📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS PARAMETER PEMBORAN UNTUK OPTIMASI LAJU PENETRASI DAN SISTEM PERINGATAN DINI TERHADAP RISIKO PIPA TERJEPIT, KEHILANGAN SIRKULASI, DAN LUAPAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK
Accurate prediction of Rate of Penetration (ROP) and the identification of drilling efficiency remain critical challenges in optimizing drilling operations and reducing non-productive time. Traditional methods often struggle to capture the complex, time-dependent performance and bit-rock interactions inherent in diverse drilling zones. This study introduces an Artificial Neural Network (ANN) based approach to predict Rate of Penetration (ROP) and identify drilling efficiency zones. Utilizing forward and backward propagation with stochastic gradient descent, the model incorporates Mechanical Specific Energy (MSE) as a key input to capture the influence of critical variables such as Weight on Bit (WOB), RPM, and friction factors on bit-rock interaction. Following ROP prediction, drilling performance is evaluated across depth intervals to classify efficient and inefficient zones, enabling targeted parameter optimization to reduce non-productive time and costs. Model reliability was ensured through Holdout Method. In parallel, a drilling risk assessment module was developed to monitor loss, overflow, and stuck pipe conditions using trip tank sensors and torque/drag indicators. All predictive results were integrated into a web-based monitoring platform capable of real-time ROP prediction, drilling risk visualization, and Early Warning System classification. The model training achieved a Mean Squared Error of 0.6783 and an R² of 0.9989, with validation on an offset well yielding an R² of 0.8627. In addition, the Early Warning System demonstrated reliable classification performance, with F1-scores ranging from 0.67 to 0.89 for stuck, loss, and overflow risk prediction. System integration enabled real-time responses with a lag time of less than 30 minutes, significantly reducing rig time.
NUTRIKITCHEN: PUSAT EDUKASI KULINER DAN PRODUKSI PANGAN BERGIZI UNTUK MENDUKUNG PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, namun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan fasilitas yang mengintegrasikan edukasi gizi, pelatihan keterampilan, produksi, dan distribusi pangan. Oleh karena itu, NutriKitchen dirancang sebagai pusat edukasi kuliner dan produksi pangan sehat yang mengintegrasikan pembelajaran, pengembangan keterampilan, pengolahan makanan, serta distribusi pangan dalam satu ekosistem untuk mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis. Perancangan menekankan terciptanya lingkungan yang edukatif, transparan, dan kolaboratif melalui pengaturan ruang yang mendukung proses belajar, produksi, serta interaksi antar pengguna, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat ketahanan pangan, dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap penyediaan makanan bergizi.
RANCANG BANGUN MODUL VISI KOMPUTER BERBASIS DEEP LEARNING UNTUK DETEKSI DAN VALIDASI PAKET DALAM SISTEM GADAI TEBUS OTOMATIS
Transformasi digital pada PT Pegadaian melahirkan inovasi sistem gadai tebus barang otomatis. Namun, sistem otomatis berbasis PLC yang hanya mengandalkan sensor non-visual sebagai umpan balik tidak mampu mendeteksi pergeseran aktual yang terjadi di lapangan. Pada intensitas tinggi, deviasi kecil yang terjadi berulang akan membentuk akumulasi error yang terus membesar. Jika tidak ada intervensi, error ini berpotensi menciptakan kegagalan sistem yang fatal seperti tabrakan mekanis antar komponen robotik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang, membangun, dan mengimplementasikan modul visi komputer untuk mengatur ulang gerak robot. Selain kendala pada pergerakan, terdapat juga kebutuhan mendesak akan adanya sistem validasi otomatis untuk memantau isi inventaris secara berkala sehingga sistem mampu mengetahui apakah paket masih sama atau tidak. Metodologi yang digunakan adalah engineering research dengan pendekatan research by project. Dikembangkan secara iteratif mengadopsi prinsip kerja Scrum. Modul deteksi lokasi paket yang dikembangkan menggunakan algoritma YOLOv8 sebagai single-stage detector. Sementara itu, untuk memitigasi risiko manipulasi barang dibangun modul verifikasi vision pada proses opname, sistem verifikasi citra dibangun berbasis OpenCV dengan pendekatan analisis multiparameter yang menggabungkan empat indikator meliputi Structural Similarity Index (SSIM), Object Area Difference, Color Histogram Comparison, dan AKAZE Feature Matching. Kedua modul tersebut digabungkan dalam aplikasi desktop berbasis JavaFX yang menjadi pusat sistem. Hasil penelitian menunjukkan model YOLOv8 yang dilatih untuk mendeteksi objek berhasil konvergen pada 200 epoch. Model ini menghasilkan performa Precision (98,2%), Recall (97,5%), dan mean Average Precision (99,1%). Sementara untuk komposisi terbaik dalam menggunakan multiparameter dalam proses validasi adalah SSIM 35%, Object Area 30%, Histogram 20%, dan AKAZE 15%.
