📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenKARAKTERISASI RESERVOIR DAN ESTIMASI SUMBER DAYA HIDROKARBON PADA LAPANGAN SSONNE, CEKUNGAN SARAWAK, MALAYSIA
Minyak dan gas bumi merupakan salah satu energi utama bagi kehidupan manusia. Lapangan SSONNE merupakan lapangan hidrokarbon yang terletak di Cekungan Sarawak, Malaysia dengan luas 10.05 km2. Lapangan SSONNE memiliki potensi hidrokarbon yang cukup menjanjikan sehingga diperlukan kajian mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi Lapangan SSONNE secara komprehensif, meliputi fasies dan lingkungan pengendapan, properti petrofisika, serta estimasi sumber daya hidrokarbon (OGIP). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sumur yang mencakup rangkuman deskripsi keratan bor, log tali kawat, dan data seismik. Penelitian ini dilakukan melalui analisis stratigrafi sikuen, analisis fasies dan lingkungan pengendapan, analisis petrofisika, serta estimasi sumber daya hidrokaron secara terintegrasi dan berurutan. Hasil analisis stratigrafi sikuen menunjukkan interval penelitian yang terletak pada NBC 2 – NBC 3 merupakan endapan LST/TST dan HST. Interval NBC 2 – NBC 3 dibagi menjadi dua reservoir berdasarkan parasikuennya, yaitu Reservoir 1 (NBC 3 – SB 2) dan Reservoir 2 (FS 6 – SB 1). Secara stratigrafi, sikuen terbagi menjadi dua batas sikuen. Hasil analisis fasies berdasarkan deskripsi keratan bor dan log tali kawat serta deskripsi batuan inti sumur lainnya (SSW-001) pada interval NBC 3 – NBC 2, menunjukkan empat litofasies yaitu Smf, Sfvf, Fsm, dan C serta tiga asosiasi fasies yaitu tidal bar, tidal flat, dan salt marsh. Ketiga asosiasi fasies menyusun lingkungan pengendapan berupa tide-dominated estuary. Hasil analisis petrofisika menunjukkan interval penelitian memiliki nilai rata-rata volume serpih, porositas efektif, dan saturasi air masing-masing pada Reservoir 1 sebesar 0.3112, 0.1367, dan 0.5173 serta Reservoir 2 sebesar 0.2229, 0.1529, dan 0.5804. Hasil interpretasi seismik menunjukkan antiklin dan sesar normal pada interval penelitian. Hasil estimasi sumber daya hidrokarbon menghasilkan sumber daya OGIP masing-masing pada Reservoir 1 sebesar 4.52 BSCF dan Reservoir 2 sebesar 12.79 BSCF.
EFISIENSI BELANJA PEMERINTAH DAERAH DALAM PENYEDIAAN LAYANAN PUBLIK DASAR DAN KETERKAITANNYA DENGAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI INDONESIA
Kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia pasca reformasi telah memberikan kewenangan dan sumber daya fiskal yang besar kepada pemerintah daerah dalam bentuk skema dana transfer ke daerah. Namun, peningkatan Transfer ke Daerah dan belanja APBD belum diimbangi dengan perbaikan layanan publik dasar serta kesejahteraan masyarakat secara merata dan signifikan. Persoalan utama diduga tidak hanya terletak pada besarnya anggaran yang diterima oleh daerah, melainkan pada kemampuan pemerintah daerah dalam mengubah sumber daya fiskal tersebut menjadi layanan dasar yang berdampak dan bermakna bagi masyarakat secara efisien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat efisiensi belanja daerah secara agregat dalam menghasilkan kombinasi layanan dasar terpilih yang bersifat prioritas, mengidentifikasi faktor-faktor yang berkorelasi dengan inefisiensi biaya, serta menguji keterkaitan antara efisiensi biaya dan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang dilihat melalui persentase penduduk miskin yang lebih rendah (P0). