📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PERAN JENIS KONTEN DALAM MEMBANGUN KEPERCAYAAN TERHADAP MEREK DI TIKTOK: EFEK MEDIASI DARI PERSEPSI TERHADAP AUTENTISITAS DAN PERAN PERBEDAAN GENERASI SEBAGAI MODERATOR

Pertumbuhan media sosial mengubah konsumen dari penerima pesan pasif menjadi pihak yang ikut membentuk narasi merek, dan User-Generated Content (UGC) pun dikenal sebagai jenis konten paling dipercaya karena dianggap sebagai murni pengalaman konsumen. Kondisi ini mendorong munculnya Business-Generated Content (BGC) yang sengaja dibuat menyerupai UGC agar tetap terlihat organik, seperti pada kampanye "Laundry Majapahit" Rinso di TikTok. Namun, penelitian sebelumnya hanya fokus membahas UGC dari sisi purchase intention, sementara peran perceived authenticity sebagai penghubung antara jenis konten dengan brand trust, dengan perbedaan generasi yang memoderasi, masih jarang diuji secara empiris. Penelitian ini bertujuan melihat perbedaan pengaruh UGC-styled BGC dan iklan resmi terhadap perceived authenticity, sejauh mana perceived authenticity memediasi hubungan konten dengan brand trust, serta apakah generasi (Gen Z vs Gen X) memoderasi hubungan tersebut. Data dikumpulkan dari 246 responden aktif TikTok (139 Gen Z, 107 Gen X) melalui kuesioner online dengan desain between-subject, lalu dianalisis memakai PLS-SEM dan Permutation MGA di SmartPLS 4. Hasilnya, jenis konten terbukti memengaruhi perceived authenticity secara signifikan, di mana UGC-styled BGC dinilai lebih autentik dibanding iklan resmi, dan pengaruh ini sepenuhnya dimediasi oleh perceived authenticity. Menariknya, ditemukan pola crossover antar generasi: Gen Z justru menilai iklan resmi lebih autentik karena transparansinya, sedangkan Gen X lebih percaya pada UGC-styled BGC karena terasa seperti testimoni asli. Temuan ini memperkuat SOR Theory dan Persuasion Knowledge Model, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada satu strategi konten yang cocok untuk semua generasi, sehingga brand perlu menyesuaikan pendekatan komunikasinya berdasarkan segmen usia target audiens. Kata Kunci: User-Generated Content, Business-Generated Content, perceived authenticity, brand trust, perbedaan generasi, TikTok.

2026
👤 Penulis: Sarah Najiyya
🏷️ User-Generated Content 🏷️ Business-Generated Content 🏷️ Perceived Authenticity

MEMAHAMI KESEDIAAN PEMILIK RUMAH UNTUK MENGADOPSI SISTEM PLTS ATAP DI INDONESIA: SEBUAH SURVEI PURPOSIVE

Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan energi surya, namun adopsi sistem fotovoltaik (PV) atap di kalangan pemilik rumah masih relatif rendah dibandingkan dengan potensi energi surya nasional. Meskipun dukungan pemerintah dan perkembangan pasar energi terbarukan terus meningkat, adopsi PV atap belum berkembang sejalan dengan target energi terbarukan Indonesia. Kondisi ini menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktorfaktor yang memengaruhi kesediaan pemilik rumah untuk mengadopsi sistem PV atap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan pemilik rumah di Indonesia untuk mengadopsi sistem PV atap, dengan fokus pada persepsi biaya, kesadaran teknologi, hambatan yang dirasakan, akses terhadap informasi, serta skema kemitraan atau pembiayaan. Penelitian menggunakan survei kuantitatif cross-sectional dengan metode purposive sampling non-probabilitas. Setelah proses penyaringan dan pembersihan data, diperoleh 97 respons valid untuk dianalisis. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, korelasi peringkat Spearman, uji multikolinearitas, dan regresi logistik biner. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki akses listrik yang stabil, ketergantungan yang relatif tinggi terhadap listrik, serta sikap yang positif terhadap energi terbarukan. Hasil inferensial menunjukkan bahwa skema kemitraan atau pembiayaan merupakan satu-satunya variabel yang memiliki pengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap kesediaan mengadopsi sistem PV atap. Sebaliknya, persepsi biaya, kesadaran teknologi, hambatan yang dirasakan, dan akses terhadap informasi tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan dalam model regresi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesediaan mengadopsi sistem PV atap lebih dipengaruhi oleh mekanisme dukungan finansial yang praktis dibandingkan oleh kesadaran, akses informasi, atau hambatan yang dirasakan. Oleh karena itu, strategi bisnis dan kebijakan perlu memprioritaskan skema pembiayaan dan kemitraan yang mudah diakses untuk mengurangi biaya awal dan risiko adopsi. Karena penelitian ini menggunakan sampel purposif sebanyak 97 responden, hasil penelitian perlu dipandang sebagai gambaran awal dan bukan representasi seluruh rumah tangga di Indonesia. Kata Kunci: PLTS Atap; Adopsi Rumah Tangga; Minat Adopsi; Energi Terbarukan

2026
👤 Penulis: Rayyan Attar Zayd Amir
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Persepsi Biaya Dan Teknologi

PERANCANGAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN PEREMPUAN KELAS IIA BANDUNG BERBASIS KEMANDIRIAN DAN PRODUKTIVITAS DENGAN PENDEKATAN DESAIN HUMANIS

Laporan tugas akhir ini membahas perancangan ulang Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung dengan fokus utama pada peningkatan kemandirian dan produktivitas warga binaan melalui pendekatan desain humanis. Masalah utama yang diangkat adalah kondisi extreme overcrowding atau kelebihan kapasitas hunian yang mencapai 81,5% di mana kapasitas ideal untuk 227 orang kini dihuni oleh 412 narapidana, serta terbatasnya fasilitas pembinaan yang memadai. Kondisi ini dinilai menghambat efektivitas proses rehabilitasi dan belum mendukung kesejahteraan psikologis narapidana perempuan yang memiliki kebutuhan spesifik dari aspek biologis, sosial, maupun emosional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui observasi lapangan, wawancara, serta kuesioner terhadap 17 warga binaan untuk menggali persepsi kenyamanan dan kebutuhan ruang mereka. Hasil perancangan mengusulkan transformasi lingkungan fisik yang lebih manusiawi dengan menempatkan manusia sebagai pusat desain (arsitektur humanistik) guna memenuhi hierarki kebutuhan Maslow, mulai dari rasa aman hingga aktualisasi diri. Konsep desain yang ditawarkan mencakup penggunaan massa bangunan yang tidak masif, penerapan palet warna terapeutik seperti light gray, beige, orange, dan deep blue untuk menjaga stabilitas emosi, serta penggunaan material yang hangat dan transparan untuk memudahkan pengawasan tanpa kesan intimidatif. Fokus utama perancangan terletak pada penyediaan ruang pelatihan produktif dan workshop keterampilan yang adaptif—seperti tata boga, menjahit, dan salon—serta area refleksi dan taman terapi. Selain itu, desain ini mengintegrasikan elemen budaya lokal Bandung melalui karakter "Mojang Priangan" yang menekankan nilai kesederhanaan dan kerapian dalam tatanan ruang. Melalui perancangan ulang ini, diharapkan tercipta lingkungan lembaga pemasyarakatan yang edukatif dan berdaya guna dalam mempersiapkan warga binaan untuk hidup mandiri dan sukses dalam proses reintegrasi sosial setelah masa tahanan berakhir.

