📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

SISTEM PEMANTAUAN KEBERHASILAN REKLAMASI AREA TAMBANG MENGGUNAKAN NDVI DAN NDDI

Akuntabilitas dalam reklamasi area tambang merupakan aspek penting dalam memastikan pemulihan fungsi lahan. Namun, beberapa praktik pemantauan yang saat ini mengandalkan survei berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sering kali menghadapi keterbatasan operasional dan skalabilitas yang terbatas, sehingga diperlukan pendekatan alternatif. Penelitian ini mengkaji potensi citra satelit Sentinel-2 yang beresolusi menengah sebagai alternatif untuk memantau reklamasi pada area pertambangan batubara di Kalimantan Selatan, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun memiliki resolusi spasial yang lebih kasar, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) Sentinel-2 memperlihatkan kesesuaian yang kuat dengan NDVI beresolusi tinggi yang dihasilkan dari UAV, dengan koefisien determinasi (R²) sekitar 0,915 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar ±0,088. Temuan ini mengindikasikan tingkat konsistensi yang tinggi dan deviasi yang rendah antara kedua sumber. Selanjutnya, analisis multitemporal dilakukan dengan mengintegrasikan NDVI dan Normalized Difference Drought Index (NDDI), di mana kinerja reklamasi dievaluasi berdasarkan ambang batas referensi yang diturunkan dari kondisi hutan alami di sekitarnya. Meskipun NDVI efektif dalam merepresentasikan tingkat kehijauan vegetasi, keterbatasannya dalam menggambarkan kondisi kelembapan diatasi melalui penggunaan NDDI, yang menyediakan informasi pelengkap terkait stres air pada vegetasi. Dengan demikian, integrasi kedua indeks tersebut memungkinkan evaluasi kemajuan reklamasi yang lebih komprehensif terhadap kondisi dasar ekologis (ecological baseline conditions). Temuan ini menunjukkan bahwa pemantauan berbasis satelit dapat menjadi alternatif yang praktis terhadap pendekatan berbasis UAV tanpa mengurangi tingkat akurasi. Selain itu, kerangka evaluasi yang merujuk pada kondisi hutan alami memberikan dasar penilaian yang lebih objektif dan terstandarisasi dalam mengevaluasi keberhasilan reklamasi antar lokasi maupun antar periode waktu. Di samping itu, integrasi analisis multitemporal NDVI dan NDDI memungkinkan dilakukannya penilaian berbasis trajektori, sehingga dapat memfasilitasi proyeksi mengenai kemungkinan tercapainya target reklamasi dalam kerangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi.

2026
👤 Penulis: Masayu Arde Lia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ARAHAN PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT DI DESA TEJA, KECAMATAN RAJAGALUH, KABUPATEN MAJALENGKA

Pariwisata berbasis masyarakat dipandang sebagai pendekatan yang efektif dalam mendukung pengembangan desa wisata yang berkelanjutan. Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, merupakan desa wisata yang memiliki potensi wisata alam, pertanian, dan budaya. Potensi tersebut perlu didukung oleh pengelolaan yang baik serta keterlibatan masyarakat agar pengembangan pariwisata dapat berlangsung secara berkelanjutan sesuai dengan prinsip Community Based Tourism (CBT). Penelitian ini bertujuan menganalisis keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata Desa Teja berdasarkan pendekatan Community Based Tourism (CBT) serta merumuskan arahan pengembangannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi, dan analisis berdasarkan prinsip Community Based Tourism (CBT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Teja memiliki potensi yang mendukung pengembangan desa wisata berbasis masyarakat, ditandai oleh keberadaan Agrowisata Anggur Brazil Gentar sebagai daya tarik utama, keterlibatan masyarakat dalam perencanaan wisata, berkembangnya UMKM, serta pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Analisis juga menunjukkan beberapa aspek yang masih perlu diperkuat, meliputi identitas desa wisata, amenitas wisata, tata kelola kelembagaan, serta kemitraan dan promosi wisata. Berdasarkan hasil analisis tersebut, arahan pengembangan difokuskan pada penguatan produk dan identitas wisata, peningkatan kapasitas kelembagaan dan tata kelola BUMDes, serta pengembangan promosi dan kemitraan guna mendukung pengembangan pariwisata yang partisipatif dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Indah Marcelinawati
🏷️ Pariwisata Berbasis Masyarakat 🏷️ Desa Wisata 🏷️ Community Based Tourism (Cbt)

PERPUSTAKAAN UMUM MODULAR YANG ADAPTIF SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN INDEKS LITERASI INDONESIA

Rendahnya tingkat literasi di Indonesia masih menjadi tantangan yang dipengaruhi oleh belum meratanya kualitas dan ketersediaan infrastruktur perpustakaan, khususnya di wilayah pedesaan, terpencil, dan kepulauan. Keterbatasan akses terhadap fasilitas literasi menyebabkan rendahnya pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang belajar dan pusat aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan perancangan yang mampu menghadirkan perpustakaan secara efisien, adaptif, dan mudah diterapkan pada berbagai kondisi wilayah. Tugas akhir ini mengusulkan perancangan Perpustakaan Umum Modular yang Adaptif sebagai upaya mendukung peningkatan indeks literasi Indonesia melalui penerapan sistem arsitektur modular yang fleksibel dan berkelanjutan. Proses perancangan dilakukan melalui kajian literatur, analisis standar perpustakaan, studi preseden, studi pengguna dan aktivitas, analisis tapak, serta pengembangan konsep desain yang mempertimbangkan aspek fungsional, konstruksi, dan lingkungan. Konsep utama yang diterapkan adalah sistem Modular Berkembang, yaitu bangunan yang dapat berkembang secara bertahap sesuai kebutuhan layanan, mulai dari skala desa hingga provinsi. Sistem ini menggunakan material engineered wood berupa Cross Laminated Timber (CLT), Glulam, dan Laminated Veneer Lumber (LVL) dengan sambungan baja prefabrikasi untuk mendukung efisiensi konstruksi, kemudahan transportasi, serta fleksibilitas perakitan dan pengembangan bangunan. Selain itu, bangunan dirancang dengan strategi pencahayaan dan penghawaan alami, selubung bangunan yang responsif terhadap iklim, serta ruang publik yang mendukung interaksi sosial dan kegiatan literasi masyarakat. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan modular mampu menghasilkan perpustakaan yang adaptif, efisien, mudah direplikasi, dan memiliki potensi untuk mendukung pemerataan infrastruktur literasi di berbagai wilayah Indonesia.

