πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI BASIS DATA GRAVIMETRI BERBASIS GEOPORTAL (STUDI KASUS WILAYAH JAWA-BALI)

GravPORT merupakan sistem informasi yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan integrasi data gravitasi terestris dan airborne di wilayah Jawa-Bali. Sistem ini dikembangkan untuk menyediakan platform distribusi data anomali gayaberat yang terstandar, lengkap, dan mudah diakses oleh berbagai pengguna seperti akademisi, konsultan, dan institusi pemerintah. Produk yang dihasilkan berupa basis data gravimetri berbasis PostgreSQL/PostGIS yang terintegrasi dengan geoportal berbasis web untuk visualisasi dan distribusi data anomali gayaberat. Data yang dikelola mencakup data Level 1 berupa titik anomali gayaberat dengan nilai Free-Air Anomaly (FAA) atau Bouguer Anomaly (BA), serta data Level 2 berupa grid raster hasil interpolasi. Proses pengembangan sistem menggunakan metode Waterfall yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi geospasial, dengan arsitektur tiga-lapisan (three-tier architecture) mengintegrasikan PostgreSQL/PostGIS sebagai basis data, CodeIgniter 4 dan Node.js sebagai back-end, serta Leaflet.js untuk front-end interaktif. Seluruh metadata dataset disusun mengacu pada SNI ISO 19115:2012 (adopsi identik dari ISO 19115:2003) sebagai standar metadata nasional untuk informasi geospasial, guna menjamin interoperabilitas dan konsistensi dokumentasi data. Sistem yang dikembangkan mampu mengelola lebih dari ratusan ribu titik serta menyediakan layanan OGC (WMS/WFS) untuk akses data yang kompatibel. Geoportal GravPORT diharapkan mampu mendukung pemodelan geoid, analisis geofisika, serta kebijakan nasional Satu Data dan Satu Peta Indonesia, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan dan kolaborasi data gravimetri lintas institusi.

2026
πŸ‘€ Penulis: Haifa Bilqis
🏷️ Geospasial 🏷️ Data Geologi 🏷️ Interoperabilitas Geospatial

STUDI EVOLUSI SISTEM ALGOL (? PERSEI) MELALUI PROSES TRANSFER MASSA

Sistem Algol (? Persei) merupakan sistem bintang ganda dekat yang menunjukkan fenomena Paradoks Algol, yaitu komponen bermassa lebih kecil (Algol B) telah berevolusi menjadi subgiant, sementara komponen yang lebih masif (Algol A) masih berada di fase deret utama. Fenomena ini diyakini merupakan hasil dari proses transfer massa pada tahap awal evolusi sistem, namun skema transfer massa yang paling sesuai untuk menjelaskan sejarah evolusinya masih menjadi permasalahan terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mensimulasikan evolusi sistem ? Persei hingga mencapai kondisi observasinya saat ini serta menganalisis skema transfer massa yang paling sesuai untuk menjelaskan evolusi tersebut. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Modules for Experiments in Stellar Astrophysics (MESA), khususnya modul MESAbinary, melalui tiga pendekatan secara bertahap: transfer massa konservatif dan non-konservatif dengan parameter awal de Greve, serta transfer massa non-konservatif dengan parameter awal Sarna (M1 = 2.70M?, M2 = 2.40M?, P = 1.4625 hari, ? = 0.31) yang dilengkapi parameter fisika tambahan. Hasil simulasi dibandingkan dengan parameter observasi Sarna (1993) menggunakan kriteria deviasi relatif. Skema non-konservatif dengan parameter Sarna yang telah dioptimasi (jdot multiplier = 6.9, overshoot donor = 0.003, overshoot akretor = 0.04, ?MLT = 1.5) memberikan hasil yang paling mendekati observasi untuk kedua komponen, meskipun radius bintang primer dan luminositas bintang sekunder masih menunjukkan deviasi yang cukup besar. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa skema transfer massa non-konservatif yang dilengkapi parameter fisika tambahan mampu merepresentasikan evolusi sistem ? Persei secara lebih baik dibandingkan skema konservatif maupun non-konservatif tanpa parameter tambahan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Wafiq Tsaniya Salam
🏷️ Evolusi Sistem Bintang 🏷️ Analisis Transfer Massa 🏷️ Astrofisika Stellarnya