SERENITY : HUNIAN LANSIA BERGAYA HIDUP AKTIF DENGAN INTEGRASI URBAN FARMING DI BANDUNG
Indonesia telah memasuki fenomena ageing population sejak tahun 2021, yaitu kondisi ketika presentase jumlah lansia mencapai lebih dari 10%. Fenomena serupa juga terjadi di Kota Bandung dengan 10,91% dari penduduknya merupakan lansia dan 66,4% di antaranya termasuk ke dalam golongan lansia muda. Golongan lansia muda saat ini cenderung lebih aktif, memiliki daya beli tinggi, dan sangat mengutamakan kualitas hidup. Seiring dengan kemandirian finansial yang semakin mapan, terjadi pergeseran karakteristik pada golongan menengah ke atas. Lansia dengan finansial stabil membutuhkan lingkungan dan hunian yang memfasilitasi berbagai aktivitas, interaksi komunitas, serta kemudahan terhadap akses layanan kesehatan demi mewujudkan kualitas hidup yang maksimal. Sebagai salah satu kota besar dengan gaya hidup yang tinggi, Kota Bandung memiliki permintaan pasar terhadap hunian lansia untuk kalangan menengah ke atas. Namun, pemenuhannya masih belum terakomodasi secara optimal. Menanggapi permasalahan tersebut, maka dirumuskan sebuah rancangan hunian lansia bergaya hidup aktif dengan integrasi urban farming. Proyek ini dirancang sebagai apartemen servis premium yang mengakomodasi segala kebutuhan lansia melalui berbagai fasilitas yang dapat mendukung kebugaran fisik, mental, dan sosial penghuni guna meningkatkan kualitas kesehatan lansia. Metode perancangan dilakukan melalui analisis pengguna, analisis tapak, studi literatur, dan studi preseden tipologi sejenis. Strategi perancangan diwujudkan melalui penyediaan ruang komunal yang tersebar di antara unit-unit hunian untuk menciptakan interaksi sosial pasif, optimalisasi pemanfaatan atap sebagai roof garden, dan mengintegrasikan urban farming sebagai elemen desain. Urban farming dipilih sebagai salah satu aktivitas utama karena memiliki banyak manfaat untuk lansia. Aktivitas ini dapat meningkatkan interaksi sosial, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta dapat menjadi terapi untuk mengurangi stres. Proyek ini selaras dengan SDGs nomor 3 tentang kesehatan dan well-being, serta SDGs nomor 11 tentang kota yang inklusif dan berkelanjutan. Proyek ini menggunakan kerangka force-based yang berfokus pada penyelesaian masalah serta menggunakan pendekatan perilaku pengguna untuk menciptakan lingkungan yang nyaman. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi contoh model hunian lansia premium di Kota Bandung yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
PENGUJIAN SENYAWA CARBON-DOTS (CDS) SEBAGAI KANDIDAT SENYAWA ANTIVIRUS TERHADAP SARS-COV-2 DENGAN METODE CHEMICAL CROSS-LINKING
Data survei global pada bulan maret 2026 melaporkan sebanyak 3.3% dari 64397 sampel di 80 negara masih terkonfirmasi positif SARS-CoV-2. Prevalensi ini dilaporkan rendah dan stabil oleh WHO, namun masih diperlukan penanganan yang intensif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan pengembangan obat antivirus yang menargetkan langsung pada virus SARS-CoV-2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa, protein C-Terminal Domain Nukleokapsid (N-CTD) SARS-CoV-2 dapat digunakan sebagai target pengobatan antivirus karena peranannya dalam replikasi, transkripsi dan perakitan dalam siklus hidup virus. Protein N-CTD SARS-CoV-2 juga dapat membentuk dimer dengan sifat conserved. Berdasarkan data tersebut, maka dilakukan pencarian kandidat obat antivirus yang dapat menghambat dimerisasi protein N-CTD SARS-CoV-2. Salah satu metode awal drug discovery yang mudah dilakukan yaitu chemical cross-linking. Metode ini berbasis interaction-based drug screening yang berfokus pada interaksi protein dan senyawa uji sehingga dapat digunakan untuk menyeleksi senyawa antivirus. Senyawa Carbon-Dots (CDs) diketahui memiliki potensi sebagai antivirus karena memiliki sifat biokompatibilitas, stabilitas, kelarutannya dalam air, bioavailable yang baik serta toksisitas yang rendah. Namun, penelitian mengenai potensi CDs tersebut sebagai antivirus SARS-CoV-2 masih belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menyeleksi dan mengetahui potensi senyawa CDs sebagai kandidat senyawa antivirus yang mampu menghambat dimerisasi protein N-CTD SARS-CoV-2 menggunakan metode chemical cross-linking. Dalam penelitian ini digunakan pyrrolic CDs, pyridinic CDs, graphitic CDs, dan nuciferine CDs sebagai senyawa uji. Sintesis senyawa CDs dilakukan dengan menggunakan metode bottom up hydrothermal. Protein rekombinan N-CTD SARS-CoV-2 diekspresikan pada isolat bakteri Escherichia coli BL21 (DE3). Isolat tersebut telah ditransformasi dengan plasmid pET23a(+) yang mengandung gen pengkode N-CTD SARS-CoV-2. Konfirmasi gen pengkode N-CTD SARS CoV-2 dilakukan dengan metode PCR koloni. Protein rekombinan N-CTD SARS-CoV-2 diproduksi dengan menambahkan inducer IPTG pada medium kultur. Selanjutnya, dilakukan purifikasi dan presipitasi protein rekombinan dengan menggunakan HisPurTM Ni-NTA Spin Columns dan aseton. Protein N-CTD hasil dipresipitasi kemudian digunakan sebagai target pengujian senyawa CDs menggunakan metode chemical cross-linking. Hasil chemical cross linking dikonfirmasi dengan SDS-PAGE dan dianalisis kuantitatif intensitas pita SDS-PAGE menggunakan software ImageJ. Data intensitas pita dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk test, one-way ANOVA dan uji lanjutan post-hoc dengan Tukey’s test. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan gen N-CTD (~370 bp) pada bakteri E. coli BL21 (DE3) transforman N_CTD_SARS-CoV-2. Hasil ekspresi fraksi sitoplasmik, purifikasi dan presipitasi menunjukkan adanya protein N-CTD pada ukuran ~14.5 kDa. Hasil Tukey’s test (p < 0.05) menunjukkan adanya penurunan intensitas yang signifikan pada pita protein dimer dan peningkatan efisiensi inhibisi dimerisasi antara kontrol (0 ppm) dengan pemberian pyrrolic CDs (2000 ppm), pyridinic CDs (4000 dan 6000 ppm), dan graphitic CDs (4000 dan 6000 ppm). Namun, nuciferine CDs memperlihatkan potensi indikasi penurunan rasio dimer terhadap protein total pada konsentrasi 4000 dan 6000 ppm, meskipun nilai efisiensinya berfluktuasi stagnan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini senyawa pyrrolic CDs, pyridinic CDs, graphitic CDs, dan nuciferine CDs berpotensi menghambat dimerisasi N-CTD SARS-CoV-2 dengan metode chemical cross-linking. Di antara keempat senyawa yang diuji, pyrrolic CDs menunjukkan potensi inhibisi terbaik karena mampu menghambat dimerisasi pada konsentrasi terendah (2000 ppm). Namun, diperlukan penelitian lanjutan seperti uji in vitro dan in vivo untuk mengevaluasi potensi senyawa CDs meliputi uji sitotoksisitas, uji aktivitas antivirus, serta pengujian pada hewan model.