2026
👤 Penulis: Yonathan Andyawan
🏷️ Perencanaan Perpustakaan 🏷️ Indeks Literasi Indonesia 🏷️ Arsitektur Modular

RERAILING THE HEART OF THE METROPOLIS: TRANSFORMASI STASIUN GAMBIR MENGHADAPI RESTRUKTURISASI OPERASI KERETA API

Daerah Metropolitan Jakarta memiliki jaringan transportasi berbasis rel paling ekstensif di Indonesia. Sistem ini mencakup layanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta, Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek, serta kereta api jarak jauh (KAJJ). Untuk menghadapi pertumbuhan mobilitas perkotaan, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong restrukturisasi jaringan kereta api dan pengembangan konsep Transit Oriented Development (TOD) di sejumlah simpul transportasi. Salah satu langkah strategis dalam perkembangan ini adalah mempersiapkan Stasiun Manggarai sebagai pusat operasi utama KAJJ. Dampaknya, fungsi Stasiun Gambir selaku stasiun utama KAJJ kelas eksekutif dan campuran di Jakarta akan dialihkan. Layanan KRL Commuter Line yang terakhir beroperasi di Stasiun Gambir pada tahun 2012, diisukan akan direaktivasi sehingga Gambir kembali melayani KRL sekaligus beberapa perjalanan KAJJ. Pengembalian layanan KRL membuka peluang dan tantangan baru bagi stasiun ini. Peluang untuk menjadi simpul transportasi strategis berpotensi terhambat oleh risiko lonjakan pengguna (crowd surge) musiman akibat kegiatan di kawasan Medan Merdeka, sementara tata ruang dan integrasi moda eksisting saat ini dinilai belum optimal. Sehingga, diperlukan intervensi spasial untuk memitigasi gangguan operasional akibat konflik sirkulasi dan kepadatan pengguna yang tinggi. Proyek ini mengajukan perancangan ulang Stasiun Gambir guna merespons perluasan fungsi transit sekaligus mempertahankan fungsi ruang publik. Melalui pendekatan kajian regulasi, pemetaan kebutuhan spasial pengguna, dan sinkronisasi dengan rencana pengembangan Medan Merdeka, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan integrasi antarmoda dan mewujudkan ruang kota yang adaptif terhadap dinamika mobilitas.

2026
👤 Penulis: Muhammad Khairiza
🏷️ Transportasi Udara 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

BOGOR CREATIVE COMMONS: RUANG BERSAMA SEBAGAI WADAH AKTIVITAS KOMUNITAS KREATIF DI KOTA BOGOR

Plaza Bogor merupakan salah satu bangunan komersial yang berada di pusat Kota Bogor, tepat di kawasan strategis yang dikelilingi destinasi penting seperti Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, Museum Zoologi, serta kawasan pecinan Suryakencana yang dikenal sebagai pusat kuliner legendaris. Posisi yang demikian strategis semestinya menjadikan Plaza Bogor sebagai simpul kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Namun, sejak dikosongkan pada tahun 2024, bangunan ini terbengkalai dan tidak lagi berfungsi secara optimal. Kondisi tersebut menimbulkan degradasi kawasan, melemahkan potensi UMKM, serta mengurangi daya tarik kota. Oleh karena itu, revitalisasi Plaza Bogor dipandang penting sebagai solusi untuk mengembalikan fungsi bangunan melalui integrasi aktivitas komersial, komunitas, dan ekonomi kreatif yang selaras dengan karakter kawasan. Konsep revitalisasi diarahkan pada transformasi Plaza Bogor menjadi community and creative hub yang mengintegrasikan fungsi komersial, komunitas, rekreasi, dan ekonomi kreatif. Program ruang mencakup area retail, foodcourt, workshop, ruang meeting, ruang komunitas, serta area komunal yang tersebar di berbagai titik di dalam bangunan. Revitalisasi akan fokus terhadap dua fungsi, yaitu komunitas dan kreatif, serta didukung dengan fungsi komersial dan publik. Dengan tipologi mixed-use, bangunan dirancang untuk mendukung aktivitas ekonomi sekaligus menjadi wadah kolaborasi dan interaksi masyarakat. Pendekatan desain menitikberatkan pada pemahaman perilaku pengguna, konteks kawasan, sekaligus menerapkan prinsip arsitektur berkelanjutan. Studi preseden, observasi lapangan, serta analisis pergerakan pengguna menjadi dasar untuk merumuskan strategi desain yang responsif. Strategi desain diwujudkan melalui peningkatan konektivitas ruang, sirkulasi yang mengalir, penyediaan ruang komunal yang tersebar, serta fleksibilitas fungsi untuk mendukung berbagai aktivitas komunitas dan masyarakat. Tujuan utama dari perancangan ini adalah menghadirkan ruang yag mampu mendorong kolaborasi komunitas, memfasilitasi kreativitas masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, serta menciptakan ruang publik yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan kawasan. Dengan revitalisasi ini, Plaza Bogor diharapkan bukan hanya memulihkan fungsi bangunan sebagai pusat komersial, tetapi juga mentransformasikannya menjadi community dan creative hub, sebuah ruang yang memfasilitasi interaksi sosial, memperkuat ekonomi kreatif, serta mempertegas identitas kota dalam kerangka Sustainable Development Goals nomor 11, yaitu Sustainable Cities and Communities.