2026
👤 Penulis: Hayatu Sa'idah
🏷️ Desain Humanis 🏷️ Manajemen Lembaga Pemasyarakatan 🏷️ Kesejahteraan Narapidana

PERANCANGAN INTERIOR STUDY SPACE 24 JAM DI KAWASAN DAGO BANDUNG DENGAN PENDEKATAN KONSEP “NESTING”

Bandung sebagai kota pendidikan dan kreativitas memiliki jumlah pelajar yang sangat tinggi, termasuk mahasiswa perantau yang membutuhkan ruang belajar di luar lingkungan kampus. Namun, fasilitas belajar yang tersedia umumnya memiliki jam operasional terbatas, sedangkan ruang komersial seperti kafe dan coworking space cenderung kurang sesuai untuk kegiatan belajar jangka panjang karena biaya maupun suasananya. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya fasilitas belajar yang dapat diakses selama 24 jam dengan lingkungan yang nyaman, aman, dan mendukung produktivitas. Perancangan ini bertujuan merancang sebuah Study Space 24 Jam di kawasan Dago, Bandung, sebagai ruang belajar yang mampu mengakomodasi kebutuhan belajar individu maupun kolaboratif. Pendekatan utama yang digunakan adalah konsep Nesting, yang mengacu pada Teori Prospect-Refuge dari Jay Appleton. Konsep ini diterapkan melalui penyediaan ruang belajar individual yang bersifat semi privat, seperti study pods dan built-in nooks, sehingga pengguna memperoleh rasa aman, nyaman, dan tetap memiliki orientasi visual terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu, rancangan juga dilengkapi sistem reservasi 24 jam, area individual, area kolaboratif, ruang konsultasi, area istirahat, fasilitas penunjang, serta penerapan elemen biophilic melalui penggunaan material dan unsur alami untuk meningkatkan kenyamanan serta membantu mengurangi tingkat stres pengguna. Hasil perancangan diharapkan mampu menghadirkan fasilitas belajar yang tidak hanya mendukung produktivitas selama 24 jam, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih fokus, nyaman, dan mendukung kesejahteraan fisik maupun mental, sehingga dapat menjadi alternatif ruang belajar bagi mahasiswa dan masyarakat di Kota Bandung.

2026
👤 Penulis: Shabrina Siti Fatilah Sayuti
🏷️ Interior Studi 🏷️ Kawasan Dago Bandung 🏷️ Konsep Nesting

PENILAIAN KELAYAKAN STRATEGIS DAN FINANSIAL CCUS DAN CCS DI BARAT PSC. IMPLIKASINYA TERHADAP STRATEGI PERTUMBUHAN JANGKA PANJANG PT ENERGI MIGAS INDONESIA.

Tesis ini membahas apakah integrasi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) dan carbon capture and storage (CCS) di Barat PSC layak secara strategis dan finansial bagi PT Energi Migas Indonesia (PT EMI). Studi ini didasarkan pada masalah bisnis dimana PSC Barat adalah aset gas yang sudah matang dengan cadangan dan produksi yang menurun. Gas yang dihasilkan dari lapangan tersebut juga mengandung kadar CO? yang cukup tinggi. Sementara itu, industri energi Indonesia saat ini sudah bergerak menuju pengembangan operasi dengan rendah karbon, meningkatkan kebutuhan bagi perusahaan minyak dan gas hulu untuk mencari cara menangani emisi sambil mempertahankan nilai aset. Di sini, CCUS dan CCS tidak hanya dianggap sebagai program lingkungan, tetapi sebagai solusi yang memungkinkan untuk memperpanjang umur lapangan, meningkatkan pemulihan, mengurangi paparan emisi, dan menghasilkan peluang bisnis baru seputar karbon. Untuk menguji peluang ini, studi ini menggabungkan analisis strategis dengan model keuangan. Perbandingan dua skenario pengembangan. Skenario 1 menyoroti optimasi pengembangan lapangan tradisional dengan pemasangan sumur produksi, dan Skenario 2 mengintegrasikan optimasi pengembangan lapangan dengan investasi CCUS dan CCS. Analisis keuangan menggunakan arus kas terdiskonto (DCF), nilai sekarang bersih (NPV), tingkat pengembalian internal (IRR), waktu pengembalian modal, dan analisis sensitivitas. Metode-metode ini digunakan untuk menilai apakah peningkatan produksi dan pendapatan terkait penyimpanan di bawah Skenario 2 mampu mengimbangi peningkatan investasi yang signifikan yang dibutuhkan. Studi strategis menggunakan SWOT, PESTLE, dan Lima Kekuatan Porter untuk menganalisis kekuatan internal PT EMI, kebijakan eksternal, dan lingkungan pasar, serta potensi daya tarik CCS sebagai model bisnis yang sedang berkembang di Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa Skenario 2 menawarkan produksi kumulatif yang lebih baik dan aliran pendapatan baru dari biaya penyimpanan. Di bawah skenario ini, produksi gas kumulatif tumbuh menjadi 256,5 BCF. Total arus kas kontraktor meningkat melalui kombinasi produksi hulu dan pendapatan yang terkait dengan CCS. Namun, hasil keuangan juga menyiratkan pertukaran yang penting. Skenario 2 membutuhkan komitmen keuangan yang jauh lebih besar dan memiliki profil pengembalian yang lebih rendah daripada Skenario 1. Pada WACC sebesar 15,26%, Skenario 2 menghasilkan NPV US$20,5 juta; IRR menurun menjadi 18% dan durasi pengembalian modal meningkat menjadi 7,59 tahun dibandingkan dengan US$36,2 juta, 36%, dan 3,31 tahun pada Skenario 1. Ini berarti bahwa nilai marginal yang diberikan oleh CCUS dan CCS belum cukup untuk sepenuhnya mengimbangi pengeluaran modal dan operasional marginal. Analisis sensitivitas juga memperlihatkan bahwa pendorong utama nilai proyek adalah produksi gas, harga gas, OPEX dan CAPEX. Sementara itu, biaya penyimpanan dan pajak royalti memiliki pengaruh yang lebih terbatas berdasarkan asumsi saat ini. Penelitian kualitatif juga menunjukkan bahwa Barat PSC memiliki kekuatan strategis yang kredibel seperti keahlian dan pengalaman operasional hulu, pengetahuan bawah permukaan, dan kapasitas penyimpanan prospektif. Namun, kualitas-kualitas ini masih terhambat oleh ambiguitas hukum, kemampuan spesifik CCS yang terbatas, monetisasi biaya penyimpanan yang belum jelas, dan kesiapan pasar yang masih dalam tahap awal. Secara keseluruhan, analisis menemukan bahwa Barat PSC memiliki potensi jangka panjang yang kredibel sebagai platform CCUS dan CCS, tetapi proyek tersebut belum cukup kuat untuk mendukung investasi skala penuh berdasarkan asumsi yang ada saat ini. Masalahnya bukan pada kemampuan teknis, tetapi belum adanya kepastian terkait keekonomian proyek dan aturan fiskal, terutama terkait dengan biaya penyimpanan dan bagaimana biaya tersebut diperlakukan dalam hal royalti atau pajak. Oleh karena itu, laporan tersebut menunjukkan bahwa PT EMI sebaiknya tidak langsung melakukan investasi dalam skala besar. Sebaliknya, perusahaan harus melakukan implementasi strategi secara bertahap dengan fokus awal pada pengurangan risiko, kejelasan regulasi, kesiapan MRV, pengembangan pelanggan utama, dan penataan komersial yang lebih baik, sebelum melakukan investasi dalam jumlah besar.

