📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenARSITEKTUR SEBAGAI MEDIUM TRANSFORMASI PERILAKU: PERANCANGAN RUMAH SINGGAH BAGI ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM (ABH-K) DI KOTA BANDUNG
Bandung dan wilayah sekitarnya merupakan kawasan dengan tingkat kenakalan remaja yang relatif tinggi. Ketika kenakalan remaja telah mencapai tahap yang meresahkan dan termasuk dalam tindak pidana, pelakunya dapat dikategorikan sebagai Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), khususnya dalam klasifikasi Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH-K). Berdasarkan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) Tahun 2012, penyelesaian perkara ABH-K diutamakan melalui diversi atau penyelesaian di luar peradilan formal dengan prinsip keadilan restoratif. Setelah proses penangkapan, ABH-K dapat menjalani masa penahanan sementara dan dititipkan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) atau lembaga sosial lainnya selama proses diversi. Apabila telah diperoleh putusan diversi, anak dapat menjalani proses pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) atau lembaga sosial terkait. Namun demikian, peningkatan jumlah ABH-K di Jawa Barat setiap tahunnya menunjukkan kebutuhan fasilitas untuk mendukung proses pemulihan dan pembinaan. Tugas akhir ini merespons isu tersebut melalui perancangan sebuah rumah singgah bagi ABH-K yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, memastikan keberlanjutan proses hukum, serta menjamin terpenuhinya hak-hak anak selama menjalani masa penanganan. Rumah singgah ini mengakomodasi ABH-K dalam masa penahanan, masa diversi, maupun pasca putusan diversi. Pendekatan desain mengusung tiga konsep utama, yaitu humanistic empowerment, spatial clarity, dan discouraging harmful behavior. Ketiga konsep ini diterapkan untuk menjawab permasalahan desain terkait uang sebagai ruang sebagai kontrol perilaku dan pengaruh ruang bagi kenyamanan psikologis. Secara programatik, rumah singgah ini mencakup fasilitas hunian dengan kapasitas hingga 216 ABH-K, ruang pendidikan berbasis vokasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, zona kunjungan dan konsultasi, layanan umum, kantor pengelola, serta area servis dan ibadah yang terintegrasi dengan ruang terbuka. Pengembangan ini berlokasi di Jl. K.H.P. Hasan Mustopa No. 38, Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan total luas pengembangan sekitar 8.225 m². Melalui pendekatan ini, diharapkan rumah singgah ini dapat berperan sebagai lingkungan rehabilitatif yang mendukung proses pembentukan perilaku, pemulihan psikologis, dan reintegrasi sosial anak.
ANALISIS KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA PIT 302 PANEL 3 PT JEMBAYAN MUARABARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Pit 302 Panel 3 milik PT Jembayan Muarabara merupakan area penambangan batubara terbuka yang menunjukkan indikasi ketidakstabilan lereng berdasarkan pengamatan lapangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kestabilan lereng tambang pada sisi highwall dan lowwall menggunakan metode kesetimbangan batas Morgenstern-Price melalui perangkat lunak Rocscience Slide2. Analisis dilakukan pada tiga penampang lereng (A-A', B-B', dan C-C') dalam kondisi statis dan dinamis dengan skenario muka air tanah (MAT) aktual dan jenuh sepenuhnya. Properti material diperoleh dari kombinasi data primer survei talipindai dan data sekunder hasil pengeboran geoteknik, sehingga analisis turut dilakukan pada dua skenario, yaitu skenario tanpa data primer dan skenario dengan data primer dan sekunder. Analisis probabilistik simulasi Monte-Carlo diterapkan untuk menghitung Probabilitas Keruntuhan (PK). Hasil analisis menunjukkan bahwa kestabilan lereng sangat dipengaruhi oleh kejenuhan MAT dan kondisi pembebanan seismik. Pada skenario tanpa data primer pada kondisi MAT aktual, seluruh lereng highwall berada dalam kondisi stabil sementara seluruh lereng lowwall dalam kondisi tidak stabil. Pada kondisi MAT jenuh sepenuhnya, seluruh lereng highwall dan lowwall berada dalam kondisi tidak stabil dengan PK mencapai 100%, menunjukkan tingginya sensitivitas lereng terhadap kejenuhan muka air tanah. Pada skenario dengan data primer dan sekunder dengan MAT aktual, FK lereng highwall mengalami penurunan signifikan sehingga seluruh lereng berada dalam kondisi tidak stabil kecuali highwall B-B' pada kondisi dinamis, sedangkan pada kondisi MAT jenuh sepenuhnya seluruh penampang berada dalam kondisi tidak stabil. Rekayasa geometri direkomendasikan berupa pelebaran jenjang pada highwall dan pembuatan jenjang baru yang memotong lapisan batulempung karbonatan pada lowwall, dikombinasikan dengan sistem drainase. Setelah penerapan rekomendasi, FK meningkat menjadi 1,217–1,458 (statis) dan 1,103–1,238 (dinamis) dengan PK 0% memenuhi standar Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018.