PEMBUATAN DATABASE GRAVIMETRI NASIONAL

GravPORT merupakan sistem informasi yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan integrasi data gravitasi terestris dan airborne di wilayah Jawa-Bali. Sistem ini dikembangkan untuk menyediakan platform distribusi data anomali gayaberat yang terstandar, lengkap, dan mudah diakses oleh berbagai pengguna seperti akademisi, konsultan, dan institusi pemerintah. Produk yang dihasilkan berupa basis data gravimetri berbasis PostgreSQL/PostGIS yang terintegrasi dengan geoportal berbasis web untuk visualisasi dan distribusi data anomali gayaberat. Data yang dikelola mencakup data Level 1 berupa titik anomali gayaberat dengan nilai Free-Air Anomaly (FAA) atau Bouguer Anomaly (BA), serta data Level 2 berupa grid raster hasil interpolasi. Proses pengembangan sistem menggunakan metode Waterfall yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi geospasial, dengan arsitektur tiga-lapisan (three-tier architecture) mengintegrasikan PostgreSQL/PostGIS sebagai basis data, CodeIgniter 4 dan Node.js sebagai back-end, serta Leaflet.js untuk front-end interaktif. Seluruh metadata dataset disusun mengacu pada SNI ISO 19115:2012 (adopsi identik dari ISO 19115:2003) sebagai standar metadata nasional untuk informasi geospasial, guna menjamin interoperabilitas dan konsistensi dokumentasi data. Sistem yang dikembangkan mampu mengelola lebih dari ratusan ribu titik serta menyediakan layanan OGC (WMS/WFS) untuk akses data yang kompatibel. Geoportal GravPORT diharapkan mampu mendukung pemodelan geoid, analisis geofisika, serta kebijakan nasional Satu Data dan Satu Peta Indonesia, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan dan kolaborasi data gravimetri lintas institusi.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ahmad Hakim Sufyan
🏷️ Geospasial 🏷️ Data Geologi 🏷️ Interoperabilitas Geospatial

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI BASIS DATA GRAVIMETRI BERBASIS GEOPORTAL (STUDI KASUS WILAYAH JAWA-BALI)

GravPORT merupakan sistem informasi yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan integrasi data gravitasi terestris dan airborne di wilayah Jawa-Bali. Sistem ini dikembangkan untuk menyediakan platform distribusi data anomali gayaberat yang terstandar, lengkap, dan mudah diakses oleh berbagai pengguna seperti akademisi, konsultan, dan institusi pemerintah. Produk yang dihasilkan berupa basis data gravimetri berbasis PostgreSQL/PostGIS yang terintegrasi dengan geoportal berbasis web untuk visualisasi dan distribusi data anomali gayaberat. Data yang dikelola mencakup data Level 1 berupa titik anomali gayaberat dengan nilai Free-Air Anomaly (FAA) atau Bouguer Anomaly (BA), serta data Level 2 berupa grid raster hasil interpolasi. Proses pengembangan sistem menggunakan metode Waterfall yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi geospasial, dengan arsitektur tiga-lapisan (three-tier architecture) mengintegrasikan PostgreSQL/PostGIS sebagai basis data, CodeIgniter 4 dan Node.js sebagai back-end, serta Leaflet.js untuk front-end interaktif. Seluruh metadata dataset disusun mengacu pada SNI ISO 19115:2012 (adopsi identik dari ISO 19115:2003) sebagai standar metadata nasional untuk informasi geospasial, guna menjamin interoperabilitas dan konsistensi dokumentasi data. Sistem yang dikembangkan mampu mengelola lebih dari ratusan ribu titik serta menyediakan layanan OGC (WMS/WFS) untuk akses data yang kompatibel. Geoportal GravPORT diharapkan mampu mendukung pemodelan geoid, analisis geofisika, serta kebijakan nasional Satu Data dan Satu Peta Indonesia, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan dan kolaborasi data gravimetri lintas institusi.