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data panel kabupaten/kota di Indonesia periode 2019 – 2024, dan sampel efektif setelah estimasi Stochastic Frontier Analysis (SFA) terdiri atas 2.424 observasi pada 477 kabupaten/kota. Analisis dilakukan dalam dua tahapan, tahap pertama menggunakan model SFA fungsi biaya Battese dan Coelli, (1995) dengan spesifikasi translog pada variabel output layanan untuk mengestimasi efisiensi biaya belanja daerah. Variabel biaya diukur melalui total realisasi belanja daerah yang disesuaikan dengan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK). Output layanan dasar prioritas terpilih yang digunakan mencakup sektor layanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur konektivitas dasar, dengan mengontrol harga input, kualitas/standar layanan melalui IP SPM, serta karakteristik wilayah dan kondisi fiskal daerah. Determinan inefisiensi dianalisis melalui rasio TKD terhadap PAD tahun sebelumnya sebagai proksi tingkat ketergantungan fiskal daerah terhadap transfer pusat, nilai SAKIP sebagai proksi tata kelola akuntabilitas kinerja birokrasi, dan status DOB/daerah pemekaran sebagai proksi kelembagaan dasar daerah. Selanjutnya analisis pada tahap kedua menggunakan regresi data panel fixed effects untuk menguji asosiasi/keterkaitan antara skor efisiensi biaya dan persentase penduduk miskin (P0). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia belum seluruhnya beroperasi pada tingkat efisiensi biaya optimal. Rata-rata skor efisiensi biaya sebesar 0,88. Hal tersebut mengindikasikan adanya variasi kemampuan daerah dalam menyediakan layanan dasar terhadap frontier biaya minimum yang ditentukan. Koefisien output layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur bernilai positif pada titik rata-rata sampel, sehingga memberikan dukungan awal bahwa ketiga output berperan sebagai cost driver dalam fungsi biaya. Pada persamaan inefisiensi, ketergantungan fiskal terhadap transfer pusat terbukti berkorelasi positif dan signifikan dengan peningkatan inefisiensi biaya. Sementara itu, temuan menarik pada nilai kategori SAKIP yang belum terbukti menurunkan inefisiensi biaya, bahkan berasosiasi positif dengan inefisiensi meskipun sebaran observasi dan stabilitasnya belum mendukung. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tata kelola dan capaian akuntabilitas kinerja birokrasi yang diformulasikan dalam SAKIP belum sepenuhnya selaras dengan kemampuan pemerintah daerah dalam menghasilkan layanan dasar dengan biaya yang lebih efisien. Kemudian status DOB/daerah pemekaran pasca reformasi menunjukan korelasi negatif dengan inefisiensi biaya, mengindikasikan daerah hasil pemekaran cenderung berasosiasi negatif terhadap inefisiensi biaya meskipun bukan sebagai hubungan kausalitas mutlak. Sedangkan pada tahap kedua, model Fixed Effects menunjukkan bahwa skor efisiensi biaya berasosiasi negatif dan signifikan dengan persentase penduduk miskin. Temuan ini mengindikasikan bahwa daerah dengan tingkat efisien tinggi dalam spesifikasi model cenderung memiliki persentase penduduk miskin yang rendah setelah berbagai karakteristik wilayah dikendalikan. Secara umum, penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi penggunaan APBD tidak cukup hanya dengan menilai besaran belanja yang dikeluarkan, tingkat serapan anggaran, ataupun kepatuhan administratif semata, tetapi perlu diarahkan pada kemampuan pemerintah daerah dalam mengonversi sumber daya fiskal menjadi layanan dasar secara efisien dan relevan bagi kesejahteraan masyarakat.