PERANCANGAN DAN OPTIMASI TURBIN HIDROKINETIK JENIS H-DARRIEUS PADA TAILRACE OPEN CHANNEL PLTA JATIGEDE
Pemanfaatan energi hidrokinetik pada aliran keluaran PLTA merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan tanpa memerlukan pembangunan infrastruktur utama yang signifikan. PLTA Jatigede memiliki saluran tailrace open channel yang merupakan saluran keluaran air yang berpotensi dimanfaatkan sebagai lokasi pemasangan turbin hidrokinetik karena masih memiliki energi kinetik. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perancangan dan optimasi turbin hidrokinetik tipe H-Darrieus yang sesuai dengan karakteristik aliran pada tailrace open channel PLTA Jatigede. Perancangan dilakukan dengan menentukan beberapa parameter tetap berdasarkan literatur dan tiga parameter yang divariasikan yaitu solidity (?), blade pitch angle (?), dan tip speed ratio (TSR) untuk mencari nilai koefisien daya (CP) yang optimum. Data perancangan diperoleh dari karakteristik aliran tailrace PLTA Jatigede. Debit perancangan ditentukan berdasarkan debit andalan Q40 sebesar 60 m3/s. Hasil pengukuran menggunakan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) menunjukkan debit rata-rata terukur sebesar 59,7 m3/s, kecepatan rata-rata aliran sebesar 0,868 m/s, dan kedalaman maksimum sebesar 2,28 m. Berdasarkan kondisi tersebut, turbin H-Darrieus dirancang dengan tinggi 2 m, diameter 1,33 m, dan aspect ratio 1,5 dengan profil hydrofoil S-1046 sebanyak tiga buah sudu. Dengan dimensi tersebut, daya turbin hidrokinetik teoretis maksimum adalah sebesar 870,39 W untuk satu unit turbin. Penelitian dilakukan menggunakan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) 2D transien dengan model turbulensi k-? SST. Simulasi CFD digunakan untuk mendapatkan nilai respons koefisien daya (CP) pada setiap kombinasi parameter input. Titik awal simulasi disusun menggunakan metode maximin Latin Hypercube Design untuk memperoleh sebaran titik yang merata pada ruang desain. Kemudian data hasil simulasi CFD digunakan untuk membangun surrogate model berbasis Gaussian Process Regression (GPR). Proses optimasi dilakukan menggunakan Bayesian optimization dengan acquisition function berupa Expected Improvement (EI). Model GPR digunakan untuk memprediksi respons CP optimum dan menentukan kandidat titik simulasi tambahan yang memiliki potensi peningkatan performa. Proses ini dilakukan secara iteratif hingga tercapai konvergensi pada desain optimum. Hasil optimasi menunjukkan bahwa konfigurasi optimum diperoleh pada ? = 0,1821, ? = ?6,3077o, dan TSR = 1,7628 dengan nilai koefisien daya (CP) sebesar 0,4370 yang menghasilkan daya turbin sebesar 380,34 W untuk satu unit turbin. Model GPR akhir mampu menggambarkan hubungan antara parameter input dan respons CP dengan tingkat kesesuaian yang cukup baik dengan evaluasi nilai R2 = 0,9998, RMSE = 0,0017, dan MAE = 0,00103. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi simulasi CFD, model GPR, dan proses Bayesian optimization cukup baik digunakan untuk mendukung proses optimasi turbin hidrokinetik dengan jumlah simulasi yang terbatas. Analisis terkait pengaruh parameter menunjukkan bahwa solidity, blade pitch angle, dan TSR berpengaruh signifikan terhadap performa turbin. Parameter solidity yang terlalu tinggi menyebabkan pembentukan daerah wake yang lebih luas, vortex yang lebih kuat, dan efek blockage yang menyebabkan munculnya torsi negatif pada beberapa posisi azimuth angle. Parameter blade pitch angle yang terlalu negatif menurunkan torsi maksimum akibat sudut serang efektif yang kurang optimum, sedangkan blade pitch angle 0o dan positif memicu separasi aliran, vortex, dan potensi terjadinya dynamic stall. TSR yang terlalu rendah menghasilkan daya turbin rendah akibat kecepatan sudut turbin yang kecil, sedangkan TSR yang terlalu tinggi meningkatkan wake interaction dan vortex sehingga torsi maksimum menurun dan menyebabkan torsi negatif muncul pada beberapa posisi azimuth angle. Konfigurasi optimum menghasilkan keseimbangan terbaik antara torsi maksimum, torsi minimum yang tetap positif, serta karakteristik aliran yang lebih stabil dibandingkan konfigurasi lainnya. Evaluasi juga dilakukan pada variasi kecepatan aliran tailrace 0,5 – 1,5 m/s dengan konfigurasi turbin optimum dan pada kecepatan putar turbin yang konstan. Perubahan kecepatan aliran memengaruhi TSR operasi turbin dan daya yang dihasilkan, namun nilai koefisien daya cenderung terjaga ketika turbin dioperasikan pada TSR yang mendekati nilai optimum. Hasil ini menunjukkan bahwa pola pengaturan operasi turbin agar tetap berada pada rentang TSR optimum menjadi faktor penting untuk memaksimalkan pemanfaatan energi hidrokinetik pada tailrace PLTA Jatigede dengan kondisi kecepatan aliran yang bervariasi.
