuah museum edukasi berbasis pengalaman (experiental learning) yang memadukan seni botani dan ilmu botani, dengan anggrek sebagai subjek utama karena keragaman spesies dan warnanya dengan lokasi di Kebun Raya Bogor. Rancangan kemudian dikembangkan berdasarkan tiga zona utama yaitu Living Zone, Discovery Zone dan Experiment Zone, yang masing-masing mewadahi rumah kaca anggrek, museum, ruang seni botani dan berkebun, perpustakaan, serta area eksplorasi. Penataan desain menekankan sirkulasi sekuensial dan naratif, kenyamanan mikroklimat, fleksibilitas program ruang, penggunaan material sensorik dan berkelanjutan, serta integrasi kontekstual dengan lanskap Kebun Raya Bogor. Bentuk massa bangunan berupa gubahan dome yang parametrik mendukung ventilasi silang dan efek cerobong (chimney effect) untuk respons iklim tropis. Melalui pendekatan ini, The Orchid Dome diharapkan menjadi ruang belajar multisensori yang memperkuat kedekatan manusia dengan alam, sekaligus menjadi wadah interaksi komunitas, eksplorasi kreatid dan edukasi konservasi tumbuhan.

2026
👤 Penulis: Kirana Shafa Arisanti
🏷️ Kebun Raya Bogor 🏷️ Seni Botani 🏷️ Museum Edukasi

OPTIMISASI ORB-SLAM3 BERBASIS KETIDAKPASTIAN MELALUI FUSI KEDALAMAN STEREO–LIDAR SECARA PROBABILISTIK

Akurasi dan konsistensi estimasi trajectory merupakan aspek fundamental dalam sistem navigasi kendaraan otonom. Namun, Visual SLAM berbasis kamera stereo, seperti ORB-SLAM3, masih menghadapi permasalahan akumulasi drift akibat ketidakpastian estimasi depth, terutama pada area bertekstur rendah, objek berjarak jauh, dan kondisi perubahan arah lintasan yang kompleks. Pendekatan ORB-SLAM3-RGBL berupaya mengurangi keterbatasan tersebut dengan memanfaatkan depth map dari LiDAR. Akan tetapi, proyeksi titik LiDAR bersifat sparse dan rentan terhadap kesalahan asosiasi dengan fitur visual menyebabkan penggunaan depth secara langsung (direct depth injection) berpotensi menghasilkan residual yang tidak konsisten dan menurunkan stabilitas estimasi. Permasalahan ini menunjukkan bahwa penambahan informasi LiDAR tidak selalu cukup untuk meningkatkan performa Visual SLAM apabila reliabilitas observasi depth tidak dievaluasi secara eksplisit. Penelitian ini menjawab permasalahan tersebut melalui metode uncertainty-aware LiDAR-assisted depth fusion, yang memperlakukan LiDAR sebagai referensi geometrik selektif, bukan sebagai sumber depth deterministik. Metode yang diusulkan terdiri atas probabilistic depth consistency modeling, confidence-aware depth weighting, adaptive depthconstrained pose optimization, dan uncertainty-aware local bundle adjustment. Hasil pengujian pada KITTI Odometry sequence 00–10 menunjukkan bahwa konfigurasi Full Proposed (? = 3) mampu menurunkan ATE sebesar 13,03% dan translation error sebesar 12,77% dibandingkan ORB-SLAM3 Stereo, dengan seluruh run pengujian valid dan kecepatan tracking 35 FPS. Hasil tersebut menunjukkan bahwa validasi dan pembobotan depth berbasis ketidakpastian merupakan faktor penting dalam meningkatkan efektivitas fusi visual–LiDAR, sehingga peningkatan performa tidak hanya bergantung pada penambahan sensor, tetapi pada kemampuan sistem menyeleksi dan memanfaatkan observasi geometrik yang reliabel.