2026
👤 Penulis: Nadia Wanda Shafina
🏷️ Desain Urban 🏷️ Komunitas Kreatif 🏷️ Sustainable Development Goals

TAPAK CARITA PERFORMING ARTS CENTER : BLURRING SPATIAL BOUNDARIES IN SUNDANESE FOLK PERFORMING ARTS THROUGH INTERACTIVE ENVIRONMENT DESIGN

Indonesia, negara dengan beribu pulau yang juga diiringi beragamnya suku, bangsa, dan budaya, tidak mengherankan jika negara ini diakui dalam kancah internasional. Tiap daerah mempunyai ciri khas yang menguatkan identitas antar satu daerah dengan lainnya. Ragamnya suku di Indonesia, salah satunya, suku Sunda, suku dengan kelompok etnis terbesar di Indonesia yang menempati daerah Jawa Barat. Keanekaragaman budaya serta nilai filosofis berusaha untuk diwariskan turun menurun oleh masyarakat setempat, tepatnya masyarakat pedesaan suku Sunda. Namun, lain halnya dengan perkembangan budaya Sunda di perkotaan, yang semakin redup dan terancam. Sebagian besar masyarakat, terutama generasi muda, beranggapan bahwa budaya tradisional itu “kuno” dan “tidak relevan” dengan kehidupan masa kini. Kondisi ini ini bukan lagi dipicu oleh minimnya informasi, melainkan wadah yang tersedia kurang mampu mengimbangi kebutuhan Masyarakat terkini, hanyalah sebuah ruang yang pasif, tertutup, dan aktif pada waktu tertentu, seolah membatasi interaksi antar pengunjung dengan budaya yang ditawarkan. Lebih dari sekedar wadah pertunjukkan, ruang budaya juga berperan sebagai ruang publik yang mampu membentuk keterikatan emosional serta pengalaman ruang yang berkesan. Hal tersebut diwujudkan melalui ruang yang mampu mewadahi, bahkan berinteraksi, baik dengan kebutuhan fisik maupun psikis penggunanya. Melalui kedua pendekatan desain, Interactive Environment dan Immersive Folk Narrative, memperkuat terciptanya pengalaman imersif pada bangunan. Pendekatan tersebut mengolah arsitektur menjadi lebih “hidup” bukan hanya penghubung antar fungsi bangunan, melainkan mampu merespons kehadiran dan emosi pengguna, serta menciptakan ikatan yang menyeluruh. Konsep perancangan didukung melalui teori Paparakoan Lembur yang turut menerapkan prinsip Sunda; Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh. Ketiga prinsip tersebut menitikberatkan pada nilai pembelajaran, kepedulian, serta kebersamaan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Prinsip tersebut direalisasikan melalui pengadaan zona tahapan, diawali dengan zona kolektif, zona sosial, zona transisi, dan kembali pada zona transformasi. Selain, fungsi utama bangunan sebagai pusat pertunjukkan budaya Sunda, bangunan juga berperan sebagai ruang publik yang mewadahi interaksi, kolaborasi, dan kegiatan sosial melalui amphitheatre terbuka, workshop budaya, galeri, dan area pendukung lainnya. Konsep blurring spatial boundaries tercipta melalui pengalaman budaya yang lebih hidup dan partisipatif dengan peniadaan batas antar pengunjung dengan lingkungan yang tersedia. Menargetkan masyarakat lokal dan wisatawan pendatang, rancangan ini akan berlokasi di Jl. Cigadung Raya Barat, Kota Bandung. Tapak ini strategis, berada di kawasan dengan karakter lingkungan yang masih memiliki korelasi erat antara lanskap alami dengan aktivitas perkotaan. Lokasi tapak juga berada di jalur utama sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk mengakses bangunan. Serta, kondisi kontur existing yang berundak berpotensi dalam pembentukan pengalaman ruang secara bertahap. Rencana pemerintah setempat untuk mengembangkan kawasan ini sebagai area pariwisata juga akan didukung oleh penetapan bangunan ini ke dalam tapak. Metode penelitian pada perancangan ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, analisis preseden, observasi lapangan, dan studi perilaku pengguna. Rancangan ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan Pendidikan Berkualitas (SDG 4) melalui pengalaman edukasi budaya yang interaktif dan imersif. Selain itu, rancangan juga terlibat dalam upaya Mengurangi Ketimpangan (SDG 10) melalui pemberdayaan masyarakat lokal sebagai motor penggerak aktivitas di dalamnya. Rancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif pendekatan baru dalam pelestarian budaya Sunda melalui ruang pertunjukan yang lebih adaptif dan relevan akan kebutuhan masyarakat masa kini. Pada akhirnya, studi ini bertujuan dalam menghadirkan pengalaman yang membangkitkan emosi (evokes emotions), membentuk perjalanan ruang mendalam (creates an immersive journey), serta meninggalkan kesan membekas bagi pengunjung (leaves lasting impression).