DAMPAK FAKTOR GEOPOLITIK TERHADAP OPTIMASI INVENTORI MINYAK MENTAH DI RU IV DAN RU V PT PERTAMINA PATRA NIAGA
Meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap minyak mentah impor membuat Indonesia lebih terekspos terhadap gangguan geopolitik dan menjadikan kebijakan persediaan statis kurang andal. Kilang PT PPN, khususnya RU IV Cilacap dan RU V Balikpapan, termasuk yang paling bergantung pada minyak mentah impor. Tesis ini mengkaji cara mengoptimalkan tingkat persediaan minyak mentah dalam ketidakpastian akibat risiko geopolitik: konflik, sanksi, ancaman keamanan maritim, dan sengketa perdagangan, yang dapat mengganggu rute pelayaran, ketersediaan angkutan, premi asuransi, serta keandalan sumber pasokan. Dengan kerangka DMAIC, penelitian ini menggabungkan pemodelan system dynamics, analisis berbasis skenario, dan simulasi Monte Carlo. Causal loop diagram mengidentifikasi hubungan umpan balik antara ketegangan geopolitik dengan rantai pasok, lead time, dan buffer persediaan, sementara simulasi Monte Carlo menghasilkan skenario probabilistik pasokan yang dikalibrasi dengan data historis 2021–2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model statis M+3 saat ini secara sistematis menghasilkan estimasi kebutuhan safety stock yang lebih rendah dari kebutuhan aktual: pada tingkat layanan 99%, usulan safety stock 38,6%–134,3% lebih tinggi dibandingkan nilai eksisting pada seluruh kategori minyak mentah, dengan kesenjangan terbesar pada medium crude yang 98% pasokannya berasal dari Nigeria. Variabilitas lead time akibat gangguan geopolitik menjadi pendorong utama risiko persediaan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan solusi tiga lapis: (1) mengadopsi model persediaan stokastik adaptif; (2) mengamankan kapasitas floating storage (VLCC/FSO) untuk menutup residu eksposur 819–1.644 kbbl pada gangguan ekstrem; dan (3) mendiversifikasi sumber medium crude untuk menurunkan porsi Nigeria di bawah 80%. Secara praktis, model ini mendukung ketahanan energi nasional dengan menjaga operasi kedua kilang; secara akademis, penelitian ini memperluas teori manajemen persediaan melalui kuantifikasi risiko pasokan akibat geopolitik. Ruang lingkup dibatasi pada data operasional historis dan indikator risiko geopolitik publik, sehingga guncangan politik real-time dan risiko black swan tidak tercakup.
METODE EKSTRAKSI TOPIK DENGAN KOMBINASI KEYWORD EXTRACTION DAN GRAF PADA KUMPULAN ARTIKEL ILMIAH
Peningkatan jumlah publikasi ilmiah menimbulkan tantangan dalam proses analisis literatur, khususnya dalam mengidentifikasi topik utama. Berbagai metode ekstraksi topik yang telah dikembangkan umumnya mengandalkan analisis statistik kemunculan kata, dengan fokus pada distribusi probabilistik kata dalam dokumen untuk merepresentasikan topik. Penelitian ini mengusulkan ekstraksi topik yang mengombinasikan ekstraksi kata kunci menggunakan YAKE, yaitu metode ekstraksi kata kunci yang menilai tingkat kepentingan kata berdasarkan karakteristik isi dokumen, dengan representasi graf untuk memodelkan hubungan antar kata kunci. Metode yang diusulkan, disebut YAKE-Graf, dibandingkan dengan pendekatan YAKE-Direct, yaitu pendekatan yang membentuk topik langsung dari hasil ekstraksi kata kunci YAKE tanpa representasi graf, menggunakan kumpulan abstrak artikel ilmiah. Eksperimen dilakukan pada variasi n-gram (unigram, bigram, trigram, dan mixed) dan dievaluasi menggunakan metrik topic coherence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa YAKE-Graf secara konsisten menghasilkan nilai coherence yang lebih tinggi dibandingkan YAKE-Direct pada seluruh variasi n-gram, dengan peningkatan rata-rata 82%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa representasi graf mampu memperkuat keterkaitan antar kata kunci dalam pengidentifikasian topik, meskipun memerlukan waktu komputasi tambahan dengan rata-rata sebesar 4,83%. Secara keseluruhan, terdapat trade-off di mana YAKE-Graf lebih unggul dalam menghasilkan topik yang koheren, sementara YAKE-Direct lebih efisien dari segi waktu komputasi.