ARCHITECTURE AS AN IMMUNE SYSTEM: PERANCANGAN HEALING ENVIRONMENT BAGI PENDERITA PENYAKIT AUTOIMUN
Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit kronis yang terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Diperkirakan terdapat 80 hingga 150 jenis penyakit autoimun, termasuk systemic lupus erythematosus (SLE), juvenile idiopathic arthritis, dan rheumatoid arthritis, yang seba gian besar bersifat melemahkan, harus dikelola seumur hidup, dan belum memiliki terapi kuratif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan prevalensi penyakit autoimun sebesar 40% yang menyerang kelompok usia produktif maupun lanjut usia. Fenomena ini menciptakan tantangan medis dan sosial dikarenakan pasien sering menghadapi beban psikologis, skeptisisme publik, dan keterbatasan dukungan non-medis. Sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Barat, Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menyediakan layanan subspesialis dengan kuota terbatas, termasuk untuk kasus autoimun. Keterbatasan ini membuat banyak pasien dari luar pusat kota harus datang jauh lebih awal untuk mendapatkan nomor antrean. Di sisi lain, tidak terdapat akomodasi khusus yang dapat meringankan pasien. Situasi ini menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga pada lingkungan pendukung yang terintegrasi. Untuk itu, arsitektur diposisikan sebagai immune system eksternal, sebuah pendekatan holistik yang memandang ruang tidak hanya sebagai wadah fisik, melainkan sebagai mekanisme yang melindungi tubuh, mendukung proses pemulihan, serta memperkuat inklusivitas sosial. Sejalan dengan pendekatan tersebut, riset dalam bidang architectural neuroimmunology menunjukkan bahwa desain biophilic, seperti penggunaan cahaya alami, material, vegetasi, dan kualitas akustik dapat menurunkan aktivitas neuroinflammation atau indikator stres fisik pasien. Hal ini mendasari perumusan proyek sebagai sebuah healing environment yang menghubungkan pasien, masyarakat, dan lingkungan melalui integrasi fungsi rumah singgah dan fasilitas pemulihan privat sebagai recovery spaces; serta ruang eksibisi interaktif dan plaza makanan sehat (healthy food hub) sebagai sarana edukasi publik, promosi gaya hidup sehat, dan interaksi sosial. Berlokasi strategis di lingkungan RSHS Bandung, rancangan ini menjadi perpanjangan tangan layanan medis sekaligus wadah edukasi dan advokasi publik mengenai penyakit autoimun. Metode perancangan dimulai dengan studi literatur tentang arsitektur kesehatan dan healing environment, observasi lapangan untuk memahami kebutuhan aktual pasien, serta analisis preseden global untuk mengidentifikasi aspek arsitektur terbaik yang mendukung. Proyek ini menghasilkan rancangan arsitektur yang berperan sebagai mekanisme perlindungan sekaligus penguatan resiliensi. Lebih dari sekadar fasilitas, rancangan ini menjadi medium edukasi dan advokasi sosial yang membangun lingkungan inklusif bagi penderita autoimun, sejalan dengan tujuan SDGs 3 (Good Health and Well-Being), 10 (Reduced Inequalities), dan 11 (Sustainable Cities and Communities).