2026
πŸ‘€ Penulis: Alfian Rahma Ayu Indrajati
🏷️ Geospasial 🏷️ Data Geologi 🏷️ Interoperabilitas Geospatial

PENGEMBANGAN KIT DETEKSI RISIKO DINI STUNTING DENGAN PENDEKATAN BIOMARKER BERBASIS MIKROBIOMA PADA SAMPEL FESES

Indonesia memiliki tingkat stunting yang masih tinggi yaitu sebesar 19,8% pada tahun 2024. Stunting disebabkan oleh malnutrisi kronis serta berdampak permanen apabila tidak ditangani pada periode 1000 hari pertama kehidupan. Namun, diagnosis stunting saat ini masih bergantung pada pengukuran antropometri yang mendeteksi ketika telah muncul manifestasi fisik. Berbagai studi menunjukkan bahwa disbiosis pada mikrobioma usus berperan dalam gangguan penyerapan nutrisi dan inflamasi kronis yang berkontribusi terhadap risiko malnutrisi kronis. Perubahan komposisi mikrobioma ini dapat terdeteksi sebelum gejala fisik muncul, sehingga berpotensi sebagai pendekatan strategis deteksi dini risiko stunting pada baduta. Dalam penelitian ini, dilakukan identifikasi bakteri kunci potensial yang berasosiasi dengan prevalensi stunting dari sampel feses dan mengembangkan metode prediksi risiko stunting berbasis mikrobioma saluran cerna dengan pendekatan machine learning. Penelitian ini melibatkan 117 sampel feses bayi berusia 0-24 bulan yang terdiri atas 33 sampel sehat dan 84 sampel prevalensi stunting dari Kabupaten Tasikmalaya. Komunitas mikrobioma dianalisis melalui metode Shotgun Metagenomic dengan Illumina NovaSeq 6000. Profil taksonomi diidentifikasi dan dikuantifikasi menggunakan database dan algoritma MetaPhlAn4. Perhitungan jumlah total bakteri dilakukan dengan menggunakan Quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) dengan primer gen 16s rRNA. Selanjutnya dilakukan analisis diversitas alfa, beta dan uji signifikansi PERMANOVA dan Mann-Whitney dengan menggunakan paket Vegan pada R. Identifikasi mikrobioma penanda dilakukan dengan analisis diferensial MaAslin2 menggunakan program R. Model prediksi risiko stunting dilatih menggunakan pendekatan regresi logistik dengan aplikasi GraphPad, kemudian dilakukan evaluasi terhadap model. Pengambilan informasi kuesioner juga dilakukan untuk eksplorasi hubungan kesehatan saluran cerna dan nutrisi terhadap kondisi kesehatan maupun profil mikrobioma. Hasil penelitian menunjukkan komposisi mikrobioma pada populasi dipengaruhi oleh dominasi filum Firmicutes dan Bacteroidetes, serta kelompok usia secara signifikan (p-value = 0.004). Pemetaan gizi menunjukkan adanya pemisahan distribusi antara anak dengan prevalensi sehat dan stunting berdasarkan status pemberian ASI (komposisi asupan ASI). Hasil kuantifikasi gen 16S rRNA pada kelompok sehat terdeteksi log 10.83 kopi DNA/g dan stunting sebesar log 10.45 kopi DNA/g. Analisis indeks keanekaragaman alfa (indeks Shannon, indeks dominasi Simpson dan kemerataan Pielou) dan beta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Rasio Firmicutes terhadap Bacteroidetes pada kelompok sehat (~0.91) ditemukan lebih tinggi dibandingkan kelompok stunting (~0.76) namun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik (p-value = 0.38).Perbedaan yang signifikan ditemukan pada nilai kekayaan spesies pada kelompok stunting. Analisis diferensial menunjukkan prevalensi stunting berasosiasi signifikan (p-val < 0.05 ; q-val < 0.1) dengan peningkatan spesies bakteri Bacteroides fragilis, Veillonella dispar, Peptostreptococcus stomatis, dan Oliverpabstia intestinalis serta berkurangnya spesies Ruminococcus bromii, Lachnospira pectinoschiza, dan Vescimonas coprocola. Ketujuh spesies tersebut selanjutnya digunakan sebagai fitur prediktif bersama variabel usia dalam pembentukan model regresi logistik untuk mengestimasi probabilitas risiko stunting pada tingkat individu. Model yang dihasilkan menunjukkan performa prediksi yang baik dengan nilai Area Under Curve (AUC) sebesar 0,86, sensitivitas 0,8, dan spesifisitas 0,81 pada data pengujian. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi stunting berhubungan dengan peningkatan spesies bakteri oportunistik serta penurunan spesies komensl. Model prediksi dengan mengintegrasikan tujuh spesies penanda dan variabel usia melalui pendekatan regresi logistik menghasilkan model dengan nilai AUC, sensitivitas dan spesifisitas yang sangat baik, sehingga berpotensi sebagai metode deteksi dini risiko stunting. Penelitian lanjutan dengan validasi model pada populasi yang lebih besar perlu dilakukan untuk mengurangi overfitting pada model.