2026
👤 Penulis: Yesyurun Masiakh Agape
🏷️ Optimisasi Sistem Navigasi Kendaraan Otonom 🏷️ Ketidakpastian Estimasi Depth 🏷️ Fusi Visual-Lidar

FASILITAS MULTI-OLAHRAGA REHABILITASI UNTUK MENDUKUNG TERWUJUDNYA KOTA SEHAT

Topik utama dari tugas akhir ini adalah perancangan fasilitas olahraga perkotaan terpadu BARA (Bandung Active Recreation Arena) yang mengintegrasikan fungsi olahraga, rehabilitasi, dan ruang publik untuk mendukung terwujudnya Healthy City. Topik ini berkaitan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), serta SDG 13 (Climate Action). Keterkaitan tersebut diwujudkan melalui penyediaan fasilitas yang mendorong gaya hidup sehat, menghadirkan ruang publik yang inklusif dan aktif, serta menerapkan strategi perancangan yang responsif terhadap kondisi perkotaan dan lingkungan. Saat ini, Kota Bandung menghadapi berbagai tantangan dalam penyediaan fasilitas olahraga publik, di antaranya kepadatan kawasan urban, keterbatasan lahan, rendahnya aktivasi kawasan olahraga, serta meningkatnya minat masyarakat untuk berolahraga. Di sisi lain, kawasan GOR Pajajaran memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan olahraga terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai lokasi penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga sebagai destinasi olahraga, rekreasi, dan ruang interaksi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya tipologi fasilitas olahraga yang mampu mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu kawasan secara lebih efisien, aktif, dan adaptif terhadap perkembangan kota. Menurut World Health Organization (WHO), Healthy City merupakan kota yang secara berkelanjutan menciptakan dan meningkatkan kondisi fisik maupun sosial untuk mendukung kesehatan, kesejahteraan, serta kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, perancangan BARA tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas olahraga dan rehabilitasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang mampu meningkatkan aktivitas fisik, memperkuat interaksi sosial, serta menghidupkan kembali kawasan olahraga melalui integrasi berbagai fungsi dan aktivitas dalam satu lingkungan yang saling terhubung. Pendekatan arsitektur yang digunakan berorientasi pada pengalaman pengguna melalui penerapan fluid spatial integration, active vertical circulation, sensory-stimulating environments, serta ruang yang fleksibel dan multifungsi. Pendekatan ini didukung oleh konsep neuroplastisitas yang memandang bahwa lingkungan fisik dapat memengaruhi kemampuan manusia untuk beradaptasi, pulih, dan berkembang melalui pengalaman ruang yang positif. Metode perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis tapak, studi preseden, serta penyusunan program ruang berdasarkan karakter aktivitas, pola penggunaan, kapasitas, dan fleksibilitas ruang. Hasil analisis tersebut menjadi dasar dalam merumuskan konsep serta strategi perancangan kawasan olahraga yang terintegrasi. Tujuan utama dari perancangan ini yaitu menghadirkan fasilitas olahraga perkotaan yang mampu mengakomodasi berbagai cabang olahraga, fasilitas rehabilitasi, ruang publik aktif, serta fungsi pendukung dalam satu kawasan yang saling terhubung. Dengan demikian, luaran yang diharapkan bukan hanya berupa bangunan olahraga, melainkan sebuah kawasan yang mendorong gaya hidup aktif, meningkatkan kualitas interaksi sosial, mengoptimalkan pemanfaatan kawasan GOR Pajajaran, serta berkontribusi terhadap terwujudnya Healthy City di Kota Bandung.

2026
👤 Penulis: Kalyca Nathania Zahra
🏷️ Kesehatan Publik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Urban

URBAN OASIS DENGAN FASILITAS RESTORATIF DAN REKREASI SEBAGAI RESPONS TERHADAP STRES DAN KELELAHAN URBAN DI JAKARTA SELATAN