PEMODELAN PROYEKSI PENURUNAN NILAI ASET AKIBAT FAKTOR IKLIM : STUDI KASUS PADA BANGUNAN DI DKI JAKARTA
Peningkatan risiko banjir di Jakarta akibat perubahan iklim dan penurunan muka tanah menuntut integrasi risiko fisik hidrologi ke dalam valuasi aset korporasi sesuai dengan pedoman standar akuntansi seperti PSAK 236. Penelitian ini memodelkan risiko banjir menggunakan perangkat lunak HEC-RAS pada skenario Shared Socioeconomic Pathways. Kedalaman genangan ditranslasikan menjadi persentase kerugian aset fisik melalui depth-damage curve, sementara eskalasi biaya rekonstruksi diproyeksikan menggunakan algoritma SARIMAX. Integrasi dari parameter hidrologi dan finansial ini menghasilkan Expected Annual Loss yang berfungsi untuk mendiskonto nilai wajar aset menjadi Risk-Adjusted Fair Value Less Cost of Disposal. Hasil analisis menunjukkan skenario emisi ekstrem memicu beban EAL yang lebih masif. Meskipun pengujian penurunan nilai aset skenario dasar tidak mengharuskan pengakuan kerugian, shock scenario testing dengan amplifikasi damage factor sebesar +40% secara definitif memicu pencatatan Impairment Loss di tahun 2030 dan 2040. Penelitian ini secara empiris membuktikan bahwa risiko fisik iklim mampu menggerus recoverable amount aset secara sistematis dan esensial untuk diinkorporasikan ke dalam Laporan Keuangan.
PENGEMBANGAN MODEL PENERIMAAN APLIKASI LAYANAN PUBLIK TERINTEGRASI DI PROVINSI JAWA BARAT
Transformasi digital sektor publik mendorong pemerintah daerah menyediakan layanan yang terintegrasi dan mudah diakses masyarakat. Salah satu implementasinya adalah Sapawarga, aplikasi layanan publik digital terintegrasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun, penerimaan masyarakat terhadap Sapawarga tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan aplikasi, tetapi juga oleh faktor sosial, persepsi terhadap aplikasi, kepercayaan terhadap pemerintah, dan sikap terhadap penggunaannya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model penerimaan Sapawarga serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi sikap dan niat masyarakat untuk menggunakannya. Model penelitian dikembangkan dengan mengintegrasikan Unified Model of Electronic Government Adoption (UMEGA), Diffusion of Innovation (DOI), dimensi budaya, serta dukungan pemimpin lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada 246 responden yang berdomisili di Provinsi Jawa Barat dan berusia minimal 17 tahun. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa social influence dan perceived local leader support berpengaruh signifikan terhadap awareness. Awareness berpengaruh signifikan terhadap perceived compatibility, performance expectancy, effort expectancy, serta berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perceived risk. Perceived compatibility, performance expectancy, dan effort expectancy berpengaruh signifikan terhadap attitude, sedangkan perceived risk tidak berpengaruh signifikan terhadap attitude. Trust in government berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perceived risk serta berpengaruh positif dan signifikan terhadap intention to use. Attitude berpengaruh signifikan terhadap intention to use, sedangkan collectivism dan uncertainty avoidance tidak berpengaruh signifikan terhadap intention to use. Model penelitian mampu menjelaskan variasi attitude dan intention to use dengan nilai R² sebesar 0,542 dan 0,585. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan Sapawarga dapat diperkuat melalui peningkatan awareness masyarakat, pembentukan persepsi positif terhadap kesesuaian, manfaat, dan kemudahan penggunaan aplikasi, serta penguatan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
ANALISIS ZAMS DARI BINTANG VERY LOW-MASS WISE J085510.83-071442.5 DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SIMULASI MESA
Bintang WISE J085510.83-071442.5 merupakan bintang sub-brown dwarf yang paling dekat dengan Matahari, serta memiliki temperatur 285 K. Bintang WISE J085510.83-071442.5 termasuk ke dalam kategori planetary body dengan massa kurang dari 13 massa Jupiter, dengan perkiraan jangkauan massa antara 3 sampai 10 massa Jupiter, sehingga tidak memenuhi syarat batas adanya fusi deuterium. Karena kondisi seperti ini, jejak evolusi dari bintang tersebut masih menyimpan banyak pertanyaan bagi para astronom, dan penelitian mengenai apakah bintang tersebut bisa memasuki fase zero age main sequence (ZAMS) atau tidak masih belum dilakukan sejauh ini. Riset ini akan membahas tentang bagaimana proses pembakaran inti bintang WISE J085510.83-071442.5 akan menentukan apakah bintang tersebut berhasil mencapai ZAMS atau tidak, dan faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Selama riset ini, dilakukan simulasi pemrograman Modules for Experiments in Stellar Astrophysics (MESA) terhadap bintang WISE J085510.83-071442.5 dengan mengacu pada data-data yang tercantum di atas. Output dari simulasi tersebut terbagi menjadi 3 grafik: grafik Hertzsprung-Russell, grafik profil T-?, dan grafik kelimpahan unsur. Simulasi untuk Tugas Akhir ini bertujuan untuk menentukan jejak evolusi bintang dari WISE J085510.83-071442.5 (apakah melintasi garis ZAMS atau tidak), evolusi kondisi internal (T-?) dari WISE J085510.83-071442.5, serta melihat implikasi kelimpahan inti bintang agar WISE J085510.83-071442.5 bisa mencapai titik ZAMS.