2026
👤 Penulis: Edoardus Ardianto
🏷️ Karbon Capture Dan Pengelolaan 🏷️ Analisis Keuangan Strategis 🏷️ Strategi Pertumbuhan Jangka Panjang

STUDI KELAYAKAN FINANSIAL INVESTASI PLATFORM MANAJEMEN VENDOR UNTUK PENGADAAN KOMPONEN INDUSTRI DI PT XYZ

PT XYZ adalah perusahaan perantara pengadaan yang melayani sektor energi dan konstruksi industri Indonesia, yang saat ini terbatas oleh model pengadaan manual sehingga hanya mampu mengakuisisi satu klien baru per tahun. Studi ini menilai kelayakan finansial implementasi platform manajemen vendor, sebuah sistem digital yang dirancang untuk memusatkan data vendor, mengotomasi alur transaksi, dan memperluas kapasitas operasional. Menggunakan kerangka capital budgeting inkremental dengan horizon proyeksi lima tahun, studi ini menemukan bahwa proyek menghasilkan Net Present Value positif sebesar Rp 75,474,593, Internal Rate of Return sebesar 16.76 persen melampaui WACC sebesar 12.73 persen, Profitability Index sebesar 1.23 kali, Payback Period selama 4.37 tahun, dan Discounted Payback Period selama 4.81 tahun, sehingga memenuhi seluruh kriteria kelayakan. Namun demikian, simulasi Monte Carlo dengan 10,000 iterasi hanya memberikan probabilitas 67.22 persen untuk NPV positif, dan analisis sensitivitas mengidentifikasi tingkat akuisisi klien sebagai pendorong risiko yang paling dominan. Hasil ini menunjukkan bahwa investasi platform manajemen vendor bersifat layak secara kondisional, dan PT XYZ sebaiknya memverifikasi pipeline akuisisi kliennya sebelum mengalokasikan modal. Kata kunci: Digitalisasi pengadaan, vendor management platform, kelayakan finansial, capital budgeting, analisis inkremental, Net Present Value, Internal Rate of Return, analisis sensitivitas, simulasi Monte Carlo, WACC.

2026
👤 Penulis: Harits Imtiyaaz Tresna Putra
🏷️ Digitalisasi Pengadaan 🏷️ Manajemen Vendor 🏷️ Analisis Kelayakan Finansial

STUDI STABILITAS GALIAN-DALAM PADA TANAH LUNAK DENGAN ANALISIS COUPLE PERUBAHAN BEBAN DAN TRANSIENT SEEPAGE

Konstruksi galian dalam pada tanah lunak dengan muka air tanah dangkal menghadapi tantangan tidak hanya akibat perubahan tegangan karena proses penggalian, tetapi juga akibat fenomena rembesan transien yang memengaruhi distribusi tekanan air pori, tegangan efektif, dan stabilitas hidraulik. Praktik perancangan yang umum digunakan masih menggunakan analisis uncouple dengan asumsi kondisi hidrostatik sehingga pengaruh interaksi simultan antara deformasi tanah dan aliran air tanah belum sepenuhnya terakomodasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter modulus tanah yang mampu merepresentasikan kondisi lapangan, mengevaluasi perbedaan perilaku galian antara analisis uncouple dan fully coupled flow-deformation, mengkaji pengaruh transient seepage terhadap stabilitas galian, serta menilai tingkat konservatisme metode analisis yang umum digunakan. Analisis numerik dilakukan menggunakan metode elemen hingga dua dimensi pada perangkat lunak PLAXIS 2D dengan model konstitutif Hardening Soil dan Soft Soil. Kalibrasi parameter dilakukan terhadap data tes laboratorium dan monitoring lapangan pada beberapa penampang galian untuk memperoleh model numerik yang representatif sebelum dilakukan perbandingan antara analisis hydrostatic, steady-state, dan fully coupled flow-deformation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model coupled mampu mendekati perilaku lapangan dengan deviasi deformasi lateral dinding sebesar 5–28%. Kalibrasi menghasilkan rekomendasi modulus sekitar 2000N untuk tanah pasir dan 4000N untuk tanah lempung, atau setara 7–12 kali modulus hasil pengujian triaksial pada sampel berkualitas poor hingga very poor berdasarkan kriteria kualitas sampel oleh Lunne (1997). Dibandingkan metode uncouple, analisis coupled menghasilkan deformasi lateral dinding hingga 1.53 kali lebih besar dan penurunan tanah hingga 2.34 kali lebih besar karena mampu mensimulasikan konsolidasi dan perubahan tekanan air pori secara simultan. Downward seepage di belakang dinding meningkatkan tegangan efektif sehingga memperbesar settlement, sedangkan upward seepage pada dasar galian meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan resistansi tanah sehingga deformasi dinding menjadi lebih besar serta stabilitas hidraulik lebih kritis. Simulasi dengan dilakukan dewatering menunjukkan bahwa tekanan air pori pada dasar galian dapat berkurang hingga menjadi sekitar 50%. Dengan hasil tersebut, diketahui bahwa dewatering berpengaruh signifikan pada tekanan air pori sehingga meningkatkan stabilitas hidraulik terhadap potensi uplift, heaving, dan piping. Penurunan tekanan air pori tersebut menyebabkan tegangan efektif tanah meningkat dan tahanan tanah bertambah sehingga deformasi lateral dinding berkurang sebesar 16%. Meskipun dengan dewatering, analisis coupled tetap menghasilkan respons yang lebih kritis dibandingkan analisis uncouple. Hal ini menunjukkan bahwa metode uncouple cenderung memberikan prediksi yang lebih optimistis dan berpotensi mengabaikan pengaruh rembesan terhadap respons galian. Metode uncouple masih relevan untuk digunakan dalam proses analisis atau perancangan galian dalam dengan catatan perlunya analisis tambahan untuk mengetahui stabilitas hidraulik yang dikarenakan pengaruh rembesan. Analisis coupled lebih direkomendasikan untuk perancangan galian dalam pada kondisi tanah lunak dengan karakteristik hidrogeologi serupa.