Fenomena stres dan kelelahan urban (urban stress dan burnout) menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi masyarakat perkotaan Indonesia. Tingginya intensitas pekerjaan, mobilitas yang padat, kemacetan lalu lintas, polusi udara, kebisingan, serta keterbatasan ruang terbuka hijau berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan psikologis dan menurunnya kualitas hidup masyarakat. Kondisi ini terutama dialami oleh pekerja urban, mahasiswa, dan generasi produktif yang menghadapi tuntutan aktivitas tinggi, namun memiliki akses yang terbatas terhadap ruang publik yang mampu mendukung proses pemulihan fisik maupun mental. Di sisi lain, ruang-ruang kota yang tersedia umumnya lebih berorientasi pada fungsi komersial dibandingkan sebagai tempat untuk beristirahat, berekreasi, dan memulihkan diri. Oleh karena itu, diperlukan sebuah ruang publik yang mampu mengakomodasi kebutuhan restoratif masyarakat secara inklusif, mudah diakses, serta terintegrasi dengan lingkungan perkotaan. Jakarta Selatan dipilih sebagai lokasi perancangan karena merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas perkotaan yang sangat tinggi, ditandai oleh konsentrasi kawasan bisnis, perkantoran, pendidikan, serta pusat komersial yang menghasilkan mobilitas dan intensitas aktivitas yang tinggi. Jakarta juga beberapa kali menempati peringkat kota dengan tingkat stres tertinggi di dunia berdasarkan berbagai indikator, seperti kemacetan, polusi udara, polusi suara, dan kepadatan penduduk. Selain itu, kualitas udara Jakarta yang sering berada pada kategori tidak sehat akibat tingginya konsentrasi PM2.5 semakin meningkatkan risiko gangguan kesehatan fisik dan mental masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penyediaan ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga mampu mendukung proses pemulihan dari tekanan kehidupan urban melalui pengalaman ruang yang lebih sehat, nyaman, dan dekat dengan alam. Tipologi yang diangkat dalam tugas akhir ini adalah urban oasis, yaitu ruang publik yang dirancang sebagai tempat beristirahat, berekreasi, dan melakukan aktivitas restoratif di tengah kepadatan kota. Urban oasis menghadirkan berbagai fasilitas yang mendukung kesejahteraan pengguna, seperti area relaksasi, ruang meditasi dan yoga, jalur pejalan kaki yang teduh, taman interaktif, area bermain, ruang komunitas, fasilitas olahraga ringan, area kuliner, serta elemen air dan ruang hijau yang mendorong interaksi sosial maupun pemulihan psikologis. Konsep ini bertujuan menciptakan lingkungan yang mampu mengurangi tekanan kehidupan perkotaan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Perancangan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penyediaan ruang publik yang inklusif, berkelanjutan, dan layak huni. Pendekatan arsitektur yang digunakan adalah biophilic design, yang berfokus pada penguatan hubungan antara manusia dan alam melalui integrasi elemen-elemen alami ke dalam lingkungan binaan. Prinsip-prinsip yang diterapkan meliputi optimalisasi pencahayaan alami, penghawaan silang, penggunaan vegetasi sebagai elemen utama ruang, pemanfaatan material alami, keberadaan elemen air, serta penciptaan ruang terbuka hijau yang mudah diakses. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman ruang yang restoratif, meningkatkan kenyamanan termal dan psikologis pengguna, serta mendukung proses pemulihan dari stres dan kelelahan akibat kehidupan urban. Metode yang digunakan dalam perancangan meliputi studi literatur mengenai teori urban stress, burnout, biophilic design, dan ruang restoratif, observasi lapangan terhadap karakteristik kawasan Jakarta Selatan dan perilaku masyarakat urban, analisis komparatif terhadap proyek-proyek ruang publik restoratif sebagai studi preseden, serta eksplorasi desain berdasarkan kebutuhan aktivitas pengguna. Hasil yang diharapkan adalah sebuah rancangan urban oasis yang mampu menyediakan fasilitas restoratif dan rekreasi secara terpadu, menghadirkan pengalaman ruang yang nyaman dan menyegarkan, memperkuat hubungan manusia dengan alam di tengah lingkungan perkotaan, serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Jakarta Selatan.

2026
👤 Penulis: Zhafira Aisyananda
🏷️ Urban Oasis 🏷️ Stres Dan Kelelahan Urban 🏷️ Biophilic Design
Halaman 86 dari 6754
💬