FACTORS INFLUENCING PEOPLE-RELATED PATIENT SATISFACTION AMONG NURSES AND ADMINISTRATIVE STAFF IN A PREMIUM PRIVATE HOSPITAL GROUP: A MIXED-METHODS RESEARCH
Penelitian ini dilakukan untuk membahas faktor-faktor yang berpengaruh pada pelayanan yang berpusat pada pasien, khususnya pada perawat dan staf administrasi di jaringan rumah sakit premium PPHG. Latar belakang penelitian ini adalah masih banyaknya pasien Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, terutama ke Malaysia, Singapura, dan Thailand. Bagi PPHG, kondisi ini menjadi tantangan bisnis, tetapi juga membuka peluang strategis. Dengan strategi PPHG NextGen, RS PPHG ingin memperkuat jaringan rumah sakit premiumnya agar dapat menjadi pilihan utama di dalam negeri bagi pasien yang mengharapkan layanan dengan standar internasional. Namun, PPHG masih menghadapi tantangan untuk mencapai tujuan ini. Berdasarkan feedback dari pasien, salah satu sumber keluhan utama masih berkaitan dengan aspek People. Artinya, kualitas layanan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan klinis atau fasilitas yang baik, tetapi juga oleh bagaimana staf berinteraksi dengan pasien. Hal ini mencakup kejelasan informasi, empati, daya tanggap, dan cara berkomunikasi selama pasien menjalani perawatan. Penelitian ini menggunakan metode post positivist design mixed methods. Pada fase kuantitatif, penelitian ini menguji tujuh faktor yang diduga berpengaruh pada Skor Kepuasan Pasien. Faktor-faktor tersebut disusun berdasarkan kerangka Job Demands and Resources serta literatur tentang kualitas pelayanan. Tujuh faktor yang diuji adalah Kompetensi Individu, Motivasi Individu, Kelelahan, Kecerdasan Emosional, Kepemimpinan dan Dukungan Supervisor, Budaya Tempat Kerja, serta Kebijakan Rumah Sakit. Data survei dikumpulkan dari perawat dan staf administrasi di empat belas rumah sakit premium PPHG. Analisis yang dilakukan mencakup uji validitas dan reliabilitas, analisis deskriptif, perbandingan kelompok, serta simple linear regression. Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan antara masing-masing faktor dengan Skor Kepuasan Pasien. Setelah itu, penelitian dilanjutkan dengan fase kualitatif melalui Focus Group Discussion atau FGD. FGD dilakukan bersama delapan peserta yang dipilih menggunakan metode maximum variation sampling. Diskusi ini berfokus untuk menggali lebih dalam faktor-faktor yang terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kepuasan pasien. Hasil FGD kemudian dianalisis menggunakan Gioia thematic analysis untuk menemukan pola dan wawasan yang dapat melengkapi hasil statistik. Hasil fase kuantitatif menunjukkan bahwa ada lima faktor yang memiliki hubungan positif dan signifikan dengan Skor Kepuasan Pasien. Budaya Tempat Kerja menjadi predictor yang paling kuat, kemudian diikuti oleh Kecerdasan Emosional, Kebijakan Rumah Sakit, Kepemimpinan dan Dukungan Supervisor, serta Motivasi Individu. Budaya Tempat Kerja juga menunjukkan variasi terbesar terhadap kepuasan pasien di antara unit rumah sakit yang diamati. Temuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi, keamanan psikologis, pembelajaran layanan, dan norma layanan bersama memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman pasien. Sementara itu, Kompetensi Individu dan Kelelahan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan Skor Kepuasan Pasien pada model yang diuji. Namun, kedua faktor ini tetap penting untuk diperhatikan dalam konteks operasional dan manajemen sumber daya manusia. Hasil fase kualitatif membantu menjelaskan temuan kuantitatif secara lebih dalam. Dari fase ini, terlihat bahwa perilaku pelayanan yang berpusat pada pasien terbentuk melalui dua hal yang saling berkaitan. Pertama, staf perlu memiliki kesiapan personal sebelum melayani pasien. Kesiapan ini mencakup kesadaran atas identitas profesional sebagai staf rumah sakit, baik sebagai perawat maupun staf administrasi, kemampuan mengatur diri, serta pola pikir untuk benar-benar peduli kepada pasien. Kedua, staf juga membutuhkan sistem pendukung dari organisasi. Sistem ini mencakup tata kelola yang jelas, peningkatan keterampilan secara berkelanjutan, serta budaya kerja yang kolaboratif. Melalui analisis Gioia, penelitian ini juga menemukan beberapa hal praktis yang dapat diterapkan di PPHG, seperti dukungan dari rekan kerja, pengarahan saat pergantian shift, kerja sama antar departemen, kepemimpinan yang mudah diakses, budaya tidak saling menyalahkan, Prosedur Operasi Standar yang jelas, dan rutinitas komunikasi layanan. Berdasarkan temuan tersebut, penulis merekomendasikan agar PPHG memperkuat budaya kerja kolaboratif sebagai dasar utama dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Selain itu, PPHG juga perlu lebih fokus membangun kecerdasan emosional staf, terutama mereka yang berhadapan langsung dengan pasien. Rekomendasi lain mencakup penguatan peran supervisor, penyederhanaan dan standardisasi kebijakan pelayanan pasien, serta pemberian dukungan yang lebih tepat sasaran kepada kelompok staf yang lebih rentan.