2026
👤 Penulis: Shinta Maharani Damarsakura
🏷️ Desain Interaktif 🏷️ Pendidikan Berkualitas 🏷️ Mengurangi Ketimpangan

PENGEMBANGAN PLATFORM SISTEM MONITORING JALAN DAN JEMBATAN JAWA BARAT (TEMAN JABAR) BERBASIS ARSITEKTUR MICROSERVICES

Jalan dan jembatan merupakan infrastruktur penting yang mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi. Pengelolaannya menuntut adanya mekanisme pemantauan dan penanganan yang lebih cepat, tepat, dan terintegrasi melalui transformasi digital. Sebagai implementasi di tingkat daerah, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat mengembangkan platform digital Teman Jabar (Sistem Monitoring Jalan dan Jembatan Jawa Barat) untuk meningkatkan keterlibatan publik dan mengelola data infrastruktur. Pada awal pembangunannya, platform Teman Jabar beserta aplikasi pendukungnya seperti Sipelajar, Talikuat, Sapu Lobang, dan Systarumija menggunakan pendekatan arsitektur monolitik. Seiring meningkatnya jumlah pengguna dan kebutuhan integrasi, arsitektur monolitik menunjukkan keterbatasan. Keseluruhan modul yang tergabung dalam satu aplikasi menciptakan tingkat ketergantungan antar komponen yang tinggi (tight coupling). Hal ini berdampak pada keterbatasan skalabilitas, kesulitan pemeliharaan, serta tingginya risiko kegagalan sistem secara menyeluruh (cascading failure) dan downtime yang dapat mengganggu layanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk merancang arsitektur platform Teman Jabar berbasis microservices menggunakan metodologi Service Computing System Engineering (SCSE) guna mengatasi permasalahan pada arsitektur monolitik tersebut. Pengembangan difokuskan pada tahap Objective and Requirements, Modeling, dan Development untuk menghasilkan prototipe arsitektur yang modular dan terdistribusi. Prinsip pengembangan yang diterapkan berfokus pada dekomposisi layanan menggunakan Domain-Driven Design (DDD) untuk mencapai loose coupling dan high cohesion. Berdasarkan hasil analisis domain, platform Teman Jabar diklasifikasikan menjadi beberapa batas layanan (bounded context), yang kemudian menghasilkan enam inovasi layanan inti, yaitu Layanan Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Layanan Pengelolaan User, Layanan Pengaduan Masyarakat, Layanan Monitoring Paket Pekerjaan, Layanan Pengelolaan Aset dan Perizinan, serta Layanan Informasi dan Dashboard. Setiap layanan ini diimplementasikan secara independen menggunakan teknologi containerization Docker dengan antarmuka berbasis Application Programming Interface (API). Evaluasi rancangan arsitektur dilakukan terhadap dua aspek utama, yaitu kualitas desain layanan secara struktural dan atribut kualitas sistem pada tingkat prototipe. Pengukuran metrik desain layanan dilakukan menggunakan empat parameter kuantitatif. Hasil pengukuran menunjukkan nilai Coupling Factor (CopF) sebesar 0,001832, Cohesion Factor (CohF) sebesar 0,9118, Complexity Factor (ComF) sebesar 0,002009, dan Reusability Factor (ResF) sebesar 3,18. Nilai evaluasi tersebut mengonfirmasi bahwa rancangan arsitektur microservices yang diusulkan telah terhindar dari kerumitan desain dan berhasil mencapai karakteristik fundamental microservices, yaitu tingkat loose coupling yang tinggi, high cohesion, low complexity, serta memiliki potensi guna ulang (reusability) yang baik untuk mendukung integrasi dengan sistem pemerintah daerah lainnya. Selain evaluasi desain, pengujian juga dilakukan untuk memvalidasi atribut kualitas sistem, khususnya terkait interoperabilitas, stabilitas, dan ketahanan sistem (resilience). Pengujian interoperabilitas internal berbasis API menunjukkan keberhasilan komunikasi dan konsistensi pertukaran data secara sinergis antar layanan. Pada pengujian stabilitas dengan skenario hantaman beban ekstrem secara serentak mencapai total 95.920 permintaan (requests), sistem mampu memproses dengan tingkat keberhasilan (success rate) otentikasi mencapai 100% dan tingkat kesalahan (error rate) sebesar 0,0%. Lebih lanjut, pengujian ketahanan (resilience testing) dilakukan menggunakan pendekatan Chaos Engineering melalui skenario isolasi kegagalan (fault injection). Hasilnya membuktikan bahwa gangguan atau penghentian paksa pada satu layanan tidak menyebabkan propagasi kegagalan ke layanan lain, sehingga sistem terhindar dari cascading failure. Waktu rata-rata pemulihan sistem (Mean Time To Recovery atau MTTR) juga tercatat sangat cepat, yaitu pada rentang 800 hingga 1.200 milidetik. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan arsitektur microservices menggunakan kerangka kerja SCSE memberikan landasan teknologi yang modular, adaptif, dan tangguh untuk pengembangan platform sistem monitoring infrastruktur di masa mendatang.

2026
👤 Penulis: Andang Kurniawan
🏷️ Microservices 🏷️ Pengelolaan Infrastruktur Jalan Dan Jembatan 🏷️ Transformasi Digital

PERANCANGAN TAMAN KOTA DI JAKARTA DENGAN PENDEKATAN CONTEMPLATIVE LANDSCAPE MODEL (CLM) STUDI KASUS : TAMAN SUROPATI, JAKARTA PUSAT

Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting di kawasan perkotaan akibat tingginya tingkat stress masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau memiliki peran penting dalam nmendukung kesehatan mental. Salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menilai kualitas lanskap yang mendukung kesehatan mental adalah Contemplative Landscape Model (Olszewska, 2023). Model ini mengevaluasi kualitas kontemplatif lanskap berdasarkan tujuh elemen utama yaitu : layers of the landscape (1), landform (2), biodiversity (3), color & light (4), compatibility (5), archetypal elements (6), serta character of peace & silence (7). Jakarta sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia dipilih sebagai konteks penelitian. Melalui kuesioner analisis pra-asesmen pada beberapa kota, Taman Suropati di Jakarta Pusat ditetapkan sebagai lokasi studi. Evaluasi CLM dilakukan pada 31 titik pengamatan yang tersebar di dalam taman. Hasil penilaian menunjukkan bahwa Taman Suropati berada pada kategori sedang, yang mengindikasikan bahwa taman memiliki potensi kontemplatif namun belum optimal dalam mendukung kesehatan mental pengunjung. Validasi eksploratif melalui kuesioner juga dilakukan untuk memperoleh perspektif pengguna terhadap kualitas ruang taman. Hasilnya menunjukkan bahwa kekuatan utama Taman Suropati terletak pada elemen archetypal elements, sementara beberapa elemen lain masih memiliki peluang untuk ditingkatkan. Sebagai taman kota yang berada di kawasan cagar budaya, pengembangan Taman Suropati memiliki sejumlah keterbatasan, terutama terkait elemen bentuk lahan (landform) dan struktur lanskap eksisting. Oleh karena itu, intervensi desain difokuskan pada elemen CLM yang masih dapat dikembangkan tanpa mengubah karakter utama taman. Proses perancangan menggunakan scene-based method, yaitu pendekatan yang berangkat dari persepsi visual pengguna pada berbagai titik pandang dan kemudian ditransformasikan ke dalam rencana tapak. Analisis spasial dilakukan untuk menentukan anchor point sebagai titik awal perancangan. Titik-titik dengan potensi skor CLM tinggi dikembangkan sebagai main contemplative nodes, sedangkan titik dengan potensi sedang hingga tinggi dikembangkan sebagai secondary contemplative nodes. Selanjutnya, seluruh node dihubungkan melalui rangkaian contemplative sequence untuk menciptakan pengalaman ruang yang mendukung refleksi, relaksasi, dan keterhubungan dengan alam. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan CLM dapat diterapkan sebagai kerangka desain dalam pengembangan taman kota untuk meningkatkan kualitas kontemplatif ruang dan mendukung kesehatan mental masyarakat tanpa mengubah struktur utama taman yang telah ada.

2026
👤 Penulis: Dia Sebening Permata
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN KEAMANAN DATA PADA SISTEM SERTIFIKASI BENIH PERKEBUNAN BERBASIS BLOCKCHAIN

Kualitas benih merupakan penentu utama keberhasilan produksi pertanian, sehingga sertifikasi benih yang kredibel menjadi instrumen penting dalam menjamin integritas, legalitas, dan keterlacakan benih perkebunan. Namun, sistem sertifikasi benih perkebunan yang berjalan saat ini masih memiliki kelemahan mendasar pada aspek keamanan data. Mekanisme pencatatan yang terpusat dan ketergantungan pada dokumen fisik menyebabkan potensi manipulasi data, pemalsuan dokumen, lemahnya audit trail, serta keterlacakan yang terbatas. Kasus pemalsuan benih di Kalimantan Timur tahun 2013 yang melibatkan ratusan ribu bibit, serta kasus serupa di Jawa Barat dan Jawa Timur, mengonfirmasi bahwa permasalahan ini bersifat struktural dan memerlukan intervensi arsitektural, bukan sekadar kebijakan prosedural. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pendukung keamanan data pada proses sertifikasi benih perkebunan yang mampu menjaga integritas data, mendukung validitas dan verifikasi dokumen, menegakkan kontrol akses, menyediakan audit trail, serta menjamin keterlacakan data secara end-to-end dalam ekosistem multipihak. Hipotesis penelitian menyatakan bahwa penerapan sistem berbasis Hyperledger Fabric, InterPlanetary File System (IPFS) Private Cluster, dan prinsip Zero Trust Architecture (ZTA) mampu memperkuat keamanan data sertifikasi dibandingkan dengan mekanisme konvensional yang belum memiliki pencatatan terdistribusi, pembuktian integritas dokumen, dan verifikasi akses berkelanjutan. Penelitian menggunakan Design Research Methodology (DRM) sebagai pendekatan metodologis melalui empat tahapan utama: Research Clarification (RC) untuk merumuskan masalah dan kriteria keberhasilan; Descriptive Study I (DS-I) untuk menganalisis sistem sertifikasi saat ini, mengidentifikasi celah keamanan, dan membangun Reference Model Final (RMF); Prescriptive Study (PS) untuk merancang arsitektur sistem pendukung dan membangun Proof of Concept (PoC); serta Descriptive Study II (DS-II) untuk mengevaluasi efektivitas sistem berdasarkan indikator keamanan yang terukur. Analisis keamanan menggunakan pemodelan ancaman STRIDE, analisis SWOT, serta kerangka Goal-Oriented Requirements Engineering (GORE) untuk mendeskripsikan dan menurunkan kebutuhan sistem. ii Sistem yang dirancang mengusulkan arsitektur berlapis yang memisahkan lapisan interaksi pengguna, lapisan kontrol dan keamanan, lapisan logika pengelolaan data sertifikasi, lapisan penyimpanan dokumen terdistribusi, serta lapisan infrastruktur kepercayaan. Hyperledger Fabric digunakan sebagai permissioned blockchain untuk validasi, pencatatan transaksi, dan governance data sertifikasi lintas organisasi. IPFS Private Cluster berperan sebagai penyimpanan dokumen digital berbasis content addressing dengan mekanisme integritas menggunakan Content Identifier (CID) dan SHA-256. ZTA diterapkan melalui Keycloak sebagai Identity Provider, Policy Engine untuk evaluasi kebijakan akses dinamis, serta penegakan prinsip “never trust, always verify” yang diimplementasikan langsung pada chaincode Hyperledger Fabric. Evaluasi sistem dilakukan melalui tiga jenis pengujian. Pengujian fungsional dengan Black Box Testing menunjukkan bahwa seluruh skenario alur sertifikasi, mulai dari pencatatan batch benih, pengajuan sertifikasi, input hasil inspeksi, evaluasi, penerbitan sertifikat, penelusuran riwayat, hingga verifikasi dokumen berjalan sesuai hasil yang diharapkan. Pengujian keamanan membuktikan bahwa sistem mampu menolak akses tanpa otorisasi, membatasi tindakan berdasarkan kebijakan akses, mencegah eskalasi hak akses, melindungi integritas data final, serta menghasilkan audit log. Pengujian kinerja menggunakan Hyperledger Caliper menunjukkan operasi baca stabil pada seluruh beban uji dengan latensi rendah, sedangkan operasi tulis optimal hingga 25 TPS sebelum mengalami kejenuhan akibat proses konsensus, endorsement, dan commit ke buku besar. Tambahan overhead ZTA pada operasi baca tercatat sekitar 3,28 ms, yang dinilai tidak signifikan untuk kebutuhan verifikasi. Kebaruan penelitian terletak pada tiga aspek: (1) Non-Intrusive Security Integration, yaitu penguatan keamanan yang tidak mengubah struktur utama proses sertifikasi yang sudah berjalan; (2) Multi-Layer Security Orchestration, yaitu orkestrasi keamanan berlapis yang menghubungkan kontrol akses, audit, penyimpanan dokumen berbasis bukti integritas, dan pencatatan blockchain secara kohesif; serta (3) Domain-Specific Blockchain Governance, yaitu tata kelola permissioned blockchain yang dirancang sesuai karakter ekosistem sertifikasi benih perkebunan dengan endorsement policy multipihak dan isolasi kanal buku besar bersama. Penelitian ini menghasilkan model konseptual keamanan data, kerangka metodologis yang dapat direplikasi, serta rancangan PoC sistem pendukung keamanan data sertifikasi benih perkebunan. Hasil evaluasi membuktikan hipotesis bahwa kombinasi Hyperledger Fabric, IPFS Private Cluster, dan ZTA secara nyata memperkuat integritas data, validitas dokumen, kontrol akses, auditabilitas, dan keterlacakan data sertifikasi benih perkebunan secara end-to-end.