2026
👤 Penulis: Mutazakky Ahda Sabyla
🏷️ Analisis Coupled 🏷️ Stabilitas Galian Dalam 🏷️ Hidrologi Tanah

KOROSI SUHU TINGGI ZIRCALOY-4 DAN PENGARUH PENGGUNAAN NANOFLUIDA PADA EMERGENCY CORE COOLING SYSTEMS (ECCS) KETIKA LOSS OF COOLANT ACCIDENT (LOCA)

Loss of Coolant Accident (LOCA) merupakan kondisi kecelakaan reaktor nuklir yang memicu lonjakan suhu drastis, menyebabkan kelongsong bahan bakar zircaloy-4 rentan mengalami oksidasi parah akibat paparan uap air dan udara terbuka. Upaya mitigasi melalui Emergency Core Cooling Systems (ECCS) saat ini masih mengandalkan air konvensional yang memiliki keterbatasan konduktivitas termal. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh suhu dan waktu terhadap perilaku oksidasi zircaloy-4 pada simulasi LOCA parah, serta mengevaluasi penggunaan nanofluida zirkonia sebagai alternatif pendingin darurat ECCS. Penelitian dilakukan menggunakan zircaloy-4 yang dipanaskan di lingkungan udara terbuka dengan variasi suhu pada 800?-1100? dan variasi waktu pada 5 menit-60 menit. Aktifnya ECCS disimulasikan dengan metode pendinginan cepat (quenching) menggunakan nanofluida zirkonia dengan variasi konsentrasi 0-1,2 g/L. Fenomena oksidasi ditinjau dari beberapa aspek, yaitu penambahan massa pada sampel dan perubahan permukaan sampel secara mikroskopis serta analisis lapisan oksida menggunakan XRD, Raman, dan SEMEDX. Pengaruh penggunaan nanofluida dilihat dari perubahan suhu sampel pada saat quenching yang diamati menggunakan kamera termal serta perubahan massa setelah quenching dilakukan. Percobaan kenaikan suhu meningkatkan laju oksidasi ditandai dengan pertambahan massa dan ketebalan lapisan secara eksponensial, serta terjadinya perubahan warna menjadi kecoklatan secara tidak homogen. Di sisi lain, variasi waktu paparan menunjukkan peningkatan massa dan ketebalan dengan kinetika oksidasi gabungan antara parabolik dan linear (nilai n = 0,75) akibat peristiwa breakaway oxidation disertai dengan perubahan geometri yang teramati mulai dari waktu paparan 15 menit. Berdasarkan kedua variasi tersebut, diperoleh energi aktivasi penambahan massa dan ketebalan secara berurutan adalah 2,99 kJ/mol dan 2,69 kJ/mol. Energi tersebut lebih kecil dibandingan pada lingkungan uap air akibat adanya interaksi dengan nitrogen sebagai katalis reaksi. Perubahan warna dari hitam menjadi kecokelatan menandakan telah terjadi perubahan fasa kristal, ditandai dari kemunculan raman shift 147 ?????????1 pada sampel berwarna hitam yang mengindikasikan fasa tetragonal serta raman shift 177 ?????????1 dan 190 ?????????1 pada sampel berwarna kecokelatan yang menunjukkan fasa monoklinik setelah suhu dan waktu paparan yang lebih tinggi. Selanjutnya, penggunaan nanofluida untuk sistem ECCS menunjukkan kontras warna pada kamera termal yang lebih tinggi dan penambahan massa yang lebih kecil. Pengaruh suhu dan waktu paparan pada penelitian ini menunjukkan hasil yang sesuai dengan hukum Arrhenius. Penggunaan nanofluida sebagai pendingin darurat ECCS menunjukkan konduktivitas termal yang lebih baik dan fenomena deposisi menjadi mekanisme yang memengaruhi penambahan massa pada saat menggunakan nanofluida.