GELANGGANG ENDOMORFISMA DAN KRIPTOSISTEM ANALOG RSA YANG BERKAITAN
Gelanggang endomorfisma dari suatu modul merupakan objek aljabar yang penting untuk dikaji secara tersendiri. Hal ini dikarenakan struktur aljabar dari gelanggang endomorfisma suatu modul jauh lebih kaya dan kompleks dibandingkan dengan modul yang mendasarinya. Salah satu yang dibahas dalam penelitian ini adalah kajian tentang gelanggang endomorfisma dari hasil kali langsung grup aditif modulo. Kajian ini menjadi salah satu topik yang menarik perhatian yang dimulai dari penelitian yang dilakukan oleh Bergman pada tahun 1974. Untuk bilangan prima ????, Bergman mengemukakan bahwa himpunan endomorfisma, End (Z???? × Z????2 ), yang dilengkapi dengan operasi penjumlahan dan perkalian endomorfisma membentuk gelanggang tak komutatif dengan ????5 unsur. Lebih lanjut, Climent dkk. mengidentifikasi setiap unsur di End (Z???? × Z????2 ) sebagai suatu matriks berukuran 2 × 2 yang mana entri dari baris pertamanya merupakan unsur di Z???? dan entri pada baris keduanya merupakan unsur di Z????2 . Pada periode berikutnya, Long dkk. mengonstruksi kriptosistem analog RSA atas gelanggang End (Z???? × Z????2 ) dengan memanfaatkan karakterisasi yang dikemukakan oleh Climent dkk. Di luar itu, Yun Gao dan Yonglin Cao memperluas karakterisasi ke ranah gelanggang suku banyak modulo ???? (????) atas Z????2 . Dalam penelitiannya, keduanya berhasil menentukan karakterisasi struktur gelanggang endomorfisma End Z???? [????] ? ¯ ???? (????)? × Z????2 [????] ? ???? (????)? , dengan ???? (????) merupakan suku banyak monik basic tak tereduksi di Z????2 [????] dan ¯ ???? (????) = ???? (????) mod ????. Di sisi lain, Liu dan Liu mengobservasi karakteristik End(Z????×Z????????) untuk bilangan bulat ???? ? 2. Hal ini memperluas cakupan kajian dari kasus ????2 ke kasus ???????? yang lebih umum. Bertumpu pada karakterisasi ini, Tran Dinh Long dan Le Thi Kim Nga mengonstruksi kriptosistem analog RSA atas End(Z???? × Z????????). Meskipun demikian, karakterisasi gelanggang endomorfisma dalam konteks yang melibatkan struktur suku banyak sekaligus parameter ???? ? 2 secara bersamaan belum dikaji secara menyeluruh. Mengacu pada keseluruhan perkembangan di atas, penelitian ini mengkaji karakterisasi gelanggang endomorfisma End Z???? [????] ? ¯ ???? (????)? × Z???????? [????] ? ???? (????)? , dengan ???? (????) merupakan suku banyak monik basic tak tereduksi di Z???????? [????] dan ¯ ???? (????) = ???? (????) mod ????. Lebih jauh, penelitian ini juga mengkaji peluang kriptosistem analog RSA atas gelanggang tersebut. Sebagai hasil utama, penelitian ini menghasilkan representasi matriks eksplisit bagi setiap unsur gelanggang endomorfisma tersebut, karakterisasi unsur-unsur unit beserta struktur grup unit dari gelanggang, serta mengonstruksi kriptosistem analaog RSA yang dibangun atas monoid perkalian dari perluasan gelanggang endomorfisma terkait.
IDENTIFIKASI BILANGAN OKTAN BENSIN MENGGUNAKAN PULSE-ECHO ULTRASONIK DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MESIN
Bilangan oktan (RON) merupakan parameter vital yang menentukan efisiensi pembakaran dan ketahanan knocking pada Bahan Bakar Minyak (BBM). Metode standar menggunakan mesin Cooperative Fuel Research (CFR) berdasarkan ASTM D2699 memiliki keterbatasan karena bersifat destruktif, mahal, serta kurang praktis untuk pengujian cepat di lapangan. Sebagai solusi alternatif, penelitian ini mengembangkan sistem identifikasi bilangan oktan non-destruktif menggunakan metode pulse-echo ultrasonik yang diintegrasikan dengan pembelajaran mesin, sekaligus menguji ketahanannya (robustness) terhadap variabilitas sumber sampel. Sebanyak 900 sampel bensin komersial (Pertalite RON 90, Pertamax RON 92, dan Pertamax Turbo RON 98) dikumpulkan dari tiga SPBU berbeda. Sinyal ultrasonik diakuisisi pada suhu terpantau (25–26 °C) menggunakan transduser 10 MHz dan perangkat berbasis FPGA un0rick. Untuk meningkatkan signal-to-noise ratio (SNR) hingga +15 dB, dilakukan perataan koheren dari 32 baris pengukuran berulang. Sinyal kemudian diproses dengan filter bandpass Butterworth orde-4, transformasi Hilbert, dan regresi multi-echo berbasis zero-crossing untuk menentukan cepat rambat gelombang. Sebanyak sepuluh fitur akustik domain waktu, amplitudo, dan frekuensi berhasil diekstraksi. Hasil uji ANOVA menunjukkan seluruh fitur memiliki perbedaan signifikan antar-kelas RON, dengan frekuensi sentroid sebagai fitur paling diskriminatif. Nilai cepat rambat gelombang bersifat non-monoton terhadap nilai RON berturut-turut sebesar 1.149,43 m/s (RON 90), 1.153,51 m/s (RON 92), dan 1.148,82 m/s yang mencerminkan pengaruh densitas serta modulus bahan bakar akibat variasi komposisi hidrokarbon. Analisis korelasi dan PCA mendeteksi adanya redundansi fitur yang tinggi. Berdasarkan aspek relevansi dan ketahanan instrumen, dipilih dua fitur komplementer yang saling tidak berkorelasi: v_sound dan f_centroid. Evaluasi delapan algoritma machine learning dilakukan melalui 10-fold Stratified Cross-Validation dan Leave-One-SPBU-Out (LOSO). Model KNN dan Random Forest menghasilkan akurasi tinggi pada k-fold, namun performanya menurun drastis pada uji LOSO akibat batch effect. Sebaliknya, Support Vector Machine dengan kernel RBF (SVM-RBF) terbukti paling andal dengan akurasi LOSO mencapai 90,0% dan F1-makro 0,898. Secara keseluruhan, integrasi metode pulse-echo ultrasonik dengan SVM-RBF mampu mengidentifikasi bilangan oktan secara non-destruktif dengan akurasi generalisasi yang baik, serta menegaskan pentingnya validasi lintas-sumber (LOSO) untuk menjamin keandalan model di lapangan.