PERANCANGAN PUSAT PENGOLAHAN HASIL LAUT BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DI KELURAHAN KANGKUNG, BANDAR LAMPUNG
Kawasan pesisir memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia, terutama pada sektor perikanan tangkap dan pengolahan hasil laut. Kelurahan Kangkung di Kota Bandar Lampung merupakan kawasan pesisir dengan aktivitas pemfiletan ikan sebagai bahan baku produk olahan seperti pempek dan otak-otak. Namun, kondisi perekonomian masyarakat masih tergolong rendah dan aktivitas pengolahan dilakukan secara sederhana di ruang domestik dengan fasilitas terbatas, sehingga belum mampu memberdayakan masyarakat secara optimal. Aktivitas pemfiletan ikan menghasilkan limbah organik berupa kepala ikan, tulang, kulit, sisik, serta sisa potongan daging yang umumnya dibuang langsung ke lingkungan sehingga berpotensi mencemari kawasan pesisir. Perancangan ini bertujuan merancang interior pusat pengolahan hasil laut yang mampu mengakomodasi aktivitas pengolahan, pemasaran, konsumsi, dan pengelolaan limbah ikan secara terintegrasi di Kelurahan Kangkung, Bandar Lampung. Identifikasi proyek dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan nelayan dan pelaku usaha pengolahan ikan, serta studi literatur mengenai fasilitas produksi perikanan dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Perancangan ini menggunakan metode desain berbasis masalah, dengan tahapan analisis permasalahan dan kebutuhan ruang, perumusan konsep, hingga pengembangan desain. Konsep desain yang diterapkan adalah Nyappuran, yaitu ruang keterlibatan kolektif yang berangkat dari nilai budaya Lampung Piil Pesenggiri, khususnya Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan. Implementasi desain diwujudkan melalui zonasi yang mendukung aktivitas produksi, edukasi, komunal, dan pemasaran secara terpadu, dengan konsep warna dan material yang menggabungkan karakter pesisir serta pemanfaatan hasil samping perikanan sebagai bagian dari identitas dan keberlanjutan perancangan.
ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN KARAKTERISTIK BATUBARA PADA PIT LASKAR SEMESTA ALAM (LSA), KECAMATAN PARINGIN, KABUPATEN BALANGAN, KALIMANTAN SELATAN
Formasi Warukin merupakan salah satu formasi pembawa batubara utama di Cekungan Barito yang memiliki potensi sumber daya besar, sehingga diperlukan pemahaman mengenai kondisi geologi, lingkungan pengendapan, dan karakteristik batubara guna mendukung pengelolaan sumber daya secara optimal. Penelitian ini dilakukan pada area Pit LSA dengan luas sekitar 6,1 km² yang termasuk dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT Laskar Semesta Alam, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi di lokasi penelitian, serta mengidentifikasi lingkungan pengendapan dan karakteristik batubara di lokasi penelitian. Untuk memetakan kondisi geologi daerah penelitian digunakan data observasi singkapan serta data lubang bor, kemudian data pengukuran penampang stratigrafi untuk analisis litofasies dalam penentuan lingkungan pengendapan batubara. Data lubang bor juga digunakan untuk korelasi lubang bor, sedangkan data hasil uji proksimat dan ultimat batubara lapisan A dan B digunakan untuk analisis kualitas dan peringkat batubara. Lokasi penelitian terdiri atas empat satuan batuan tidak resmi dari tua ke muda yaitu, satuan batugamping, satuan batulempung, satuan batulempung batupasir, dan satuan batupasir, dengan struktur geologi berupa antiklin tipe steeply inclined horizontal fold (Fleuty, 1964) dan sesar naik interpretatif. Batubara di lokasi penelitian diendapkan pada lingkungan transitional lower delta plain dengan asosiasi fasies channel, crevasse splay, interdistributary bay dan swamp. Karakteristik lapisan batubara A dan B dengan kadar abu rata-rata sekitar 1,36 %adb yang termasuk kategori sangat rendah (ISO 11760, 2005), serta kadar sulfur rata-rata sekitar 0,10 %adb yang termasuk kategori rendah (Chou, 2012). Berdasarkan ASTM D388-19a (2019), lapisan batubara A dan B termasuk kategori peringkat Subbituminous C Coal dengan nilai kalori rata-rata sebesar 9.180,21 btu/lb sekitar 21,35 MJ/kg.