2026
👤 Penulis: Dimas Rizki Saputra
🏷️ Korosi 🏷️ Emergency Core Cooling Systems (Eccs) 🏷️ Nanofluida Zirkonia

STUDI JARINGAN KOMUNIKASI SMART GRID BERBASIS QOS (QUALITY OF SERVICES) PADA TRANSFORMASI CONTROL CENTER SISTEM KETENAGALISTRIKAN JAWA-MADURA-BALI

Transformasi Transformasi pusat kendali sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura– Bali dari skema enam Control Centre menuju dua pusat kendali utama, yaitu Main Control Centre (MCC) dan Disaster Recovery Centre (DRC), menyebabkan perubahan pola komunikasi jaringan dari terdistribusi menjadi lebih terpusat. Perubahan ini menuntut kesiapan infrastruktur telekomunikasi yang andal untuk mendukung layanan operasional Smart Grid seperti SCADA, Defense Scheme, Voice, Metering, dan Monitoring. Di sisi lain, digitalisasi layanan seperti migrasi SCADA dari IEC 101 ke IEC 104, implementasi IEC 61850 GOOSE pada sistem proteksi, serta peningkatan kebutuhan monitoring aset berbasis IP menyebabkan peningkatan kebutuhan trafik dan kualitas layanan komunikasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa jaringan komunikasi eksisting, menganalisis kebutuhan trafik layanan, serta merancang dan mensimulasikan arsitektur jaringan backbone MCC–DRC pada sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura–Bali. Metode penelitian dilakukan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pengukuran kualitas jaringan eksisting berbasis SDH/PDH dan Industrial Ethernet Switch menggunakan metode Bit Error Rate Test (BERT) Ethernet/EtherSAM dengan perangkat ukur EXFO, untuk memperoleh parameter QoS berupa latency, jitter, throughput, dan reliability. Tahap kedua adalah monitoring trafik aktual layanan Smart Grid menggunakan PRTG berbasis SNMP selama 30 hari untuk memperoleh profil kebutuhan bandwidth layanan. Tahap ketiga adalah perancangan topologi backbone MCC–DRC berdasarkan data jalur Fiber Optic eksisting dan hasil perhitungan kebutuhan trafik, kemudian disimulasikan menggunakan OMNeT++ pada beberapa skenario, yaitu kondisi normal, jalur atas, jalur bawah, dan switching/failover. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jaringan eksisting masih mampu mendukung kebutuhan layanan Smart Grid. Jaringan Industrial Ethernet Switch memiliki performa latency lebih rendah, umumnya berada di bawah 1,5 ms, sedangkan jaringan SDH berada pada kisaran sekitar 2,5 ms hingga lebih dari 11 ms. Dari sisi throughput, kedua jaringan mampu mencapai nilai yang mendekati bandwidth acuan hingga sekitar 19,99–20 Mbps, sedangkan reliability pada kedua jaringan sangat tinggi, yaitu mendekati 100%. Hasil monitoring trafik menunjukkan bahwa kebutuhan trafik aktual layanan mencapai 362,7 Mbps, sedangkan kebutuhan berdasarkan roadmap mencapai 9.500 Mbps, sehingga total kebutuhan trafik backbone diperkirakan sebesar 9.862,7 Mbps atau sekitar 10 Gbps. Hasil simulasi MCC–DRC menunjukkan nilai latency tertinggi sebesar 10,1 ms, availability terendah sebesar 99,9050%, dan jitter tertinggi sebesar 0,00338 ms. Berdasarkan hasil tersebut, rancangan backbone MCC–DRC dapat digunakan sebagai dasar pengembangan jaringan komunikasi Smart Grid yang lebih terpusat, andal, dan sesuai dengan kebutuhan transformasi Control Centre sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura–Bali.

2026
👤 Penulis: Yusup Mulyadi
🏷️ Smart Grid 🏷️ Transformasi Sistem Ketelungalistrikan 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH GOVERNMENT SUPPORT PADA KEUNGGULAN BERSAING INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH MELALUI PERAN MEDIASI DARI ENTREPRENEURIAL ORIENTATION

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Government Support terhadap Competitive Advantage melalui peran mediasi Entrepreneurial Orientation pada Industri Kecil dan Menengah (IKM). Government Support dalam penelitian ini dibedakan menjadi dukungan finansial dan non-finansial, sementara Entrepreneurial Orientation diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu innovativeness, proactiveness, dan risk-taking. Competitive Advantage diukur melalui dua pendekatan, yaitu cost-based dan differentiation-based. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 176 pelaku IKM Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan pemerintah yang bersifat non-finansial memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh dimensi Entrepreneurial Orientation, sedangkan dukungan finansial tidak berpengaruh signifikan. Entrepreneurial Orientation terbukti berperan penting dalam menciptakan Competitive Advantage, meskipun pengaruhnya berbeda pada setiap dimensi. Dimensi Innovativeness ditemukan berpengaruh hanya pada dimensi Differentiation-based, dimensi Proactiveness berpengaruh pada kedua dimensi Competitive Advantage, dan dimensi Cost-based Competitive Advantage. Selain itu, tidak ditemukan pengaruh langsung Government Support terhadap Competitive Advantage. Namun, ditemukan adanya pengaruh tidak langsung melalui Entrepreneurial Orientation pada dukungan non-finansial, yang menunjukkan pola mediasi penuh. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperkuat peran Entrepreneurial Orientation sebagai mekanisme kunci dalam mentransformasikan dukungan pemerintah menjadi keunggulan kompetitif. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa kebijakan pengembangan IKM perlu difokuskan pada penguatan kapasitas dan kapabilitas kewirausahaan, bukan hanya pada pemberian bantuan finansial.

2026
👤 Penulis: Sanosa Wingki Guntara
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MENINGKATKAN KEBERLANJUTAN PERTANIAN MELALUI TATA KELOLA SISTEM PENGEMBALIAN KEMASAN PESTISIDA DI INDONESIA