2026
πŸ‘€ Penulis: Patsy Tasyana Fitri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Biokimia Mikrobioma Usus 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Nutrisi

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
πŸ‘€ Penulis: Luthfi Aulia Hakim
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
πŸ‘€ Penulis: Aura Nisa Arianti
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI KOTA BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
πŸ‘€ Penulis: Varina Erawati Martina
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
πŸ‘€ Penulis: Syalala Loovy
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI KOTA BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
πŸ‘€ Penulis: Raihan Hady Permana
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

REKOMENDASI STRATEGIS UNTUK MEMPERBAIKI POSISI HONDA SCOOPY DI PASAR MELALUI PENINGKATAN RELEVANSI PRODUK DAN KESELARASAN KOMUNIKASI

Sepeda motor memiliki peran yang penting dalam sistem mobilitas masyarakat Indonesia, baik sebagai alat transportasi maupun sebagai bagian dari aktivitas sosial dan kehidupan ekonomi sehari-hari. Di industri sepeda motor, kategori sepeda motor matic atau AT menjadi kategori yang paling dominan di pasar domestik, dan kategori ini masih memiliki tingkat kompetisi tertinggi di Indonesia. Salah satu kelompok desain yang menunjukkan trend positif adalah fashionable AT scooter. Namun, Honda Scoopy sebagai produk utama di segmen ini, menghadapi penurunan performa penjualan, walaupun segmen ini terus menunjukkan tren yang positif. Kondisi ini menjadi permasalahan bisnis karena penurunan performa tidak terjadi di kategori yang sedang melemah, melainkan di segmen yang masih memiliki potensi untuk bertumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi dan preferensi konsumen dalam membeli fashionable AT scooter, menganalisa faktor internal dan eksternal yang berkontribusi terhadap penurunan penjualan, serta formulasi rekomendasi strategis untuk memperkuat posisi Scoopy di pasar. Penelitian ini berfokus pada pasar domestik Indonesia, dengan Honda Scoopy sebagai objek utama, dan Yamaha Fazzio sebagai kompetitor utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena permasalahan yang dihadapi di penelitian ini terkait dengan persepsi konsumen, nilai simbolis, preferensi gaya hidup, relevansi produk, dan keselarasan komunikasi, yang membutuhkan eksplorasi mendalam melebihi data kuantitatif. Data primer didapatkan melalui wawancara dengan tim internal AHM, dan pengguna fashionable AT scooter, yang terdiri dari pengguna Scoopy dan Fazzio. Data sekunder diperoleh dari data internal AHM, laporan pasar, beberapa hasil survei, dan material komunikasi. Data dianalisa menggunakan analisis tematik dengan pendekatan metodologi Gioia untuk mempertahankan keterkaitan antara data mentah dari hasil wawancara, dengan first-order concepts, second-order themes, dan aggregate dimensions. Temuan penelitian kemudian dianalisa menggunakan beberapa alat analisis kondisi internal dan external, seperti PESTEL, Porter’s Five Forces, Product Life Cycle, Integrated Marketing Communication, Marketing Mix 7P, EFAS, IFAS, SFAS, dan TOWS matrix. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa preferensi konsumen di segment fashionable AT scooter, cukup kuat dipengaruhi oleh faktor identitas dan simbolis. Konsumen tidak hanya menilai sepeda motor mereka sebagai alat transportasi saja, tapi juga sebagai produk yang merepresentasikan gaya hidup, ekspresi diri, dan identitas visual. Warna dan ekspresi visual muncul sebagai factor yang penting dalam membentuk persepsi konsumen dan pertimbangan pembelian. Scoopy sendiri dipersepsikan dengan brand yang kuat dan terpercaya, namun mulai dipersepsikan sebagai motor yang aman, mainstream, dan kekurangan pembeda visual jika dibandingkan dengan Fazzio. Di sisi lain, Fazzio dipersepsikan sebagai motor yang ekspresif, muda dan memiliki pembeda visual yang kuat, terutama dari pilihan warna yang fresh dan sesuai dengan trend visual saat ini. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Scoopy menghadapi communication alignment gap. Media sosial, terutama Instagram dan TikTok, menjadi titik kontak yang penting dalam membentuk persepsi konsumen. Walau demikian, komunikasi Scoopy saat ini dipersepsikan kurang berkaitan dengan aktivitas harian, gaya hidup, dan ekspresi identitas dari target penggunanya. selain itu, eksekusi dealer dan titik kontak offline juga belum sepenuhnya sesuai dengan image fashionable yang ingin dikomunikasikan oleh perusahaan. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa penurunan performa Scoopy kurang terkait dengan pelemahan pasar, dan lebih terkait dengan kurang sesuainya perubahan ekspektasi konsumen dengan respon produk dan komunikasi Scoopy saat ini. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini mengidentifikasi dua strategic gaps utama, yaitu product relevance gap dan communication alignment gap. Product relevance gap mencerminkan penurunan diferensiasi visual dan relevansi simbolis dari sudut pandang konsumen. Sedangkan communication alignment gap mencerminkan ketidakkonsistenan antara positioning yang diinginkan perusahaan dengan persepsi yang terbentuk di berbagai titik kontak. Sehingga, penelitian ini memformulasikan rekomendasi strategis yang berfokus pada peningkatan relevansi produk dan perbaikan keselarasan komunikasi. Rekomendasi-rekomendasi ini mencakup penguatan komunikasi media sosial dengan mengacu pada gaya hidup, peningkatan relevansi pesan, pengembangan warna baru pastel dan tone-down, pengembangan aksesoris retro, penyelarasan komunikasi antara dealer dengan frontliners, serta persiapan penyegaran produk yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Kontribusi dari penelitian ini terletak pada analisis strategis yang terintegrasi dengan produk mature yang menghadapi penurunan sales di segment yang sedang bertumbuh. Penelitian ini menggabungkan perilaku konsumen, relevansi produk, keselarasan komunikasi, dan alat manajemen stratejik untuk dapat menjelaskan bagaimana sebuah produk yang memiliki brand yang kuat bisa kehilangan relevansinya saat ekspektasi konsumen berubah. Selain itu, penelitian ini juga memberikan rekomendasi manajerial, roadmap implementasi, KPI dan pemetaan departemen yang bertanggung jawab untuk mendukung AHM dalam membuat keputusan terkait penguatan posisi Scoopy di segmen fashionable AT.