PERANCANGAN ALAT BANTU MOBILISASI DALAM PRAKTIK RELOKASI TELUR PENYU (STUDI KASUS: KONSERVASI PENYU NAGARAJA, CILACAP)
Penyu laut merupakan spesies kunci yang keberadaannya dilindungi, namun siklus hidupnya di darat kian terancam oleh tekanan aktivitas antropogenik dan perubahan bentang alam. Di pesisir selatan Indonesia, khususnya Cilacap, ancaman terhadap sarang alami, mulai dari lintasan kendaraan wisata, predasi, hingga abrasi dan Pembangunan, menjadikan relokasi telur sebagai strategi intervensi yang vital. Praktik ini, yang telah menjadi metode konservasi global sejak pertengahan abad ke-20, bertujuan memindahkan telur ke area yang lebih aman. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan mulia konservasi dan fasilitas yang tersedia. Petugas konservasi sering kali harus menempuh jarak patroli hingga 30 km menggunakan sepeda motor trail di medan yang ekstrem, hanya bermodalkan wadah improvisasi seperti kantong plastik atau tas laptop. Kondisi ini meningkatkan risiko guncangan vertikal yang fatal bagi embrio serta paparan fluktuasi suhu ekstrem. Penelitian ini menggunakan pendekatan Human-Centered Design (HCD) dengan metode kualitatif eksploratif-deskriptif untuk menjembatani kebutuhan ekologis telur serta tantangan operasional petugas di lapangan. Melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam, perancangan difokuskan pada pengembangan alat bantu mobilisasi yang adaptif terhadap kondisi medan pesisir serta aktivitas relokasi telur di lapangan. Hasil perancangan menghadirkan solusi produk fisik yang dirancang untuk meminimalkan guncangan mekanis serta menjaga stabilitas termal selama proses relokasi telur. Desain ini menawarkan solusi adaptif, terukur, dan low-cost yang secara signifikan dapat mengurangi risiko mortalitas telur akibat proses relokasi, sekaligus memberikan standar baru dalam praktik konservasi yang lebih ergonomis dan bermartabat bagi para garda depan pelestarian satwa di Indonesia.
KONSTRUKSI IDENTITAS BUDAYA SUNDA: ANALISIS REPRESENTASI OLEH KREATOR KONTEN TIKTOK
Perkembangan media digital telah menggeser kendali representasi budaya dari institusi media konvensional ke tangan individu. TikTok, sebagai platform video pendek dengan pengguna terbesar di Indonesia, menjadi ruang representasi budaya lokal, termasuk budaya Sunda, namun logika algoritma dan viralitasnya membuka kemungkinan reinterpretasi nilai kesundaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi budaya Sunda dalam konten TikTok dan memahami bagaimana identitas budaya tersebut dikonstruksi, mencakup bentuk representasi, unsur budaya yang muncul, pola representasi lintas kategori konten, serta indikasi pergeseran pemaknaan nilai kesundaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan metode analisis representasi berbasis kerangka encoding-decoding Stuart Hall (1980; 1997), diperkaya Circuit of Culture (du Gay dkk., 1997). Data dikumpulkan melalui pengamatan digital non-partisipan dan purposive sampling terhadap dua belas video dari sebelas kreator, dikelompokkan ke dalam empat kategori konten: persona, hiburan, kesenian, dan edukasi. Hasil menunjukkan bahasa Sunda hadir konsisten lintas seluruh kreator sebagai infrastruktur representasi identitas. Dari delapan nilai kesundaan yang dianalisis, distribusi kemunculannya tidak merata dan umumnya hadir melalui tindakan, bukan deklarasi eksplisit. Keempat kategori konten menunjukkan mekanisme representasi yang berbeda tanpa satu kategori yang lebih “Sunda” dari yang lain, dan posisi encoding kreator tersebar dari dominan-afirmatif hingga oposisional. Terkait reinterpretasi, yang dominan terjadi adalah mediasi, bukan mutasi: substansi nilai tidak berubah, yang berubah adalah medium, jangkauan audiens, dan format kemasannya. Ditemukan pula tiga kemunculan baru: morfologi linguistik baru, medium transmisi berbasis video pendek, dan perluasan komposisi penutur otoritatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa representasi budaya Sunda di TikTok adalah proses identitas yang becoming, perluasan ruang ekspresi nilai, bukan perubahan substansinya. Penelitian ini menyumbangkan perluasan kerangka encoding-decoding dan Circuit of Culture ke konteks platform digital, serta menjadi referensi bagi kreator, akademisi, dan pihak pelestarian budaya lokal.
PENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
OPTIMALISASI STRATEGI INVESTASI EMAS DAN PROPERTI MELALUI ANALISIS DINAMIK DENGAN TEORI KONTROL OPTIMAL
Investasi merupakan salah satu cara masyarakat menjaga dan menumbuhkan nilai aset di tengah tekanan inflasi yang menggerus daya beli. Di antara berbagai instrumen, emas dan properti banyak dipilih karena dipandang sebagai penyimpan nilai yang relatif stabil dalam jangka panjang. Penelitian ini menyusun strategi investasi pada emas dan properti, dengan properti direpresentasikan melalui Vanguard Real Estate Index Fund ETF (VNQ), berbasis model pertumbuhan dinamis dan teori kontrol optimal. Data harga bulanan kumulatif kedua instrumen selama lima tahun dimodelkan menggunakan model Logistik, Gompertz, dan Richards, dan model terbaik dipilih berdasarkan nilai koefisien determinasi tertinggi untuk kedua aset sebagai dasar pembentukan sistem persamaan diferensial dinamis dengan laju penjualan emas dan properti sebagai variabel kendali. Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengidentifikasi syarat kestabilan sistem agar investasi tetap berkelanjutan dalam jangka panjang. Masalah kontrol optimal diformulasikan menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin dan diselesaikan secara numerik dengan metode forward-backward sweep untuk mencapai target proporsi kontribusi keuntungan pada horizon investasi tertentu. Sebagai pengembangan, dibangun tiga model terkopel yang merepresentasikan interaksi aliran modal antara emas dan properti, yaitu Model Kompetisi, Model Holling Efek, dan Model Holling Rasio, dengan tambahan variabel kendali berupa koefisien aliran modal antaraset serta konstanta efek kekayaan dan saturasi pada Model Holling Efek agar lebih sesuai dengan kondisi pasar nyata. Berdasarkan analisis komparatif, Model Holling Rasio dipilih sebagai model paling sesuai untuk pengelolaan portofolio jangka panjang karena memiliki daya redam tertinggi terhadap guncangan, lintasan target kontribusi keuntungan yang paling stabil, serta struktur strategi kontrol yang terprediksi
PENGEMBANGAN MODEL BIM INTERAKTIF UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT GEDUNG
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
PENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
TUBUH ANTROPOSEN: POETIC DYSTOPIA KEKARYAAN DENGAN METODE OTONOMI-HETERONOMI
Penelitian penciptaan ini berangkat dari persoalan pluralitas paradigma dalam seni rupa kontemporer yang tidak lagi dapat dipahami melalui satu pendekatan estetik maupun metodologis yang tunggal. Dalam konteks tersebut, penelitian ini memusatkan perhatian pada tubuh manusia sebagai metafor paradoksal dalam era Antroposen: manusia sebagai pelaku sekaligus korban krisis ekologis global. Antroposen dipahami bukan sekadar sebagai isu lingkungan, melainkan sebagai kondisi yang mengubah relasi manusia dengan dunia, serta memengaruhi cara manusia merasakan, mempersepsi, dan membayangkan masa depan ekologisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan practice-based research melalui metode otonomi–heteronomi, yaitu pendekatan yang mempertahankan ketegangan antara kebebasan eksplorasi estetik dengan keterhubungan karya terhadap konteks sosial ekologis. Metode tersebut dioperasikan melalui dua pendekatan yang saling berkaitan, yaitu research-led practice dan practice-led research. Tahap pertama dilakukan melalui kajian terhadap seni rupa kontemporer, Antroposen, teori afek, pengalaman estetik, serta representasi tubuh. Tahap kedua diwujudkan melalui praktik penciptaan karya yang mengeksplorasi tubuh, materialitas, ruang, cahaya, dan atmosfer visual melalui medium patung, instalasi, expanded painting, dan light box. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan otonomi–heteronomi memungkinkan karya menghadirkan pengalaman estetik yang bekerja melalui afek, persepsi, dan sensibilitas tubuh, alih-alih melalui penyampaian pesan ekologis yang bersifat langsung atau didaktik. Tubuh-tubuh yang rusak, ambigu, dan paradoksal dihadirkan melalui strategi puitik distopis yang membangun ketegangan antara daya tarik visual dan rasa genting, melahirkan pengalaman horror sublime dan uncanny yang bersifat reflektif namun tidak sepenuhnya stabil. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengalaman seni rupa kontemporer tidak dapat dijamin menghasilkan kesadaran ekologis publik secara linear maupun terukur, karena pengalaman pemirsa selalu dipengaruhi oleh kondisi persepsi, habitus visual, dan konteks sosial yang melingkupinya. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan metode otonomi–heteronomi sebagai kerangka praktik penciptaan seni rupa kontemporer berbasis Antroposen, sekaligus memperlihatkan bahwa seni dapat berfungsi sebagai ruang pengalaman estetik yang mempertahankan kompleksitas, ambiguitas, dan kerentanan krisis ekologis tanpa harus direduksi menjadi instrumen komunikasi moral maupun solusi sosial yang bersifat langsung.