2026
👤 Penulis: Rangga Djatikusuma Lukman
🏷️ Blockchain 🏷️ Keamanan Data Sertifikasi Benih Perkebunan 🏷️ Hidrologi

ANALISIS GAYA UJUNG DAN DEFLEKSI STRUKTUR PADA CONTOH KASUS STRUKTUR DOLPHIN TUBULAR MENGGUNAKAN METODE KEKAKUAN LANGSUNG BERBASIS MATLAB

Struktur dolphin tubular merupakan salah satu struktur lepas pantai yang berfungsi sebagai fasilitas tambat dan sandar kapal serta menerima beban lingkungan secara langsung, seperti beban gelombang dan arus. Beban tersebut dapat menyebabkan timbulnya gaya dalam dan defleksi yang harus diperhitungkan secara akurat agar struktur tetap memenuhi persyaratan keamanan. Analisis menggunakan metode kekakuan langsung banyak diterapkan dalam analisis struktur karena mampu merepresentasikan perilaku struktur melalui pendekatan matriks, namun perhitungan secara manual menjadi tidak efisien untuk struktur dengan jumlah elemen yang besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan program berbasis MATLAB yang mampu menghitung gaya ujung elemen dan defleksi struktur dolphin tubular menggunakan metode kekakuan langsung. Metode yang digunakan meliputi penyusunan matriks kekakuan elemen, matriks transformasi, matriks insiden, pembentukan matriks kekakuan global, perhitungan beban lingkungan akibat gelombang dan arus menggunakan Persamaan Morison, serta penyelesaian perpindahan nodal untuk memperoleh gaya ujung elemen dan defleksi struktur. Program yang dikembangkan divalidasi melalui beberapa kasus pembebanan dan dibandingkan dengan hasil analisis menggunakan perangkat lunak SACS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program MATLAB mampu memodelkan struktur ruang tiga dimensi, menghitung gaya ujung elemen akibat beban lingkungan, serta menentukan defleksi pada setiap joint yang memiliki derajat kebebasan. Perbandingan hasil dengan SACS menunjukkan adanya perbedaan nilai gaya ujung elemen akibat perbedaan pendekatan perhitungan beban gelombang, di mana SACS menggunakan integrasi sepanjang elemen dengan distribusi hiperbolik, sedangkan program MATLAB menggunakan penyederhanaan distribusi beban berbentuk trapesium. Meskipun demikian, pola distribusi gaya dan besaran hasil yang diperoleh masih berada dalam batas yang dapat diterima sehingga program MATLAB yang dikembangkan dapat dinyatakan tervalidasi secara numerik dan layak digunakan sebagai alat analisis struktur dolphin tubular berbasis metode kekakuan langsung.

2026
👤 Penulis: Harry Maulana Hafidz
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN ALAT PENDETEKSI FERTILITAS TELUR BERBASIS KAMERA DAN MACHINE LEARNING

Industri peternakan ayam di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring dengan naiknya kebutuhan protein hewani. Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah proses pendeteksian telur fertil dan infertil yang umumnya dilakukan secara manual, sehingga kurang efisien dan rentan terhadap kesalahan identifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah alat pendeteksi fertilitas telur berbasis sistem kotak tertutup berkapasitas 36 telur yang dilengkapi kamera Arducam IMX477 dan model machine learning YOLOv11. Proses pendeteksian dilakukan dengan memanfaatkan perbedaan intensitas cahaya yang menembus telur, di mana telur fertil tampak gelap dan telur infertil tampak terang, kemudian dideteksi secara real-time melalui web dashboard . Hasil pelatihan model menunjukkan performa yang sangat baik dengan nilai mAP50 sebesar 0,9950, precision sebesar 0,9076, dan recall sebesar 0,9230. Pengujian sistem secara real-time menunjukkan bahwa alat mampu mendeteksi fertilitas telur secara otomatis dengan tingkat akurasi yang tinggi. Selain itu, pengujian terhadap 216 butir telur serta evaluasi 55 kombinasi parameter citra menunjukkan bahwa sistem dapat beroperasi secara konsisten dan optimal pada berbagai pengaturan kamera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pendeteksi berbasis kamera dan machine learning yang dikembangkan memiliki potensi sebagai solusi pendeteksian fertilitas telur yang lebih objektif, cepat, dan efisien dibandingkan metode candling manual.