2026
πŸ‘€ Penulis: Erwin Arifianto Lihawa
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kepatuhanan

MEMPERKUAT TALENT PIPELINE YANG BERKELANJUTAN DI INDUSTRI ALAT BERAT INDONESIA: DIAGNOSIS DAN PENYELESAIAN PARADOKS TRIANGULAR DI UT SCHOOL

Munculnya Industri 4.0 di industri alat berat mempengaruhi perubahan dalam tuntutan kompetensi teknis dan peningkatan ketergantungan pada pasokan talenta yang siap pakai saat perekrutan. UT School sebagai penyedia utama yang merupakan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) PT United Tractors Tbk, dibidang Technical and Vocational Education and Training (TVET) berperan sebagai lembaga korporat TVET. Dimana terjadi fluktuasi yang signifikan dalam rasio penerimaan lulusan SMA/SMK di UT School selama periode 2023 hingga 2025 dari 1:11 menjadi 1:27, meskipun terjadi peningkatan lebih dari dua kali lipat dalam jumlah aplikasi dari 6.033 menjadi 15.538. Makalah ini memposisikan kembali masalah tersebut dalam konteks tantangan infrastruktur keberlanjutan terhadap jalur talenta Indonesia untuk industri alat berat. Pertanyaan yang diajukan oleh penelitian ini adalah apa yang menyebabkan penurunan rasio penerimaan pada proses seleksi di UT School, dan strategi prioritas tertinggi apa yang harus diupayakan untuk meningkatkan keberlanjutan jalur talenta. Berdasarkan data kualitatif yang dikumpulkan melalui enam wawancara mendalam dengan tujuh informan kunci dari tiga simpul ekosistem yang diteliti (UT School, Dunia Usaha Dunia Industri yang diwakili PT Kamaju dan SMK mitra, 104 kutipan dikodekan menjadi sembilan tema dan sepuluh klaster, dianalisis melalui abduksi dalam kaitannya dengan Kerangka TVET Input dan Model KSAT Competency. Hasilnya menunjukkan adanya malfungsi sistemik Infrastruktur Keberlanjutan TVET berdasarkan tiga pilar yaitu TVET Input , Competency Formation, dan Kesiapan lulusan Vokasi dan persiapan jalur karir yang bertemu dalam Kerangka Paradoks Segitiga, konsep inti yang dikembangkan dalam penelitian ini. Yaitu, Quality-Retention Paradox, Standardization Paradox, dan Selectivity Signaling Paradox, yang membentuk lingkaran penguatan sistemik yang menentang implementasi titik solusi. Sebagai jawabannya, sebelas solusi terintegrasi bisnis (Program A-K) direkomendasikan dalam kerangka tiga horizon, di mana gelombang awal melibatkan empat program inti berikut: A, D, E, I. Dengan menggabungkan analisis keberlanjutan TVET dengan manajemen pengetahuan dan keberlanjutan, makalah ini mengusulkan kerangka kerja transformasi investasi CSR pendidikan menjadi nilai sosial-ekonomi nyata yang terkait dengan SDG 4 dan SDG 8.