STRATEGI PERANCANGAN INTERCHANGE HUB BERBASIS SOSIO-KULTURAL DI TERMINAL STASIUN HALL BANDUNG
Kemacetan merupakan persoalan paralel yang muncul sebagai bagian dari dinamika globalisasi dan modernisasi, terutama di kota-kota besar. Perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain umumnya difasilitasi oleh transportasi umum atau pribadi. Kecenderungan masyarakat dalam menggunakan transportasi pribadi adalah efek samping industrialisasi dan modernisasi yang pada akhirnya memicu kepadatan lalu lintas. Intervensi arsitektur pada simpul transportasi untuk menumbuhkan minat masyarakat dalam penggunaan transportasi umum menjadi alternatif solusi untuk menekan tingginya penggunaan transportasi pribadi. Salah satu simpul transportasi krusial di Kota Bandung adalah Stasiun Kereta Api Bandung, yang memiliki peran vital dalam pergerakan penumpang skala regional. Namun, meskipun melayani pergerakan penumpang dalam skala besar, konektivitasnya dengan Terminal Stasiun Hall di sisi selatan sangat minim. Minimnya integrasi antar moda transportasi ini memaksa pengguna untuk bergantung pada transportasi pribadi, terlebih pada perjalanan first-mile atau last-mile, yang pada akhirnya berkontribusi pada kemacetan di area sekitarnya. Selain itu, kondisi terminal yang tidak didukung oleh fasilitas memadai serta visualnya yang kumuh menunjukkan degradasi fungsional dan visual. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana mengangkat kondisi tersebut tanpa mengabaikan nilai sosio-kultural yang sudah melekat, terutama dengan adanya aktivitas usaha mikro yang menjadi bagian signifikan dari identitas kawasan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembangan kawasan terminal untuk mengatasi degradasi fungsional dan visual dengan tetap merujuk pada lokalitas dan identitas kawasan. Terminal ini akan ditransformasikan menjadi interchange hub yang responsif dan terintegrasi sehingga dapat berperan sebagai penghubung antar moda transportasi. Konsep interchange hub tidak hanya berfokus pada perpindahan fisik antar moda transportasi, tetapi juga bertujuan untuk mengembalikan vitalitas kawasan. Dengan mengintegrasikan ritel dan ruang publik, kawasan ini akan menjadi pusat kegiatan yang dinamis, memberdayakan ekonomi lokal, dan berkontribusi pada kehidupan sosio-kultural kota secara keseluruhan. Penjawaban isu-isu tersebut dilakukan melalui pendekatan holistik yang mencakup studi teoritis, observasi lapangan, analisis komparatif, dan metode partisipatif untuk memahami konteks, tapak, serta masyarakat sebagai pengguna. Tujuan perancangan ini adalah mentransformasi Terminal Stasiun Hall Bandung menjadi sebuah interchange hub yang responsif dan terintegrasi, yang tidak hanya menghubungkan dua moda transportasi, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator bagi pertumbuhan ekonomi, sosial, dan budaya kawasan.
PERBANDINGAN PENANGANAN LEVEL DATA DAN ALGORITMA DALAM DETEKSI FRAUD ASURANSI KENDARAAN BERBASIS EFEKTIVITAS BIAYA
Deteksi fraud pada klaim asuransi kendaraan menghadapi tantangan akibat ketidakseimbangan kelas, tumpang tindih antarkelas, dan asimetri biaya antara false negative dan false positive. Penelitian ini membandingkan strategi penanganan ketidakseimbangan kelas pada level data dan algoritma dalam deteksi fraud berbasis biaya. Tiga strategi yang dibandingkan meliputi pendekatan level data menggunakan Synthetic Minority Over-sampling Technique (SMOTE), pendekatan level algoritma melalui pembobotan peka biaya (cost-sensitive learning), dan pendekatan gabungan yang mengintegrasikan keduanya. Seluruh skenario diimplementasikan dalam pipeline PSO-XGBoost yang identik untuk memastikan perbandingan yang setara. Particle Swarm Optimization (PSO) digunakan untuk mengoptimalkan sembilan hiperparameter XGBoost dan ambang keputusan secara simultan dengan fungsi fitness yang meminimumkan total biaya kesalahan klasifikasi melalui validasi silang lima lipatan. Kinerja model dievaluasi menggunakan metrik klasifikasi dan biaya, dengan Saving Rate sebagai ukuran utama efektivitas ekonomi. Pada data dengan imbalance ratio sebesar 15,72, pendekatan gabungan menghasilkan kinerja terbaik dengan Saving Rate sebesar 52,47% dan recall sebesar 96,22%. Model berhasil mendeteksi 178 dari 185 klaim fraud dan menurunkan total biaya dari 2829,77 menjadi 1345,01. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi penanganan ketidakseimbangan kelas, optimasi hiperparameter, dan ambang keputusan berbasis biaya menghasilkan tingkat deteksi tinggi sekaligus memberikan penghematan biaya. Pendekatan ini menjadi kerangka deteksi fraud yang mempertimbangkan kinerja prediktif dan konsekuensi ekonomi kesalahan klasifikasi.