2026
👤 Penulis: Ilmania Syakira
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Peternakan Ayam 🏷️ Analisis Kualitas Produk

PERANCANGAN PUSAT DAY CARE LANSIA UNTUK PENUAAN AKTIF DENGAN PENDEKATAN DESAIN EKSPERENSIAL DI CIHAPIT, BANDUNG

Tugas Akhir ini merespons fenomena ageing population di Indonesia, di mana populasi lansia telah mencapai 12% (34 juta jiwa) namun belum diimbangi oleh penambahan ruang publik yang ramah lansia, khususnya di Kota Bandung. Kondisi ini diperberat oleh keterbatasan dukungan keluarga yang dapat memicu rasa kesepian pada lansia. Sebagai solusi, proyek ini mengusung tipologi Day Care Lansia sebagai fasilitas aktivitas harian yang aman dan inklusif. Proyek ini menerapkan program Active Ageing untuk mendukung kemandirian fisik, kesehatan, dan interaksi sosial lansia demi mencapai kualitas hidup yang prima. Untuk mengoptimalkan program tersebut, pendekatan desain eksperensial dipilih sebagai konsep utama perancangan yang diwujudkan melalui pengolahan sirkulasi yang kontinu dan transisi spasial yang mengalir untuk menstimulasi aktivitas fisik secara mandiri. Melalui integrasi stimulus multi-sensori, seluruh elemen ruang bersinergi menciptakan lingkungan yang tenang dan stimulatif guna menurunkan rasa kesepian sekaligus meningkatkan kesehatan mental para lansia.

2026
👤 Penulis: Fairuz Adibah
🏷️ Desain Eksperensial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Publik 🏷️ Kecerdasan Buatan

BRIDGING INFORMALITY HUNIAN TRANSISIONAL PRODUKTIF UNTUK PEMULUNG DI KOTA BANDUNG

Bandung merupakan salah satu kota dengan populasi terpadat di Indonesia yang sangat bergantung pada sektor formal pemerintah untuk pengelolaan sampahnya. Sektor ini beroperasi dalam sistem ekonomi linier (take-make-dispose) tradisional. Saat ini, Kota Bandung menghasilkan sekitar 430 ton sampah yang membutuhkan sekitar 154 ritase pengangkutan harian untuk dibuang. Namun, TPA Sarimukti sebagai tempat pemrosesan akhir utama yang melayani Kawasan Bandung Raya, hanya memiliki kapasitas sekitar 140 ritase harian, menyisakan 14 hingga 15 ritase sampah yang tidak terbuang setiap harinya. Hal ini memicu permasalahan besar berupa penumpukan limbah perkotaan. Berbagai solusi telah diupayakan oleh pemerintah, termasuk daur ulang limbah mandiri. Namun, kurangnya jangkauan komunitas dan edukasi publik membuat solusi ini kurang efektif. Solusi potensial lainnya, selain perbaikan sistem secara menyeluruh, adalah keterlibatan sektor informal yang didominasi oleh para pemulung. Berbeda dengan sektor formal, sektor informal ini beroperasi berdasarkan sistem ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular mendefinisikan ulang konsep 'limbah' dengan memastikan bahwa material tidak pernah benar-benar dibuang dan justru didaur ulang kembali ke dalam rantai pasok menjadi material baru, menciptakan sistem rantai pasok tertutup (closed-loop system). Pemulung merupakan tulang punggung utama dari sistem ini. Namun, dalam posisinya di pengelolaan limbah skala makro ini, mereka mengalami kerentanan sosial-ekonomi dan konflik spasial antara kehidupan bertempat tinggal dan bekerja mereka. Hal ini tidak hanya memicu gesekan antar-kebutuhan individu, tetapi juga mengoyak tatanan sosial (social fabric) pemulung itu sendiri. Sebuah intervensi arsitektural diajukan untuk memecahkan permasalahan ini dengan mewadahi kebutuhan kerja sekaligus hunian para pemulung, sembari mendorong pemberdayaan sosial maupun finansial dari sektor informal tersebut. Rancangan ini melibatkan pusat pengolahan limbah yang didesain secara spesifik untuk alur kerja pemulung dalam memilah dan mengelola sampah. Unit-unit hunian juga dirancang untuk mewadahi kehidupan pribadi dan tempat tinggal para penghuni secara layak, sekaligus mendorong interaksi warga melalui ruang-ruang komunal. Arsitektur ini juga mengintegrasikan pemulung ke dalam tatanan perkotaan (urban fabric) dengan menciptakan ruang-ruang publik yang memperlihatkan realitas pengolahan limbah tersebut. Konsep desain yang diajukan meliputi transition from contamination, empowerment from stagnation, community & flexibility. Persyaratan desain kemudian dirumuskan untuk memenuhi konsep-konsep tersebut, contohnya melalui penerapan zonasi vertikal, pemeliharaan filter higienis (hygienic filters), dan penciptaan lanskap yang produktif serta fleksibel. Solusi arsitektural ini secara langsung menjawab SDG 10 (Reduce Inequalities / Mengurangi Ketimpangan) dan SDG 1 (No Poverty / Tanpa Kemiskinan).