Dalam banyak konteks pertanian, termasuk Indonesia, pestisida masih secara luas digunakan untuk mengendalikan risiko hama. Penggunaan yang luas ini menghasilkan peningkatan volume kemasan pestisida pasca-konsumsi yang dapat menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik. Di Indonesia, jumlah formulasi pestisida terdaftar meningkat dari 4.271 pada tahun 2017 hingga mencapai puncak 5.675 pada tahun 2021 dan, meskipun kemudian menurun, tetap berada pada tingkat yang tinggi yaitu 4.905 pada tahun 2023. Tren ini mencerminkan perluasan berkelanjutan dalam ketersediaan pestisida serta meningkatnya aliran kemasan di tahap hilir. Namun demikian, kajian akademik dan pendekatan regulasi yang ada sebagian besar masih berfokus pada solusi daur ulang yang bersifat operasional serta pengalaman negara-negara dengan kerangka regulasi yang telah mapan, sehingga pemahaman mengenai bagaimana pengaturan tata kelola, perilaku pemangku kepentingan, dan regulasi limbah B3 saling berinteraksi dalam konteks seperti Indonesia masih terbatas. Penelitian ini mengkaji bagaimana kemasan pestisida kosong saat ini dikelola di Indonesia serta mengidentifikasi kesenjangan struktural yang menghambat pengembangan rantai pasok tertutup yang terintegrasi. Pengelolaan kemasan pestisida kosong dipahami sebagai suatu sistem sosio-teknis yang kinerjanya dibentuk oleh kondisi tata kelola, bukan semata-mata oleh kapasitas operasional. Analisis ini menelaah bagaimana interaksi antara aktor, pengaturan kelembagaan, dan mekanisme umpan balik memengaruhi kepatuhan, pengumpulan, pembersihan, dan proses daur ulang. Soft Systems Methodology digunakan untuk mensintesis bukti kualitatif dari wawancara pemangku kepentingan ke dalam diagram lingkar sebab-akibat yang terintegrasi serta model sistem konseptual, yang selanjutnya dianalisis melalui pendekatan system dynamics yang bersifat eksploratif. Mengingat keterbatasan ketersediaan data kuantitatif, variabel-variabel kunci sistem direpresentasikan menggunakan indeks berbasis proksi untuk memungkinkan perbandingan perilaku sistem di bawah berbagai skenario kebijakan Hasil penelitian menunjukkan bahwa fragmentasi tanggung jawab, ambiguitas regulasi, serta lemahnya mekanisme umpan balik penegakan hukum menjadi kendala utama kinerja sistem. Akibatnya, peningkatan kesadaran, penyediaan infrastruktur, atau insentif ekonomi cenderung hanya menghasilkan dampak jangka pendek apabila diterapkan secara terpisah. Analisis skenario menunjukkan bahwa intervensi kebijakan yang menargetkan kondisi tata kelola, khususnya melalui penetapan standar yang lebih jelas, penguatan mekanisme penegakan, serta peningkatan akses terhadap jalur pengumpulan dan daur ulang yang patuh terhadap regulasi, berperan dalam menciptakan kondisi struktural yang memungkinkan intervensi lain menjadi efektif dan saling memperkuat. Dengan memandang pengelolaan kemasan pestisida kosong sebagai bagian dari rantai pasok tertutup yang tertanam dalam struktur tata kelola, dan bukan sekadar sebagai persoalan operasional pengelolaan limbah, penelitian ini memberikan kontribusi bagi literatur tentang keberlanjutan pertanian dan closed-loop supply chains. Studi ini juga menawarkan implikasi kebijakan yang relevan bagi regulator nasional, pemerintah daerah, dan pelaku industri dengan menjelaskan kondisi kelembagaan yang diperlukan agar sistem pengembalian kemasan pestisida dapat mencapai hasil lingkungan dan kepatuhan yang berkelanjutan di Indonesia. Kata kunci: sistem pengembalian kemasan pestisida, tata kelola, keberlanjutan pertanian, soft systems methodology, system dynamics

2026
👤 Penulis: Laila Fitri Handayani
🏷️ Tata Kelola Sistem Pengembalian Kemasan Pestisida 🏷️ Keberlanjutan Pertanian 🏷️ Analisis System Dynamics

KAJIAN ETIKA TENTANG PERLAKUAN PETERNAK ANGGOTA KOPERASI PETERNAK SAPI BANDUNG UTARA (KPSBU) TERHADAP TERNAK SAPI PERAHNYA

Peternakan sapi perah merupakan sektor penyediaan protein hewani bagi masyarakat Indonesia serta ekonomi bagi peternak sapi perah. Namun, produksi air susu sering kali berorientasi pada produktivitas ekonomi dan menganggap hewan hanya sebagai sarana produksi. Fokus terhadap produktivitas ekonomi ini dikhawatirkan akan mengakibatkan perhatian peternak kepada kesejahteraan hewan menjadi terabaikan. Hal ini dikhawatirkan akan mengakibatkan usaha peternakan menjadi tidak berkelanjutan, karena dengan meningkatnya status ekonomi, maka konsumen cenderung untuk lebih terinformasi dan terdorong untuk mengonsumsi produk yang dihasilkan dari proses yang beretika. Dalam rangka mendukung usaha peternakan sapi perah rakyat yang berkelanjutan, maka dilakukan kajian tentang apakah praktik peternakan sapi perah rakyat telah memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel peternak anggota Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) sebagai sampel. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui survei lapangan dan wawancara kepada peternak anggota KPSBU, menggunakan metode snowball sampling dengan jumlah responden sebanyak 30 peternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha peternakan sapi perah memiliki peran ekonomi yang penting bagi peternak anggota KPSBU karena memberikan sumber pendapatan yang relatif stabil dengan rata-rata sebesar Rp. 8.675.475,- per bulan melalui produksi susu harian. Sapi perah diberi pakan dan air minum yang memadai sehingga memenuhi kriteria kesejahteraan hewan yaitu free from hunger and thirst. Selanjutnya, dari penelitian ini juga ditemukan bahwa ternak sapi yang dipelihara oleh peternak anggota KPSBU diberi nama, yang menunjukkan bahwa ternak yang dipelihara dianggap bukan hanya sebagai alat produksi, tetapi lebih sebagai anggota keluarga. Selanjutnya, pengamatan terhadap perilaku ternak sapi, diketahui bahwa sapi perah yang dipelihara diperlakukan dengan baik. Selanjutnya, ditemukan bahwa seluruh peternak sapi anggota KPSBU menerapkan sistem pemeliharaan free stall, yang memungkinkan sapi bergerak lebih bebas di dalam kandang. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa seekor sapi perah dewasa diberi kandang dengan luasan kurang lebih 6,39 ± 3,83 m² per ekor, dengan kondisi kandang yang bersih. Penelitian ini juga menemukan bahwa ternak yang dipelihara mendapatkan air dan pakan yang cukup. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka secara umum, praktik pemeliharaan sapi perah oleh peternak anggota KPSBU telah mengarah pada pemenuhan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kesejahteraan sapi perah peternak anggota KPSBU adalah pemenuhan kebebasan hewan ternak dari rasa sakit, cedera, dan penyakit, serta pemenuhan kebebasan hewan ternak untuk mengekspresikan perilaku alami.