EVALUASI ADOPSI TEKNOLOGI OTOMASI UNTUK OPTIMASI PRODUKSI: KERANGKA KEPUTUSAN STRATEGIS MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
Di tengah persaingan global yang ketat, sektor manufaktur di Indonesia mengadapi tekanan ketat dalam upaya meningkatkan produktivitas dan meminimalisir pemborosan operasional. PT Sepatu Kanan, perusahaan manufactur alas kaki di Indonesia dengan jumlah karyawan 28,000 dan kapasitas produksi 3.000 pasang sepatu per hari, mengahadapi tantangan tersebut secara nyata pada proses calendaring mixing, tahapan penting dalam pembuatan komponen outsole yang bertujuan untuk menjaga ketebalan pada komponen karet lembaran, secara persisten gagal dalam memenuhi standar target kinerja internal. Target internal dari tingkat pemborosan material dibawah 5%, sedangkan saat ini masih tercatatat sebesar 11,53%. Dengan target konsistensi kualitas diatas 90%, situasi saat ini konsistensis kualitas berada dikisaran antara 73% hingga 82%. Kesenjangan terhadap target kinerja tetap signifikan, meskipun uji coba otomasi percontohan pada Q1-Q2 2025 berhasil memperkecil variasi ketebalan dari +- 0,24mm menjadi +- 0,09mm. Permasalahan utama yang ditemukan dalam studi ini adalah tidak adanya kerangka pengambilan keputusan untuk mengevaluasi alternatif secara sistematis Pendekatan studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tiga kerangka analitik secara berurutan, dimulai dengan mengidetifikasi akar masalah menggunakan Kepner-Tregoe Problem Analysis, Value-Focused Thinking untuk menghasilkan solusi alternatif, dan mengevaluasi semua alternative dengan Analytical Hierarchy Process (AHP). Departemen Produksi, Quality Control, Automation, dan Top Level Management sebagai Subject Matter Expert memberikan Pairwise Comparison terhadap 6 kriteria sukses sudah disepakati sebelumnya. Hasil AHP menunjukan System Optimization (Alternatif 2) sebagai Solusi terbaik dengan skor 38,4%, unggul atas Advanced Automation (38%) dan Enhanced Manual Process (23,6%). Integrasi dari ketiga kerangka KT-VFT-AHP merupakan kontribusi utama dalam penelitian ini dan dapat diimplementasikan sebagai alat pengambilan keputusan untuk strategi adopsi teknologi di manufaktur, khususnya bagi perusahaan yang sedang menjalani transisi Industri 4.0 dengan sumber daya yang terbatas.