ANALISIS KESTABILAN LERENG BATUAN PADA TAMBANG TERBUKA DENGAN MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS DAN KLASIFIKASI MASSA BATUAN PADA PIT “X”, KABUPATEN BARITO UTARA, KALIMANTAN TENGAH, PT PAMAPERSADA NUSANTARA
Lereng merupakan komponen penting dalam pertambangan terbuka. Dalam hal ini, pada Pit “X” yang terletak pada Cekungan Barito pada Formasi Tanjung perlu dilakukan analisis dalam mengoptimalkan kegiatan penambangan dan menjamin keselamatan. Perlu adanya analisis kestabilan lereng dalam pelaksanaannya sehingga pertambangan dapat aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geologi, karakterisasi massa batuan, mengetahui potensi jenis longsoran pada lereng, dan menganalisis Faktor Keamanan (FK) lereng, serta memberikan rekomendasi optimisasi pada lereng. Metode penelitian yang mencakup pemetaan lapangan, survei talipindai, Rock Mass Rating (RMR), Slope Mass Rating (SMR), analisis kinematik, dan metode kesetimbangan bata menggunakan perangkat lunak Slide2. Pemodelan dengan menggunakan kriteria keruntuhan Generalized Hoek-Brown. Hasil analisis menunjukkan bahwa daerah penelitian tersusun atas satuan batulanau A, satuan batupasir, satuan batulempung A, satuan batulanau B, dan satuan batulempung B. Kualitas massa batuan berdasarkan nilai RMR pada setiap lereng memiliki kelas III (fair rock) dengan rentang 46,826 sampai dengan 52,812. Potensi longsoran pada lereng bervariasi antara wedge sliding, oblique toppling, dan planar sliding. Sementara nilai SMR pada setiap lereng memiliki nilai 43,023 sampai 53,869 dengan klasifikasi kelas III (normal) dengan stabilitas yang dikategorikan sebagai partially stable. Dalam analisis metode kesetimbangan batas didapatkan bahwa penampang A-A’, C-C’, dan E-E’ highwall memiliki kondisi tidak aman pada kondisi jenuh sepenuhnya, sementara penampang B-B’, D-D’, dan E-E’ lowwall memiliki kondisi yang aman. Nilai FK yang ada mengharuskan lereng dioptimisasi agar dapat lebih aman dan ekonomis dalam penambangannya. Rekomendasi yang dilakukan dengan mengubah bentuk geometri, mengubah sudut, dan menambah lereng tunggal pada area pertambangan.
STRENGTHENING THE ROLE OF DOMESTIC FINANCIAL INSTITUTIONS AS ALTERNATIVE FINANCING FOR REGIONAL INVESTMENT PROJECTS IN INDONESIA
Kesenjangan antara kesiapan proyek dan realisasi investasi di Indonesia semakin melebar seiring melambatnya arus penanaman modal asing (FDI) sejak 2023. Dari 40 proyek investasi daerah yang telah dikurasi oleh Investor Relations Unit (IRU) dan ditetapkan sebagai Investment Project Ready to Offer (IPRO) dengan total nilai sekitar USD 6,75 miliar di 13 provinsi, sebagian besar belum mendapatkan komitmen pembiayaan. Penelitian ini mengkaji bagaimana institusi pembiayaan domestik dapat berperan sebagai sumber pembiayaan alternatif untuk proyek proyek tersebut. Tiga institusi dianalisis: Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai representasi perbankan komersial BUMN dengan keahlian terdalam di sektor agroindustri dan jaringan internasional terluas di antara bank HIMBARA; Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai representasi manajemen investasi strategis jangka panjang; dan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) sebagai representasi pembiayaan pembangunan dengan fasilitas dukungan pra-investasi berbasis dana donor. Penelitian ini menggunakan metodologi dua tahap. Pada tahap pertama, Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan pada 8 Mei 2026 bersama enam perwakilan IRU regional dari Jawa Barat, Bengkulu, dan Jawa Tengah untuk mengidentifikasi empat dimensi financing gap: kondisi pasar eksternal, kendala supply-side persiapan proyek, ketidaksesuaian sisi pembiayaan, dan kesenjangan koordinasi. Pada tahap kedua, Analytic Hierarchy Process (AHP) diterapkan dengan responden ahli dari masing-masing institusi untuk menurunkan bobot prioritas kriteria evaluasi (Kesiapan Proyek, Kelayakan Finansial, Dampak Ekonomi Strategis, dan Kapasitas Institusional) serta meranking seluruh 40 proyek. Penelitian ini merekomendasikan Lead Institution Protocol untuk mengoperasionalkan co-financing dan Standardized Project Readiness Scorecard untuk memperkuat kurasi IRU sebagai kerangka praktis percepatan realisasi investasi daerah.