2026
👤 Penulis: Tsabita Viani Putri
🏷️ Kesejahteraan Hewan 🏷️ Manajemen Peternakan Rakyat 🏷️ Etika Produksi Susu

USULAN STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN TERPADU (KPT) YANG DITUJUKAN UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MEREK DAN NIAT BELI: STUDI PADA PERUSAHAAN SOSIAL IVAN BERKEBUN

Pertanian perkotaan telah berkembang sebagai respons yang layak terhadap tantangan ketahanan pangan dan keberlanjutan di kota-kota yang padat penduduk. Di Indonesia, meskipun terdapat program yang diprakarsai pemerintah seperti Buruan SAE di Bandung, partisipasi masyarakat dalam pertanian perkotaan tetap rendah secara tidak proporsional dengan pemanfaatan pekarangan yang tercatat hanya 31% untuk penyimpanan dan 26% untuk tanaman hias. Kesenjangan ini menandakan kegagalan komunikasi yang mendasar: solusi telah tersedia, namun pesan-pesan yang mempromosikannya belum berhasil memicu perubahan perilaku yang diperlukan di kalangan warga perkotaan. Dalam konteks ini, perusahaan sosial menempati peran jembatan yang kritis, menggabungkan aktivitas komersial dengan misi sosial untuk mempromosikan gaya hidup berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Namun, perusahaan sosial menghadapi tantangan organisasi yang khas. Sifat hibrid mereka menuntut strategi komunikasi yang secara bersamaan melayani kredibilitas misi sosial dan tujuan konversi komersial, persyaratan ganda yang tidak dirancang untuk diatasi oleh kerangka pemasaran konvensional. Ivan Berkebun adalah perusahaan sosial pertanian perkotaan yang berbasis di Bandung, Indonesia, yang beroperasi di persimpangan dampak sosial dan keterlibatan pasar. Meskipun menawarkan proposisi nilai yang benar-benar berbeda yang didasarkan pada pendidikan berbasis pengalaman dan advokasi keberlanjutan, Ivan Berkebun menghadapi tantangan yang persisten dalam membangun kesadaran merek dan mengonversi minat audiens target menjadi niat beli yang aktif. Upaya komunikasi organisasi masih terfragmentasi, identitas mereknya belum berkembang, dan belum ada strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu yang terstruktur yang dirumuskan untuk memandu keterlibatan pasarnya. Penelitian ini oleh karena itu dimotivasi oleh kebutuhan untuk memahami bagaimana kerangka komunikasi yang strategis, terintegrasi, dan berbasis bukti dapat dikembangkan untuk perusahaan sosial yang beroperasi di bawah keterbatasan sumber daya dan akuntabilitas ganda. Penelitian ini memiliki tiga tujuan: pertama, menganalisis model bisnis sosial Ivan Berkebun saat ini dan implikasinya terhadap kapasitas komunikasi; kedua, mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang memengaruhi keberlanjutan bisnis dan efektivitas komunikasi Ivan Berkebun; dan ketiga, merumuskan strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu untuk Ivan Berkebun yang menjembatani kesenjangan komunikasi yang teridentifikasi dan menciptakan kondisi bagi peningkatan kesadaran merek dan niat beli. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan informan yang dipilih secara purposif dari tiga kelompok pemangku kepentingan: anggota tim internal, klien sebelumnya, dan calon mitra kolaborasi. Data kualitatif dianalisis melalui analisis tematik yang difasilitasi oleh perangkat lunak NVivo, menghasilkan enam tema utama. Temuan tematik selanjutnya ditriangulasi dengan empat kerangka analisis strategis, Kanvas Model Bisnis Perusahaan Sosial, kerangka VRIO, analisis PESTLE, serta matriks SWOT dan TOWS untuk memberikan landasan diagnostik yang komprehensif bagi perumusan strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu. Temuan mengungkapkan bahwa Ivan Berkebun memiliki proposisi nilai berbasis pengalaman yang kuat dan berbeda, namun kapasitas komunikasinya secara fundamental dibatasi oleh empat hambatan yang saling memperparah: identitas merek yang lemah dan tidak konsisten yang didominasi oleh personal branding, audiens target yang tidak terdefinisi yang menghasilkan pesan yang tidak terarah, pemanfaatan saluran komunikasi digital yang terbatas dan tidak optimal, serta kapasitas organisasi internal yang tidak memadai. Hambatan-hambatan ini secara kolektif menghasilkan paradoks sentral: kemampuan Ivan Berkebun untuk menciptakan nilai sosial dan pengalaman jauh melampaui kemampuannya untuk mengomunikasikan nilai tersebut kepada pasar sasarannya. Sebagai respons, penelitian ini mengusulkan strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu yang ditriangulasi dari temuan tematik, arahan strategis TOWS, dan kesiapan organisasi. Strategi ini mengerahkan lima elemen Komunikasi Pemasaran Terpadu yang saling bergantung, Pemasaran Langsung dan Digital, Periklanan, Hubungan Masyarakat, Promosi Penjualan, dan Penjualan Personal dengan Pemasaran Internal sebagai prasyarat organisasi yang tidak dapat dinegosiasikan bagi seluruh aktivitas komunikasi eksternal. Strategi pesan yang dibedakan untuk segmen bisnis-ke-konsumen dan bisnis-ke-bisnis memastikan relevansi komunikasi di seluruh pasar ganda Ivan Berkebun. Kerangka implementasi enam bulan yang terurut memprioritaskan pembangunan kapasitas internal sebelum pelaksanaan kampanye eksternal. Kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan proses perumusan Komunikasi Pemasaran Terpadu berbasis kasus dalam konteks perusahaan sosial, yang mendasarkan strategi komunikasi pada bukti organisasi empiris daripada resep pemasaran generik. Sebagai penelitian kualitatif studi kasus tunggal, temuan dan kerangka strategis yang dihasilkan bersifat dapat ditransfer secara analitik — bukan direplikasi secara luas — kepada perusahaan sosial kecil yang beroperasi dalam kondisi serupa, yaitu keterbatasan sumber daya, akuntabilitas ganda sosial komersial, dan infrastruktur merek yang belum berkembang di lingkungan pasar berkembang. Kondisi batas transferabilitas mencakup skala organisasi, struktur misi hibrid, dan ketiadaan sistem pemasaran terstruktur yang sudah ada sebelumnya.