ANALISIS PERILAKU PELELEHAN FREEZE PLUG PADA MOLTEN CHLORIDE SALT FAST MODULAR REACTOR (MCSFMR) MENGGUNAKAN SIMULASI ANSYS FLUENT
Freeze plug merupakan salah satu sistem keselamatan pasif pada Molten Salt Reactor (MSR) yang berfungsi meleleh secara otomatis ketika terjadi kegagalan sehingga garam bahan bakar dapat mengalir menuju drain tank. Studi ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pelelehan freeze plug desain SWATH (Salt at Wall: Thermal ExcHanges) pada Molten Chloride Salt Fast Modular Reactor (MCSFMR), mengevaluasi akurasi model numerik, serta mengkaji pengaruh variasi jumlah plug dan rasio pitch-to-diameter (P/D) terhadap waktu pelelehan. Simulasi dilakukan menggunakan ANSYS Fluent dengan metode Finite Volume dan model perubahan fasa enthalpy-porosity. Validasi model dilakukan melalui tiga kasus acuan, yaitu pelelehan konduksi, pelelehan konveksi alami, dan close-contact melting. Setelah validasi, simulasi diterapkan pada freeze plug SWATH dengan konfigurasi 1-plug, 4-plug, dan 7-plug serta variasi rasio P/D sebesar 1,05; 1,5; dan 2,0. Hasil validasi menunjukkan model numerik mampu menghasilkan fenomena pelelehan dengan baik. Konfigurasi 1-plug memiliki waktu pelelehan tercepat sebesar 630 detik, sedangkan konfigurasi 4-plug dan 7-plug menghasilkan waktu pelelehan antara 1800–2310 detik. Analisis distribusi liquid fraction menunjukkan bahwa perpindahan panas didominasi oleh konduksi, sementara konveksi alami menyebabkan pola pelelehan yang asimetris. Variasi rasio P/D menghasilkan hubungan non-monoton terhadap waktu pelelehan, dengan nilai minimum diperoleh pada konfigurasi 4-plug P/D 1,5. Dibandingkan desain referensi untuk garam fluorida, waktu pelelehan yang lebih panjang pada penelitian ini dipengaruhi oleh sifat termofisika garam klorida, terutama kalor laten yang lebih tinggi.
KLASIFIKASI KELAS SPEKTRUM DAN PENENTUAN TEMPERATUR BINTANG WOLF RAYET TIPE WN DAN WC DI BELAHAN LANGIT SELATAN
Wolf-Rayet merupakan bintang spektrum emisi dengan kenampakan garis helium, nitrogen, karbon, dan oksigen yang menjadi dasar klasifikasi kelas spektrum Wolf-Rayet, yaitu WN, WC, dan WO. Wolf-Rayet juga dicirikan oleh komponen angin bintang yang sangat masif dan cepat. Pelontaran materi melalui mekanisme ini menyebabkan atmosfer bintang berekspansi dengan kerapatan yang sangat tinggi yang berkorespondensi dengan terkuburnya profil kontinum teramati Wolf-Rayet. Pada tugas akhir telah dilakukan klasifikasi kelas utama dan sub-kelas spektrum bintang Wolf-Rayet, serta penurunan parameter temperatur bintang menggunakan POWr dari 11 Wolf-Rayet di belahan Bumi selatan. Data spektrum berasal dari pengamatan spektroskopi oleh Peter Velez di Australia dan spektrum ultraviolet dekat dari data arsip IUE. Hasil klasifikasi menggunakan skema kualitatif dan kuantitatif secara berurutan berhasil mengelompokkan bintang-bintang WN dan WC dengan spesifikasi kelas: WR15 (WC4 dan WC4), WR22 (WC4 dan WC4), WR46 (WN8 dan WN2), WR52 (WC4 dan WC4), WR53 (WC8 dan WC9), WR58 (- dan WN3), WR61 (WN8 dan WN2), WR79a (WN8 dan WN2), WR86 (WC6 dan WC7), WR92 (WC8 dan WC9), dan WR93 (WC6 dan WC7). Secara umum, hasil klasifikasi paling dekat dengan referensi adalah bintang WC, sedangkan bintang pada kelas WN ditempatkan pada sub-kelas yang berbeda dengan referensi. Adapun perbedaan ini disebabkan oleh ketiadaan garis diagnostik penting pada spektrum bintang WN. Hasil penurunan temperatur bintang menggunakan model POWr menunjukkan nilai temperatur dari spektrum pada panjang gelombang visual dan UV dekat berurutan: WR15 (158.50; 39.80), WR22 (56.20; 35.50), WR46 (177.80; 177.80), WR52 (89.10; 44.70), WR53 (50.10; 50.10), WR58 (112.20; 35.50), WR61 (50.10; 56.20), WR79a (35.50; 89.10), WR86 (50.10; 56.20), WR92 (39.80; 44.70), dan WR93 (56.20; –). Secara umum, nilai temperatur yang diturunkan cukup dekat dengan nilai referensi, terutama penurunan nilai temperatur menggunakan spektrum UV dekat. Adapun perbedaan ini disebabkan oleh penurunan parameter profil garis dan resolusi spektrum yang rendah.
PENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.