ESTIMASI RISIKO BANJIR AKIBAT DAMPAK EKSPANSI KAWASAN TERBANGUN BERBASIS EXPECTED ANNUAL DAMAGE (EAD) DI KAWASAN BANJIR BALEENDAH, KABUPATEN BANDUNG
Banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang dominan di Kabupaten Bandung, sementara Kecamatan Baleendah berada pada zona cekungan terendah Citarum Hulu sehingga rentan terhadap genangan berkepanjangan. Dalam dua dekade terakhir, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu mengalami ekspansi kawasan terbangun yang berpotensi meningkatkan limpasan permukaan, keterpaparan aset, dan kerugian ekonomi akibat banjir. Pekerjaan ini bertujuan menganalisis pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap risiko banjir di kawasan banjir Baleendah menggunakan pendekatan Expected Annual Damage (EAD). Analisis dilakukan dengan membandingkan kondisi tata guna lahan tahun 2000 dan 2020 menggunakan kerangka hazard – exposure – vulnerability – risk. Data tata guna lahan hasil asimilasi GLAD UMD dan RBI memiliki overall accuracy sebesar 83%, sedangkan model HEC-HMS yang digunakan menunjukkan kinerja baik dengan NSE 0,676, RMSE 0,6 m3/s, dan PBIAS 11,81%. Kemudian, debit hasil simulasi digunakan pada model HEC-RAS 2D untuk menghasilkan karakteristik genangan yang kemudian diintegrasikan dengan data bangunan dan valuasi aset untuk menghitung EAD. Hasil pekerjaan menunjukkan bahwa luas kawasan terbangun meningkat sebesar 12,69%, menyebabkan kenaikan nilai Curve Number (CN) dari 65,54 menjadi 67,67 (+3%) dan debit maksimum tahunan sebesar 12,4%. Jumlah bangunan yang terpapar banjir periode ulang 1 tahun meningkat dari 18.531 menjadi 34.924 unit, sedangkan nilai EAD meningkat dari Rp233,88 miliar menjadi Rp465,25 miliar per tahun atau naik 98,92%. Di sisi lain, curah hujan ekstrem menurun sekitar 6,3% pada periode 2011–2020 dibandingkan dengan periode 2001–2010. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan risiko banjir di Baleendah lebih dipengaruhi oleh ekspansi kawasan terbangun dibandingkan dengan perubahan curah hujan, sehingga perubahan tata guna lahan menjadi faktor dominan dalam peningkatan kerugian ekonomi akibat banjir.
EVALUASI RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN SEKITAR BIJB KERTAJATI UNTUK ANTISIPASI PERUBAHAN KEBIJAKAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN AEROTROPOLIS
Bandara tidak lagi berfungsi sekadar sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai penggerak pertumbuhan wilayah. Salah satu model yang banyak digunakan adalah Aerotropolis, yaitu konsep pengembangan kawasan yang menempatkan bandara sebagai pusat pertumbuhan. Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati diarahkan sebagai simpul pertumbuhan baru Jawa Barat dan dikendalikan oleh dua dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Namun, kedua dokumen tersebut disusun ketika BIJB masih diposisikan sebagai bandara komersial berbasis penumpang dan kargo. Terdapat arah perubahan yang muncul, yaitu rencana relokasi industri pertahanan dan Maintenance, Repair, and Overhaul pesawat yang menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi substansi RDTR yang ada. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian RDTR yang berlaku di kawasan sekitar BIJB Kertajati terhadap konsep aerotropolis komersial atau industri pertahanan dan MRO. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif. Kerangka evaluasi disusun dari sintesis literatur ke dalam tabel kriteria, komponen, dan indikator evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan, pada skenario aerotropolis komersial RDTR-KJ berada pada kategori “Sebagian Sesuai”, sedangkan RDTR-KKS kategori “Sesuai” meskipun berada tepat di batas bawahnya karena masih terdapat kebutuhan yang belum terakomodasi dalam perencanaan. Evaluasi terhadap kebutuhan industri pertahanan dan MRO menunjukkan kelas “Sebagian Sesuai” pada kedua dokumen karena belum adanya sub-zona atau ketentuan khusus bagi industri pertahanan serta belum terhubungnya secara spasial zona industri dengan BIJB. Kebaruan penelitian terletak pada kerangka evaluasi yang menilai substansi RDTR sekaligus terhadap konsep Aerotropolis dan kebutuhan industri pertahanan. Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian evaluasi substansi RDTR pada kawasan berbasis bandara dan secara praktis hasilnya menjadi dasar rekomendasi penyesuaian kebijakan tata ruang secara ex-ante terhadap isu perubahan fungsi kawasan.
KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK PLATFORM PERMINTAAN LAYANAN GENERAL AFFAIRS MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DI PT HUADIAN BUKIT ASAM POWER
Penelitian ini mengembangkan kerangka pengambilan keputusan praktis untuk membantu manajemen memilih platform permintaan layanan General Affairs (GA) di PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). HBAP mulai beroperasi komersial pada Oktober 2023 dengan fokus awal pada stabilisasi pembangkitan listrik, sementara digitalisasi fungsi pendukung internal masih berjalan. Di dalam General Affairs, banyak permintaan layanan masih bergantung pada formulir kertas, spreadsheet, email, dan aplikasi pesan yang terpisah di site maupun kantor Jakarta. Fragmentasi ini menyulitkan pencapaian target layanan, pemantauan status permintaan, dan pemeliharaan jejak audit yang lengkap. Dengan keterbatasan sumber daya dan fungsi TI yang ramping, organisasi memerlukan pilihan platform yang berkelanjutan dan hemat biaya khusus untuk manajemen permintaan layanan GA. Kerangka ini mengevaluasi tiga alternatif platform dalam horizon lima tahun untuk sekitar enam puluh delapan karyawan: solusi low-code internal di dalam ekosistem Microsoft 365 yang sudah ada (A1), aplikasi khusus (bespoke) yang dikembangkan konsultan eksternal (A2), dan paket perangkat lunak komersial siap pakai/COTS (A3). Analisis akar masalah menggunakan Five Whys dan diagram Fishbone (Ishikawa) menunjukkan bahwa perbaikan administratif bertahap tidak cukup, sehingga diperlukan satu platform permintaan layanan GA. Kriteria evaluasi dibangun dari lensa yang sudah mapan: Total Cost of Ownership (Ellram, 1995); Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone dan McLean (DeLone & McLean, 1992, 2003); Technology Acceptance Model (Davis, 1989); dan Diffusion of Innovations (Rogers, 2003). Alat pengambilan keputusan utama adalah Analytic Hierarchy Process (Saaty, 1980, 1990), yang dijalankan pada AHP Online System AHP-OS (Goepel, 2018). Panel pemangku kepentingan terstruktur berjumlah tiga belas responden memberikan perbandingan berpasangan terhadap lima kriteria utama dan tiga alternatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi sendiri oleh responden, disertai lembar pengarahan (briefing sheet) satu halaman; penilaian individual diagregasi dengan rata-rata geometrik (AIJ), dan konsistensi diverifikasi pada tingkat kelompok (CR keseluruhan 0,3% untuk matriks kriteria; seluruh matriks alternatif di bawah ambang 0,10). Hasil menunjukkan bahwa, berbeda dari anggapan umum bahwa biaya mendominasi keputusan semacam ini, para pemangku kepentingan memberi bobot tertinggi pada kualitas layanan dan penerimaan pengguna (28,0%), diikuti tata kelola dan risiko (24,0%), kesesuaian strategis dan kompatibilitas teknis (23,6%), kecepatan dan adaptabilitas (17,6%), serta biaya lima tahun yang justru terendah (6,8%). Setelah disintesiskan, platform low-code internal A1 memperoleh prioritas global tertinggi sebesar 64,4%, di atas langganan COTS A3 (19,9%) dan opsi bespoke A2 (15,7%). Peringkat A1 > A3 > A2 tetap stabil pada seluruh skenario sensitivitas, termasuk pada kasus ekstrem bobot kriteria yang setara. Studi ini menyusun peta jalan implementasi tiga fase selama dua belas bulan yang mengaitkan platform terpilih dengan quick wins – katalog layanan GA, alur persetujuan terintegrasi, notifikasi, dan dasbor – serta enabler tata kelola dasar berupa pemisahan lingkungan pengembangan–pengujian–produksi, pengendalian akses berbasis peran, dan pencatatan perubahan. Kontribusi manajerialnya adalah keputusan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan; kontribusi ilmiahnya adalah kerangka keputusan terapan yang mengintegrasikan AHP dengan konstruk sistem informasi dan ekonomi yang mapan serta alat analisis akar masalah dasar.