2026
👤 Penulis: Oloan Ivan Daniel
🏷️ Pertanian Perkotaan 🏷️ Komunikasi Pemasaran Terpadu 🏷️ Perusahaan Sosial

PENGEMBANGAN KATALIS DENGAN MODIFIKASI FOSFOR UNTUK KONVERSI MINYAK NABATI MENJADI BAHAN BAKAR OKTAN TINGGI

Konsumsi bahan bakar minyak terus mengalami peningkatan, berbanding terbalik dengan cadangan minyak bumi yang terus berkurang setiap tahunnya. Bahan bakar minyak nabati dari sawit adalah salah satu bahan bakar alternatif yang dapat dijadikan bahan bakar oktan tinggi. Katalis yang biasa digunakan untuk perengkahan minyak nabati yaitu HZSM-5 zeolite dikarenakan ukuran porinya yang bersifat selektif (bertindak sebagai penyaring molekul) dan keasaman intrinsiknya yang kuat sehingga dapat mengarahkan produk menjadi fraksi bensin yang berkualitas tinggi. Namun, keasaman yang tinggi juga membuat katalis HZSM-5 dikenal memiliki stabilitas yang rendah dan umur pakai yang pendek. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan katalis HZSM-5 yang berfokus pada peningkatan stabilitas hidrotermal tanpa mengurangi kualitas bahan bakar oktan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan katalis HZSM-5 dengan variasi rasio mol Si/Al (30–80) lalu di modifikasi silikalit-1 dengan variasi rasio mol TPABr/SiO2 (0,2–0,8) metode inti-cangkang dan fosfor dengan variasi rasio mol P/Al (0–1) metode impregnasi basah. Hasil menunjukkan bahwa katalis HZ-30 memiliki perolehan OLP (43,43%) tertinggi, kandungan bensin (90,13%) dan nilai RON (113) yang tinggi. Katalis HZ@Si-0,2 yang memiliki rasio TPABr/SiO2 terendah berhasil membentuk lapisan silikalit-1 yang terbaik dengan perolehan OLP (34,89%), kandungan bensin (84,59%) yang turun signifikan dengan sedikit penurunan RON (108) dan peningkatan pembentukan kokas (10,33%) yang tinggi. Impregnasi fosfor mampu mempertahankan kinerja katalitik katalis dan meningkatkan umur pakai katalis. Katalis HZP-0,5 yang memiliki rasio mol P/Al sebesar 0,5 menunjukkan kinerja katalitik yang terbaik dengan berhasil mempertahankan perolehan OLP (42,06%), kandungan bensin (91,80%), dan nilai RON (112) yang tinggi serta secara signifikan mampu menurunkan pembentukan kokas (2,55%). Selain itu juga, mampu meningkatkan umur pakai katalis dari 8 jam (HZ-30) menjadi 14 jam.

2026
👤 Penulis: Fitri Febriyanti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN KEPATUHAN DI PT INDONESIA INTEGRASI ELEKTRONIKA UNTUK MENINGKATKAN KEPATUHAN ORGANISASI TERHADAP PERATURAN EKSTERNAL

Seiring dengan banyak dan kompleksnya jumlah regulasi eksternal yang harus dipatuhi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam menjalankan bisnisnya, serta dengan adanya perubahan Kementerian BUMN menjadi Badan Pengaturan BUMN serta hadirnya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dimana kedua entitas ini berperan sebagai regulator dan juga pemegang saham BUMN, hal ini memberikan penigkatan risiko kepatuhan untuk BUMN dalam menjalankan perusahaan. PT Indonesia Integrasi Elektronika (nama samaran) telah menjalankan kepatuhan terhadap regulasi eksternal namun masih terfragmentasi di unit kerja masing-masing dan belum adanya peranan pelaksana kepatuhan yang jelas serta belum adanya dokumen dan media yang dapat digunakan untuk dijadikan acuan dalam menerapkan kepatuhan di perusahaan. Berbeda dengan tata kelola perusahaan yang telah memiliki acuan yang jelas yang dirilis oleh pemerintah, kepatuhan belum memiliki acuan kerangka kerja dari pemerintah yang dapat dijadikan sebagai landasan dalam penerapannya. Keadaan ini yang menjadikan pendorong untuk dikembangkannya kerangka kerja kepatuhan yang mengacu pada best practice global, dalam hal ini ISO 37301 Compliance Management System (CMS). Tidak hanya berdiri sendiri, namun CMS ini akan dikombinasikan dengan konsep Enterprise Risk Management (ERM) agar terintegrasi dengan manajemen risiko yang telah berjalan di perusahaan, dan konsep Three-Lines Model (TLM) untuk memperkuat peranan dan kewenangan yang jelas dalam menerapkan kepatuhan di perusahaan. Penelitian ini menggunakan asumsi bahwa penerapan kepatuhan yang efektif tidak hanya berupa ketersediaan dokumen seperti kebijakan dan dokumen pendukung lainnya tetapi harus didukung juga dengan adanya pelaksana yang definitif dan dedicated pada struktur organisasi. Pelaksanaan kepatuhan pun harus berbasis risiko, dapat dipantau dan dievaluasi, serta perlunya budaya kepatuhan yang terinternalisasi kepada setiap insan perusahaan. Selain itu, penetapan indicator kinerja kepatuhan yang berbasis digital menjadi sarana penting untuk mengefektifkan pengawasan dan pengambilan keputusan oleh manajemen perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi kondisi eksisting dari penerapan kepatuhan di perusahaan, menganalisis kesenjangan dengan standard dan konsep yang digunakan, serta merancang kerangka kerja kepatuhan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melaksanakan wawancara kepada personil kunci yang terdiri dari Direksi dan Manajemen Senior, analisis dokumen eksternal dan internal perusahaan yang terkait dengan implementasi kepatuhan, analisis konten, analisis tematik, analisis kesenjangan, dan pattern matching. Hasil dari penelitian ini adalah pengembangan kerangka kerja system manajemen kepatuhan yang mengacu pada ISO 37301 dengan dikombinasikan dengan konsep ERM dan TLM. Penelitian ini juga memberikan usulan solusi bisnis yang dilengkapi dengan tahapan implementasi dan template yang dapat digunakan serta manajemen perubahan yang terstruktur. Dengan begitu, akan meningkatkan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi eksternal, menciptakan nilai tambah, dan meningkatkan kepercayaan bagi pemangku kepentingan. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah yang belum pernah ada sebelumnya yaitu pengembangan kerangka kerja CMS berbasis ISO 37301 yang terintegrasi dengan konsep COSO ERM dan IIA Three-Lines Model serta prinsip tata Kelola perusahaan dan pengendalian internal khususnya dalam konteks perusahaan BUMN. Kerangka kerja sistem manajemen kepatuhan yang dikembangkan tersebut dapat juga diimplementasikan oleh perusahaan lain yang menghadapi tantangan kepatuhan terhadap pemenuhan regulasi eksternal yang serupa.

2026
👤 Penulis: Yoga Alvan Nugraha
🏷️ Manajemen Kepatuhan 🏷️ Iso 37301 Compliance Management System (Cms) 🏷️ Enterprise Risk Management (Erm)
Halaman 97 dari 6754
💬