2026
πŸ‘€ Penulis: Erika Pratiwi Darmanto
🏷️ Infrastruktur Keberlanjutan Tvet 🏷️ Kerangka Paradoks Segitiga 🏷️ Manajemen Pendidikan Csr

ADAPTABILITAS STRATEGIS UNTUK KEPEMIMPINAN PASAR DI INDUSTRI BABY CARE INDONESIA MENGGUNAKAN SCENARIO PLANNING

Industri baby care di Indonesia terus mengalami pertumbuhan seiring dengan perubahan perilaku konsumen, meningkatnya akselerasi digital, dan semakin ketatnya persaingan pasar. Namun, ketidakpastian di masa depan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi, daya beli konsumen, transformasi digital, dan dinamika persaingan dapat memengaruhi kemampuan BabyM dalam mempertahankan posisi sebagai market leader di industri baby care Indonesia. Oleh karena itu, BabyM perlu memperkuat kemampuan adaptasi strategis untuk mempertahankan daya saing jangka panjang di tengah kondisi pasar yang tidak pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ketidakpastian bisnis yang memengaruhi posisi kepemimpinan pasar BabyM, mengembangkan skenario masa depan, mengidentifikasi sinyal peringatan dini pada setiap skenario, serta merumuskan rekomendasi strategi bagi BabyM dalam menghadapi berbagai kemungkinan kondisi pasar di masa depan. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan stakeholder internal dan eksternal, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur, jurnal akademis, dan dokumen perusahaan. Hasil penelitian dianalisis menggunakan PESTLE Analysis, Porter’s Five Forces, SWOT Analysis, VRIO framework, dan TOWS Matrix. Hasil penelitian menunjukkan beberapa ketidakpastian mempengaruhi daya saing BabyM di masa depan, antara lain kondisi ekonomi, akselerasi digital, perilaku pembelian konsumen, dan persaingan pasar. Berdasarkan ketidakpastian kritis yang telah diidentifikasi, penelitian ini menghasilkan empat skeneario, yaitu The Battle Arena, The Golden Age, The Dark Times, dan The Old Guard. Setiap skenario menggambarkan kondisi lingkungan bisnis, pola perilaku konsumen, serta tantangan yang berbeda bagi BabyM. Selain itu, sinyal peringatan dini pada masing-masing skenario juga diidentifikasi untuk mendukung kemampuan pengambilan keputusan yang adaptif. Sintesis dari hasil TOWS Matrix menghasilkan pilar strategis untuk memperkuat kemampuan adaptasi dan keberlanjutan kepemimpinan pasar BabyM di tengah ketidakpastian lingkungan bisnis di masa depan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Dinda Rahma Sesha
🏷️ Kepemimpinan Pasar 🏷️ Industri Baby Care Indonesia 🏷️ Transformasi Digital

DAMPAK DARI PERSEPI ESG (ENVIRONMENT, SOCIAL, DAN GORVERNANCE) TERHADAP INTENSI MEMBELI PADA SEKTOR OTOMOTIF DI INDONESIA