2026
👤 Penulis: Adhyra Nasywa Indriaswari R.
🏷️ Pemulung 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Arsitektural

KONSTRUKSI VISUALITAS BARONG KET SEBAGAI ARTEFAK BUDAYA BALI: KAJIAN ETNOGRAFIS PADA MAKNA DAN IDENTITAS

Barong Ket sebagai warisan budaya takbenda masyarakat Bali memiliki fungsi utama sebagai simbol religius yang merepresentasikan relasi spiritual antara manusia dan Dewa dalam tradisi Hindu Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji visualitas Barong Ket melalui tiga aspek utama: ide, tindakan, dan artefak. Kajian ini menempatkan visualitas Barong Ket dalam konteks komunikasi simbolik serta proses keberlanjutan identitas budaya lokal. Dengan pendekatan ini, penelitian berupaya mengisi kekosongan konseptual yang terdapat dalam studi sebelumnya yang umumnya hanya mendeskripsikan fungsi dan simbol topeng secara umum, tanpa membedah makna visual secara teoretis sebagai medium ekspresi dan negosiasi identitas. Fokus penelitian ini terletak pada visualitas Barong Ket sebagai praktik budaya, dengan menelaah bagaimana relasi bentuk dan warna berfungsi dalam komunikasi visual yang membangun dan memediasi makna simbolik serta identitas budaya masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi visual, metodologi penelitian kualitatif dengan metode etnografis milik Spradley. Penelitian ini menyoroti peran warna dan bentuk sebagai titik kunci dalam pembentukan makna simbolik Barong Ket. Warna merah yang dominan direpresentasikan sebagai simbol pelindung dan kekuatan sakral yang berakar dari ajaran lontar dan mitos. Perbedaan warna dan bentuk di tiap daerah tidak semata-mata menunjukkan variasi artistik, tetapi menggambarkan proses negosiasi nilai budaya dan spiritual masyarakat yang hidup dinamis dan kontekstual. Elemen visual tersebut tidak hanya merujuk pada aspek estetika, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang ditransmisikan melalui praktik budaya lintas generasi. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, visualitas Barong Ket merupakan konstruksi budaya berbasis ide, praktik, dan artefak. Bentuk dan warna berfungsi sebagai medium kehadiran dan komunikasi energi niskala. Bentuk tapel tidak hanya berfungsi estetis, tetapi bersama warna membentuk rasa dan energi simbolik yang berakar pada kosmologi Hindu Bali. Kedua, Barong Ket berfungsi sebagai simbol visual dan spiritual yang mengalami transformasi makna melalui negosiasi antara ranah sakral dan profan, tanpa menghilangkan daya sakralnya. Transformasi ini mencerminkan mekanisme adaptif budaya, termasuk perubahan identitas simbolik dari artefak budaya menjadi subjek spiritual hidup melalui proses ritualisasi. Ketiga, keberlanjutan identitas visual Barong Ket berlangsung secara dinamis melalui regenerasi partisipatif, khususnya dalam komunitas seni dan perlombaan, yang menegaskan Barong Ket sebagai entitas budaya hidup yang terus menegosiasikan makna, fungsi, dan visualitasnya dalam konteks sosial dan spiritual kontemporer. Kontribusi teoritis mengklarifikasi bahwa kontruksi visualitas dapat dilihat jauh melebihi itu karena ada arena metafisis dan ritualnya. pada pendekatan simbolik visual yang membuka ruang interpretasi baru tentang kedudukan objek budaya dalam relasi antara estetika, fungsi, dan makna. Dengan demikian, Barong Ket dipahami bukan hanya sebagai artefak budaya, tetapi sebagai entitas visual hidup yang mereproduksi dan menegosiasikan identitas budaya dalam konteks sosial dan spiritual yang dinamis.

2026
👤 Penulis: Asthararianty
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MIND THE GAP: MENUTUP KESENJANGAN STRATEGI DAN EKSEKUSI, PERANCANGAN KERANGKA KOMPETENSI UNTUK TIM OPERASIONAL PENJUALAN DI PT. LTI

Organisasi sering kali menghadapi tantangan bukan dalam perencanaan strategi, melainkan dalam menerjemahkannya ke dalam eksekusi operasional yang konsisten. Dalam departemen Operasional Penjualan PT LTI, kinerja yang tidak merata, ekspektasi peran yang ambigu, dan penilaian manajerial yang inkonsisten mencerminkan adanya kesenjangan strategi-eksekusi yang persisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan tersebut melalui pengembangan kerangka kompetensi yang mendefinisikan standar perilaku dan kapabilitas yang diperlukan untuk eksekusi yang efektif, disertai pendekatan penilaian dan pengembangan kompetensi yang lebih objektif. Penelitian menggunakan desain kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pimpinan, karyawan aktif, dan mantan anggota tim. Perancangan kerangka mengintegrasikan pendekatan identifikasi kompetensi top-down berdasarkan McClelland (1973), Lucia dan Lepsinger (1999), serta Dessler (2012), dengan prinsip penambatan perilaku dari Spencer dan Spencer (1993), menghasilkan metodologi hibrida yang sesuai dengan konteks organisasi. Melalui analisis tematik, penelitian ini mengidentifikasi sebelas kompetensi kritis dan menerjemahkannya ke dalam indikator perilaku yang terukur melalui Behaviorally Anchored Rating Scale (BARS) Development Matrix. Kerangka ini diujicobakan kepada 116 karyawan Operasional Penjualan (99 Store Manager dan 17 District Manager) dan divalidasi oleh pimpinan senior, yang mengonfirmasi kesesuaiannya dengan observasi lapangan serta mendukung urutan implementasi yang dimulai dari tingkat Operations Manager. Rencana Pelatihan dan Pengembangan satu tahun, mencakup Rencana Pengembangan Individual untuk Operations Manager dan Rencana Pelatihan Umum untuk seluruh tim, mengoperasionalisasikan temuan ke dalam peta jalan peningkatan kapabilitas yang terstruktur.

2026
👤 Penulis: Debby Anastasya
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Penilaian Dan Pengembangan Kompetensi
Halaman 96 dari 6754
💬