PEMODELAN GEOMEKANIKA SATU DIMENSI UNTUK KESTABILAN LUBANG BOR DI LAPANGAN RGL, CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA
Lapangan RGL merupakan salah satu lapangan penghasil hidrokarbon di Cekungan Jawa Timur Utara dengan potensi yang menjanjikan. Namun, kegiatan pengeboran di lapangan ini sering mengalami permasalahan kestabilan lubang bor seperti tight spot/stall, partial loss/total loss, connection gas, dan packoff/caving. Penelitian ini menggunakan pendekatan model geomekanika satu dimensi berdasarkan data log sumur, laporan pengeboran, laporan uji tekanan formasi, dan uji laboratorium mekanika batuan untuk menentukan tekanan pori, orientasi tegasan horizontal, sifat mekanika batuan, serta besaran tegasan in-situ yang meliputi tegasan vertikal (Sv), tegasan horizontal minimum (Shmin), dan tegasan horizontal maksimum (SHmax). Hasil pemodelan geomekanika ini digunakan untuk mengoptimalkan parameter kestabilan lubang bor, seperti jendela berat lumpur dan arah trajektori pengeboran sumur yang optimal. Berdasarkan model geomekanika satu dimensi pada sumur AD-1 dan AD-3, rezim tegasan in-situ di Lapangan RGL merupakan rezim sesar normal (Sv > SHmax > Shmin) dengan orientasi SHmax timur laut-barat daya. Hasil pemodelan tersebut menunjukkan bahwa Lapangan RGL memiliki satu tren tegasan utama yaitu kondisi tekanan hidrostatik. Pada kondisi tersebut, rata-rata gradien tekanan pori sebesar 0.44 psi/ft, tegasan vertikal sebesar 1.01 psi/ft, tegasan horizontal maksimum sebesar 0.975 psi/ft, dan tegasan horizontal minimum sebesar 0.925 psi/ft. Oleh karena itu, kestabilan lubang bor dapat ditingkatkan dengan menaikkan berat lumpur. Rekomendasi berat lumpur diawali 9.4–10 ppg pada Formasi Lidah; 9.3–9.7 ppg pada Formasi Wonocolo, Ngrayong, dan Tawun; 10.3–11 ppg pada Formasi Rancak dan Tuban; 9.5–10.5 ppg pada Formasi Kujung I, Kujung II, Kujung III, CD Carbonate, dan Basement; serta 10.9–11.5 ppg pada Formasi CD Clastic untuk pengeboran sumur berikutnya. Selain itu, kestabilan lubang bor dapat dioptimalkan dengan menentukan trajektori pengeboran sumur searah orientasi Shmin, yaitu barat laut–tenggara, karena membutuhkan berat lumpur yang lebih rendah dibandingkan arah lainnya.
PUSAT KESEHATAN MENTAL ANAK DAN REMAJA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR TERAPEUTIK DI KOTA BANDUNG
Kesehatan mental merupakan isu yang kini mulai dikenal oleh masyarakat sebagai sesuatu yang penting dan berharga dalam kehidupan, baik bagi orang dewasa, maupun bagi anak-anak dan remaja. Hal ini disebabkan oleh kesehatan mental dapat memengaruhi perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak serta remaja. Kesehatan mental yang baik dapat membantu anak dan remaja dalam mengelola emosi, membangun hubungan sosial, dan meningkatkan kemampuan belajar. Saat ini, di Indonesia, jumlah anak dengan gangguan kesehatan mental kerap meningkat. Berdasarkan data Dinkes Kota Bandung, anak dan remaja yang terindikasi gangguan mental juga bertambah seiring waktu. Akan tetapi, hal ini berbanding terbalik dengan jumlah fasilitas kesehatan mental, terutama khusus anak-anak dan remaja, di Indonesia. Hingga saat ini, pusat kesehatan mental di Indonesia masih minim dan terkesan mencekam. Untuk merespons permasalahan ini, dibutuhkan pusat kesehatan mental anak dan remaja yang menyenangkan dan menenangkan. Melalui pendekatan arsitektur terapeutik dan penyembuhan yang berpusat pada anak, anak dan remaja diharapkan merasa lebih aman, nyaman, dan rileks. Pendekatan arsitektur terapeutik yang dikombinasikan dengan healing environment diharapkan dapat menciptakan lingkungan dan ruang yang mendukung terapi dan pemulihan serta menenangkan bagi anak dan remaja. Pusat kesehatan mental ini bukan hanya sekadar tempat anak berkonsultasi, tetapi bisa menjadi sebuah ruang penyembuhan melalui pengalaman sehari-hari yang menyenangkan. Penulis memilih tapak yang berada di Kawasan Ciumbuleuit, Kota Bandung. Fasilitas pusat kesehatan mental anak dan remaja ini juga berkaitan dengan SDGs (Sustainable Development Goals) poin 4 Pendidikan Berkualitas dan poin 10 Mengurangi Kesenjangan. Di pusat kesehatan mental ini, anak dan remaja akan mengalami pengobatan sekaligus proses pembelajaran secara kognitif yang dapat mengatasi hambatan psikologis sehingga mereka dapat belajar dengan maksimal. Design framework yang digunakan dalam perancangan pusat kesehatan mental ini adalah force-based dan metode yang digunakan adalah studi literatur, studi preseden, dan analisis data sekunder. Pusat kesehatan mental ini diharapkan dapat mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan, dan meningkatkan kualitas hidup anak serta remaja. Selain berdampak kepada anak, pusat kesehatan mental ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepedulian orang tua terhadap kesehatan mental dan mengurangi stigma negatif mengenai gangguan mental.