Peran klaim Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam membentuk perilaku konsumen masih kurang diteliti dalam konteks otomotif di pasar berkembang. Penelitian ini mengkaji bagaimana persepsi ESG memengaruhi intensi pembelian kendaraan di Indonesia menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai kerangka analitis utama. Survei kuantitatif dilakukan terhadap 200 konsumen di Jakarta yang baru saja membeli atau berencana membeli kendaraan penumpang roda empat. Analisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Behavioral Control dan Attitude merupakan prediktor langsung terkuat dari intensi pembelian. Di antara dimensi ESG, Governance memiliki pengaruh terbesar, memengaruhi secara signifikan Attitude (? = 0,409, p < 0,001) dan Perceived Behavioral Control (? = 0,341, p < 0,001), sementara persepsi Environment & Social memengaruhi Subjective Norm (? = 0,379, p < 0,001) namun tidak memengaruhi Attitude secara langsung. Model menjelaskan 48,2% varians dalam intensi pembelian. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh ESG bersifat spesifik berdasarkan dimensinya dan beroperasi melalui jalur psikologis yang berbeda.

2026
πŸ‘€ Penulis: Brandon
🏷️ Perilaku Konsumen 🏷️ Manajemen Risiko Lingkungan 🏷️ Kepatuhanan

ANALISIS INTERVENSI STRATEGI PEMASARAN DALAM MENDUKUNG PERTUMBUHAN PENDAPATAN DAN RETENSI PELANGGAN: IMPLEMENTASI FRAMEWORK RACE PADA KOPI TAKUA

Industri kedai kopi di Indonesia berkembang dalam pasar red ocean yang sangat ketat, di mana pelaku usaha independen terus-menerus dihadapkan pada tantangan stagnasi pendapatan dan sulitnya mempertahankan pelanggan. Penelitian ini mengkaji apakah intervensi pemasaran yang terintegrasi, yang disusun berdasarkan RACE Framework (Reach, Act, Convert, Engage), sebuah model pemasaran digital yang dikembangkan Chaffey (2022) untuk memandu bisnis melewati keseluruhan siklus perjalanan pelanggan, mampu meningkatkan pertumbuhan pendapatan dan retensi pelanggan di Kopi Takua, sebuah kedai kopi independen yang berlokasi di kawasan permukiman dengan visibilitas jalan yang terbatas di Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental satu kelompok pretest-posttest, dengan membandingkan periode baseline 15 hari terhadap periode intervensi aktif 15 hari, menggunakan data transaksi harian sebagai unit analisis (n = 30 observasi). Intervensi yang diterapkan mencakup tiga manipulasi strategis yang masing-masing selaras dengan tahapan RACE: pemasangan spanduk QR fisik sebagai penunjuk arah lokasi dan kemitraan konten di Instagram (Reach); penerapan bundling produk strategis dan mekanisme upselling (Convert); serta peluncuran program kartu loyalitas fisik (Engage). Analisis kuantitatif melalui regresi berganda dan path modeling menunjukkan bahwa Pola Pengeluaran Pelanggan (Customer Spending Patterns), konstruk perilaku yang mengintegrasikan Nilai Transaksi Rata-rata (ATV) dan Frekuensi Pembelian, terbukti menjadi prediktor paling dominan terhadap total pendapatan (? = 0,923, p < 0,001, RΒ² = 0,991). Sementara itu, Visibilitas Merek (Brand Visibility), meski efektif secara operasional dalam mendatangkan foot traffic, tidak menunjukkan hubungan langsung yang signifikan secara statistik dengan total pendapatan (p = 0,314). Temuan ini mengindikasikan bahwa mekanisme konversi pada level transaksi jauh lebih berpengaruh dibandingkan eksposur digital secara luas, khususnya dalam konteks kedai kopi yang menghadapi keterbatasan visibilitas lokasi. Perlu ditegaskan bahwa meskipun temuan penelitian ini konsisten dengan adanya peningkatan kinerja bisnis dan stabilitas pelanggan, ketahanan organisasional (organizational resilience) tidak diukur secara langsung dan tidak seharusnya dimaknai sebagai hasil yang telah terbukti secara empiris. Penelitian ini juga mengakui sejumlah keterbatasan, antara lain cakupan yang hanya melibatkan satu unit usaha, periode observasi yang relatif singkat, serta tidak adanya kelompok kontrol teracak, yang secara keseluruhan membatasi sejauh mana temuan ini dapat digeneralisasi.

2026
πŸ‘€ Penulis: Bernadine Trisha Leoni
🏷️ Pemasaran Digital 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Kedai Kopi 🏷️ Analisis Pendapatan Dan Retensi Pelanggan
Halaman 91 dari 6754
πŸ’¬