PLACE ATTACHMENT KONSUMEN PEREMPUAN PADA INTERIOR KEDAI KOPI DALAM BANGUNAN HERITAGE DENGAN PENDEKATAN ADAPTIVE REUSE DI KOTA BANDUNG
Penelitian ini mengeksplorasi keterikatan tempat (place attachment) pada interior kedai kopi adaptive reuse yang berlokasi di bangunan cagar budaya, ditinjau dari persepsi konsumen perempuan. Fenomena adaptive reuse mampu menghidupkan kembali fungsi bangunan bersejarah, membangkitkan memori kolektif dan personal serta nostalgia melalui pengalaman spesifik yang dirasakan pengunjung. Hal ini menciptakan keterikatan emosional dan rasa kebetahan yang kuat pada pengguna ruang. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi faktorfaktor serta elemen-elemen desain interior yang memengaruhi keterikatan tempat, serta bagaimana elemen-elemen tersebut dapat memunculkan kelekatan emosional bahkan rasa kepemilikan bagi konsumen perempuan. Metode studi ini memiliki desain metode campuran menggunakan etnografi kualitatif dan analisis faktor eksploratori kuantitatif (EFA) yang didukung oleh Principal Component Analysis (PCA). Dua studi kasus dilakukan pada Jabarano Coffee di Jalan Braga dan Two Hands Full di Jalan Dago). Langkah-langkah yang dilakukan meliputi observasi partisipatif di kedai kopi adaptive reuse, wawancara mendalam dengan konsumen perempuan untuk menggali pengalaman subjektif mereka, dokumentasi visual yang mencakup elemen-elemen desain interior, serta analisis spasial yang berfokus pada relasi pengguna dengan ruang. Perspektif teoritis yang digunakan mencakup place attachment, adaptive reuse, teori ruang ketiga, psikologi lingkungan, serta teori gender. Kombinasi teori ini digunakan untuk mendalami persepsi dan preferensi konsumen perempuan terhadap interior kedai kopi di bangunan cagar budaya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa elemen-elemen desain interior, seperti penggunaan material autentik, furnitur klasik, pencahayaan yang hangat, serta pelestarian elemen historis, berperan penting dalam membangkitkan kenangan masa lalu dan menciptakan suasana yang nyaman. Selain itu, pengalaman multisensori, seperti aroma kopi, suara mesin kopi, dan nuansa visual interior, turut memperkuat keterikatan emosional. Pola penataan ruang yang fleksibel dan inklusif memberikan kesempatan bagi konsumen perempuan untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari pertemuan sosial, pekerjaan, hingga relaksasi, yang mencerminkan kebutuhan gaya hidup masyarakat urban. Studi ini menegaskan bahwa kedai kopi adaptive reuse bukan sekadar ruang komersial, tetapi juga ruang sosial yang memiliki makna emosional dan simbolik. Bagi konsumen perempuan, keterhubungan dengan ruang ini dipengaruhi oleh faktor psikologis, historis, dan spasial yang saling berinteraksi. Perancangan interior yang memperhatikan elemen historis, kenyamanan, serta kebutuhan fungsional konsumen dapat memfasilitasi ikatan emosional yang kuat. Dengan demikian, kedai kopi adaptive reuse berpotensi menjadi ruang yang membentuk place attachment, terutama bagi konsumen perempuan, melalui perpaduan nilai historis, estetika, dan pengalaman emosional yang mendalam.
DINAMIKA PERUBAHAN INSTITUSIONAL PADA MEGAPROYEK DALAM DIMENSI SKALA DAN WAKTU: STUDI KASUS GIANT SEA WALL (GSW) JAKARTA
Megaproyek adalah usaha berskala besar yang melibatkan banyak aktor dengan kepentingan berbeda, sehingga aspek institusional menentukan keberlangsungannya, dan megaproyek Giant Sea Wall (GSW) di pesisir utara Jakarta memuat dinamika ini, namun studi terdahulu cenderung parsial dan belum menempatkan GSW sebagai entitas institusional yang terus berubah. Penelitian ini menjelaskan bagaimana determinasi sosial, ekonomi, dan politik membentuk perubahan institusional serta konfigurasi peran aktor dalam GSW dari dimensi skala dan waktu. Penelitian ini juga menguji apakah dinamika tersebut menggeser tata kelola dari ketergantungan jalur (path dependence) menuju pembangunan yang lebih adaptif. Perubahan institusional yang merujuk pada ketergantungan jalur berpotensi pada kegagalan fungsi utama megaproyek infrastruktur yang direncanakan dengan mengabaikan opsi solusi lainnya. Penelitian bersifat kualitatif eksploratif dengan pendekatan longitudinal. Data sekunder berupa enam dokumen rencana, regulasi, dan arsip berita dilengkapi wawancara mendalam dengan aktor pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil. Analisis dilakukan dengan tiga metode. Analisis isi kualitatif longitudinal membaca perubahan pada enam aspek melalui empat mekanisme gradual. Process tracing merekonstruksi peristiwa eksogen dalam tiga fase dengan konsep critical junctures dan path dependence. Analisis aktor membaca distribusi kuasa melalui tiga dimensi kekuasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan institusional GSW berlangsung empat belas tahun melalui akumulasi keputusan inkremental yang secara kolektif membentuk ulang kerangka institusional proyek tanpa satu reformasi tunggal yang mengganti kerangka lama. Kemudian, respons institusional terhadap peristiwa eksogen, baik itu sosial, ekonomi, dan politik, secara konsisten memperkuat jalur yang sudah terbentuk, menggerakkan proyek dari pilihan yang masih terbuka menuju lock-in. Dari sudut pandang tiga dimensi kekuasaan, pemerintah pusat memiliki otoritas paling besar yang dapat memengaruhi keputusan aktor oposisi, mengkonsolidasikan framing yang dibangun, serta memperkuat otoritasnya dengan membentuk lembaga yang memiliki mandat langsung dari presiden.