KARAKTERISTIK DAN POTENSI PEMANFAATAN FLY ASH-BOTTOM ASH (FABA) SEBAGAI AGREGAT BUATAN MENJADI LAPIS PONDASI JALAN
Pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA) sebagai material alternatif substitusi batuan alam dalam struktur perkerasan jalan menjadi solusi strategis dalam mereduksi limbah industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan agregat buatan (artificial stone) berbasis campuran FABA yang distabilisasi semen PCC 10% sebagai material Lapis Pondasi Agregat Kelas A berdasarkan persyaratan mutu Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2025. Metode eksperimental laboratorium dilakukan dengan merancang empat variasi proporsi campuran fly ash dan bottom ash, yaitu V1 (100:0), V2 (80:20), V3 (70:30), dan V4 (50:50). Evaluasi parameter kelayakan mekanis dan fisik meliputi batas-batas Atterberg, karakteristik pemadatan, daya dukung (California Bearing Ratio/CBR), persentase butiran pecah, dan ketahanan aus agregat (Los Angeles Abrasion). Hasil pengujian menunjukkan bahwa variasi V2 (80% fly ash : 20% bottom ash) merupakan campuran paling optimum yang menghasilkan nilai kepadatan kering maksimum (MDD) sebesar 1,855% gr/cm3 dan daya dukung puncak sebesar 142,28%. Secara keseluruhan, material agregat buatan ini berhasil memenuhi kriteria Lapis Pondasi Kelas A pada parameter kekuatan daya dukung (CBR > 90%), sifat konsistensi (Non-Plastis/NP), kontrol fraksi halus, serta kuncian mekanis. Namun, agregat ini tidak memenuhi kualifikasi ketahanan aus abrasi karena melampaui batas toleransi maksimal 40%. Oleh karena itu, agregat buatan berbasis FABA dinyatakan layak bersyarat dan direkomendasikan aplikasinya melalui rekayasa penambahan semen dan waktu curing yang cukup untuk Kelas A dan Kelas B.
KERANGKA ENTERPRISE RISK MANAGEMENT (ERM) UNTUK EKSPANSI BISNIS : STUDI PADA CABANG BARU IML DI SURABAYA
Studi ini mengevaluasi kesiapan Manajemen Risiko Perusahaan (ERM) IML dalam mendukung ekspansi strategisnya melalui pendirian cabang laboratorium baru di Surabaya, Indonesia. Ekspansi ini didorong oleh meningkatnya permintaan layanan kosmetik, farmasi, lingkungan, dan pengujian produk di Jawa Timur, sekaligus memperkenalkan risiko signifikan terkait tata kelola, operasional, keuangan, sumber daya manusia, dan teknologi. Penelitian ini mengadopsi pendekatan studi kasus kualitatif yang terintegrasi dengan kerangka penilaian kematangan berbasis risiko kuantitatif yang selaras dengan prinsip ISO 31000:2018. Data dikumpulkan melalui wawancara, diskusi kelompok fokus (FGD), analisis dokumen, dan kuesioner yang melibatkan 30 responden dari berbagai fungsi organisasi. Sebanyak 77 indikator risiko diidentifikasi dan diklasifikasikan ke dalam lima domain: Tata Kelola & Strategis, Operasional & Kualitas, Keberlanjutan Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Risiko Teknologi & Digital. Studi ini menerapkan analisis tematik dan penilaian kemungkinan-dampak untuk menilai kematangan risiko organisasi. Temuan menunjukkan bahwa IML mencapai skor kematangan ERM keseluruhan sebesar 3,43 (Level 4 – Kesiapan Moderat), yang menunjukkan bahwa organisasi tersebut siap secara kondisional untuk ekspansi percontohan yang terkontrol. Meskipun demikian, perbaikan masih diperlukan di beberapa area kritis untuk memastikan ekspansi yang berkelanjutan dan efektif. Risiko Sumber Daya Manusia muncul sebagai isu paling kritis, khususnya terkait dengan ketersediaan analis bersertifikasi ISO 17025 yang terbatas, pengembangan jalur bakat yang lemah, ketergantungan pada personel kunci, dan tantangan dalam transfer pengetahuan. Risiko Keberlanjutan Keuangan juga menunjukkan kerentanan yang tinggi, terutama terkait dengan paparan arus kas negatif, ketergantungan pada pendanaan eksternal, dan tata kelola keuangan yang lemah. Selain itu, risiko tata kelola mengungkapkan tidak adanya kebijakan ERM yang diformalkan dan integrasi manajemen risiko yang tidak memadai ke dalam perencanaan strategis. Risiko operasional dan teknologi juga diidentifikasi, khususnya dalam mempertahankan kepatuhan ISO/IEC 17025 dan integrasi sistem digital. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun IML memiliki kompetensi teknis dan potensi pertumbuhan yang kuat, kesiapan ekspansinya masih dibatasi oleh keterbatasan tata kelola, keuangan, sumber daya manusia, dan teknologi. Oleh karena itu, organisasi harus memperkuat institusionalisasi ERM, meningkatkan sistem keuangan dan tata kelola, mengembangkan strategi sumber daya manusia jangka panjang, dan meningkatkan integrasi digital sebelum sepenuhnya menerapkan ekspansi cabang Surabaya. Studi ini berkontribusi dengan menyediakan kerangka kerja kesiapan ekspansi berbasis ERM terintegrasi untuk organisasi laboratorium yang beroperasi di lingkungan yang sangat diatur.